Sunday, 19 April 2026

Zat Besi dan Risiko Stunting pada Anak Jadi Sorotan Ahli

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta — Dokter spesialis anak dan konselor laktasi lulusan Universitas Sebelas Maret, dr. Lucky Yogasatria Sp.A, menyebut kekurangan zat besi dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan stunting pada anak. Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Ia menegaskan stunting tidak disebabkan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang mengganggu pertumbuhan anak.

“Banyaknya begitu, tapi bukan berarti semuanya (anak stunting pasti kekurangan zat besi),” (14/4/2026) kata Lucky.

Menurut dia, dampak stunting dapat terlihat dari gangguan pertumbuhan, seperti kenaikan berat badan yang tidak optimal dan tinggi badan yang berada di bawah standar usia. Ia menekankan periode dua tahun pertama kehidupan menjadi fase kritis yang menentukan tumbuh kembang anak.

Lucky menjelaskan, evaluasi medis diperlukan untuk membedakan kekurangan makronutrien seperti protein dan karbohidrat dengan kekurangan mikronutrien seperti zat besi, zinc, dan vitamin D. Kekurangan mikronutrien disebut sering tidak menunjukkan gejala yang jelas pada awalnya.

“Kalau anak yang kekurangan protein sudah pasti pertumbuhannya tidak oke, anaknya kurus, tapi anak yang kekurangan mikronutrisi kadang-kadang tidak terlalu kelihatan,” (14/4/2026) ujarnya.

Ia menambahkan pemeriksaan kadar zat besi dan nutrisi lain perlu dilakukan sebelum diagnosis ditegakkan. Jika terbukti defisiensi, terapi suplementasi menjadi salah satu langkah penanganan medis.

Lucky juga menyebut kekurangan zat besi dapat berdampak jangka panjang, mulai dari anemia hingga gangguan perkembangan otak dan penurunan fungsi kognitif. Ia menyarankan pemenuhan asupan zat besi dari makanan seperti hati ayam, daging sapi, dan daging ayam, serta perhatian sejak masa kehamilan untuk mencegah risiko anemia pada bayi.

Sejumlah kajian kesehatan di berbagai institusi juga konsisten menyebut bahwa defisiensi zat besi merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk kondisi pertumbuhan anak, terutama bila disertai kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Pemeriksaan dini dan intervensi nutrisi menjadi pendekatan utama dalam pencegahan stunting di berbagai negara berkembang.