lognews.co.id, Jakarta — Studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) mengungkap keterkaitan signifikan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory atau daya ingat anak usia sekolah. (15/4/26)
Penelitian berbasis data lokal ini didukung Danone Indonesia dan melibatkan sejumlah pakar gizi nasional, termasuk Nila Djuwita F. Moeloek serta Luciana B. Sutanto.
Temuan Kunci: Gizi Berpengaruh Langsung ke Fungsi Kognitif
IHDC menegaskan bahwa anak dengan kondisi Stunting dan Anemia Defisiensi Besi cenderung mengalami penurunan kemampuan working memory. Fungsi ini krusial dalam proses belajar, seperti memahami instruksi, mengingat informasi, dan menyelesaikan tugas akademik.
Kondisi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kualitas asupan gizi harian anak, terutama kecukupan zat besi dan nutrisi penting lainnya.
Peran Lingkungan dan Intervensi Dini
Ketua Dewan Pembina IHDC, Nila Djuwita F. Moeloek, menekankan bahwa intervensi harus dilakukan sejak dini melalui pendekatan komprehensif—mulai dari keluarga, sekolah, hingga kebijakan publik.
Pendekatan preventif dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan saat kondisi sudah memburuk. Edukasi gizi kepada orang tua dan pembentukan pola makan sehat menjadi kunci utama.
Riset Lokal untuk Kebijakan Lebih Tepat
Sebagai studi berbasis data Indonesia, hasil ini diharapkan menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan penanganan masalah gizi anak secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Executive Director IHDC, Ray Wagiu Basrowi, menyebut bahwa kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk memastikan anak mendapatkan nutrisi optimal.
Penegasan
Temuan ini memperkuat konsensus bahwa masalah gizi tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga perkembangan kognitif anak. Intervensi yang tepat sejak usia dini menjadi faktor penentu kualitas sumber daya manusia di masa depan. (Amri-untuk Indonesia)



