Saturday, 16 May 2026

Kenapa Mabuk di Mobil tapi Tidak Saat Naik Motor? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Fenomena mabuk darat masih menjadi keluhan umum bagi banyak orang saat melakukan perjalanan menggunakan mobil, terutama dalam perjalanan jauh atau ketika terjebak kemacetan. Gejalanya dapat berupa mual, pusing, keringat dingin, hingga keinginan muntah yang muncul tiba-tiba selama berada di dalam kendaraan.

Menariknya, tidak sedikit orang yang mudah mabuk saat naik mobil justru merasa nyaman ketika mengendarai atau membonceng sepeda motor. Perbedaan respons tubuh tersebut ternyata berkaitan erat dengan cara otak menerima dan memproses sinyal gerakan dari tubuh serta lingkungan sekitar.

Secara ilmiah, mabuk perjalanan terjadi akibat konflik sensorik antara mata, telinga bagian dalam, dan sistem saraf tubuh. Saat berada di dalam mobil, terutama sebagai penumpang, mata sering kali melihat kondisi kabin yang relatif diam, sementara telinga bagian dalam merasakan adanya gerakan kendaraan. Ketidaksesuaian informasi tersebut membuat otak mengalami kebingungan sehingga memicu rasa mual dan pusing.

Kondisi berbeda terjadi ketika seseorang berada di atas sepeda motor. Pengendara maupun penumpang motor memiliki pandangan yang terbuka langsung ke jalan dan lingkungan sekitar. Mata dapat mengikuti arah gerakan kendaraan, perubahan kecepatan, tikungan, hingga kondisi jalan secara real time. Keselarasan antara apa yang dilihat dan dirasakan tubuh inilah yang membuat otak lebih mudah beradaptasi sehingga risiko mabuk perjalanan menjadi lebih kecil.

Selain faktor visual, paparan udara segar juga berperan penting. Saat naik motor, tubuh terus terkena aliran udara dari luar yang membantu memberikan sensasi segar sekaligus menstimulasi sistem saraf tubuh. Aliran angin tersebut membantu otak memahami bahwa tubuh sedang bergerak aktif di ruang terbuka.

Sebaliknya, kondisi di dalam mobil cenderung lebih tertutup dengan sirkulasi udara terbatas. Aroma pengharum kabin, bau jok, atau udara yang terlalu pengap sering kali memperparah rasa mual, terutama bagi orang yang sensitif terhadap bau tertentu.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah keterlibatan tubuh dalam menjaga keseimbangan. Saat mengendarai atau membonceng motor, tubuh secara otomatis ikut menyesuaikan posisi ketika motor berbelok, mengerem, atau melewati jalan tidak rata. Aktivitas fisik tersebut membuat otak lebih siap mengantisipasi setiap perubahan gerakan kendaraan.

Sementara itu, penumpang mobil cenderung berada dalam posisi pasif dan tidak ikut mengontrol arah gerakan kendaraan. Tubuh hanya menerima guncangan tanpa persiapan sensorik yang cukup, sehingga risiko munculnya mabuk perjalanan menjadi lebih tinggi.

Para ahli kesehatan menyebut kondisi mabuk perjalanan dapat dikurangi dengan beberapa cara sederhana, seperti menjaga pandangan ke arah luar kendaraan, menghindari bermain ponsel saat perjalanan, memastikan sirkulasi udara tetap baik, hingga memilih posisi duduk yang minim guncangan.

Dengan memahami penyebabnya, masyarakat dapat lebih mudah mengantisipasi mabuk perjalanan dan memilih metode perjalanan yang paling nyaman sesuai kondisi tubuh masing-masing. (Amri-untuk Indonesia)