Tuesday, 02 June 2026

Ma’had Al-Zaytun Jadi Pusat Deklarasi Pendidikan Nasional, Kadisdikbud Indramayu Sepakat

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, Caridin, menyatakan dukungannya terhadap gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan berasrama di Indonesia saat menghadiri Simposium Pendidikan Indonesia, Senin, 1 Juni 2026, di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun.

Kegiatan bertajuk “Simposium Pendidikan Indonesia Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama yang Terintegrasi Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan” tersebut merupakan kelanjutan dari Konferensi Pendidikan Indonesia yang berlangsung sehari sebelumnya, Ahad, 31 Mei 2026, di Lantai 5 Gedung Ali Ma’had Al Zaytun.

Dalam momentum yang sangat besar ini terdapat 50 profesor dan akademisi menyepakati sebuah deklarasi besar tentang pentingnya transformasi revolusioner pendidikan nasional melalui pembangunan sistem pendidikan berasrama yang terintegrasi di 500 titik Indonesia Raya Abadi. Gagasan tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk membangun generasi unggul, berkarakter, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan abad ke-21 dan usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Simposium tersebut mempertemukan berbagai profesor, akademisi, tokoh pendidikan, dan unsur pemerintah untuk membahas grand design pendidikan masa depan Indonesia.

 Kadisdikbud Apresiasi Kajian Para Profesor

Dalam keterangannya, Caridin mengaku terkesan dengan berbagai hasil kajian dan gagasan yang disampaikan para profesor terkait arah pendidikan nasional.

“Saya ditugaskan oleh Pak Bupati untuk menghadiri kegiatan Simposium Pendidikan Indonesia. Alhamdulillah, tadi kita melihat berbagai hasil kajian dari para profesor yang sangat bagus sekali untuk mendukung bagaimana pendidikan Indonesia ke depan harus lebih baik,” ujarnya.

caidin

Ia menilai berbagai pemikiran yang disampaikan dalam forum tersebut menjadi masukan penting bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam menghadapi tantangan globalisasi abad ke-21.

Hasil Simposium Akan Disampaikan kepada Bupati

Caridin menegaskan bahwa seluruh hasil diskusi dan gagasan dari forum tersebut akan disampaikan kepada Bupati Indramayu sebagai bahan pertimbangan pengembangan kebijakan pendidikan daerah.

Menurutnya, transformasi pendidikan tidak hanya menjadi kebutuhan daerah tertentu, tetapi merupakan kebutuhan nasional untuk mempersiapkan generasi masa depan Indonesia.

“Ini merupakan hasil kajian dari beberapa profesor perguruan tinggi di Indonesia terkait inovasi dan gagasan kemajuan pendidikan. Tidak hanya penting untuk Indramayu, tetapi juga untuk Indonesia,” katanya.

Pendidikan Berasrama Dinilai Jadi Solusi Tantangan Zaman

Salah satu gagasan utama yang dibahas dalam simposium adalah penguatan pendidikan berasrama berbasis pendekatan L-STEAMS serta pembangunan 500 titik pendidikan di berbagai daerah Indonesia.

Para peserta menilai pendidikan berasrama mampu membentuk karakter, integritas, kepemimpinan, kemandirian, serta memperkuat nilai kebangsaan dalam satu ekosistem pendidikan terpadu.

Caridin menyebut sistem pendidikan berasrama dapat menjadi solusi atas berbagai tantangan pendidikan modern, terutama pengaruh media sosial dan distraksi digital terhadap peserta didik.

“Sekarang banyak tantangan bagi anak-anak, mulai dari media sosial hingga permainan gim yang membuat fokus belajar berkurang. Dengan pendidikan berasrama, pembinaan pendidikan akan lebih terfokus sehingga kualitas pendidikan bisa menjadi lebih baik,” jelasnya.

Konsep Pendidikan Al-Zaytun Dinilai Visioner

Dalam forum tersebut, berbagai profesor dan akademisi juga menilai grand design pendidikan berasrama yang dipraktikkan di Ma’had Al Zaytun memiliki potensi menjadi model pendidikan nasional.

Namun demikian, sejumlah catatan juga disampaikan, mulai dari kebutuhan anggaran, ketersediaan lahan, kualitas tenaga pengajar, integrasi teknologi, hingga pentingnya menjaga keberagaman dan hubungan sosial agar sistem pendidikan tetap inklusif serta relevan diterapkan di berbagai daerah Indonesia.

Caridin menilai konsep pendidikan Al-Zaytun sejalan dengan arah pembangunan pendidikan nasional yang lebih terintegrasi dan visioner.

“Ternyata Al-Zaytun juga memiliki visi yang sejalan dalam memberikan pelayanan pendidikan yang terintegrasi dan visioner,” ungkapnya.

Syaykh Panji Gumilang Soroti Pentingnya Ide Besar Pendidikan

Sorotan utama dalam simposium tersebut datang dari penyampaian Syaykh Al Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang, S.Sos., M.P. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh takut memiliki ide besar dalam bidang pendidikan.

Menurutnya, transformasi revolusioner pendidikan harus diwujudkan melalui sistem pendidikan terpadu berbasis L-STEAMS guna membangun generasi unggul, berintegritas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan manusia harus menjadi prioritas utama bangsa untuk mempercepat pemerataan pendidikan menuju abad ke-22.

Pendidikan untuk Ketahanan Bangsa dan Masa Depan Indonesia

Para peserta simposium sepakat bahwa pendidikan masa depan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga harus mengintegrasikan pendidikan karakter, akhlak, teknologi, sains, lingkungan, pangan, kewirausahaan, hingga toleransi.

Forum tersebut juga menyoroti kondisi Indonesia yang dinilai tengah menghadapi krisis critical thinking, krisis kepemimpinan, dan krisis keberanian. Karena itu, pendidikan berasrama diharapkan mampu menjadi laboratorium ketahanan pangan, pusat inovasi pangan lokal, sekaligus alat pembangunan kecerdasan bangsa.

Selain itu, konsep L-STEAMS disebut perlu menjadi karakteristik pendidikan Indonesia masa kini dan masa depan guna menciptakan generasi yang siap menghadapi perubahan zaman dan tantangan global.

Hasil Simposium Akan Disusun Menjadi Buku Besar Pendidikan

Rangkaian konferensi dan simposium pendidikan ini nantinya akan menghasilkan dokumen besar berupa buku atau bundel gagasan pendidikan nasional yang akan disampaikan kepada Pemerintah Indonesia, baik kepada Presiden RI, legislatif, maupun eksekutif.

Dokumen tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan membangun keberlanjutan bangsa menuju usia 100 tahun kemerdekaan.

Pesan untuk Syaykh Al-Zaytun

Di akhir wawancara, Caridin turut menyampaikan doa dan dukungan kepada pimpinan Al-Zaytun agar terus melanjutkan perjuangan di bidang pendidikan.

“Semoga beliau selalu sehat dan perjuangan pendidikan ini jangan sampai terhenti. Pendidikan harus terus diperjuangkan agar menjadi lebih baik,” pungkasnya.
(Sahil untuk Indonesia)