Tuesday, 05 May 2026

Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Tekanan Global dan Domestik Jadi Pemicu

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dan menembus level psikologis Rp17.400 per dolar AS pada perdagangan pagi. Pelemahan ini menandai level intraday terendah baru, sekaligus mencerminkan tekanan berlapis dari faktor global dan domestik. (5/5/26).

Berdasarkan data perdagangan, rupiah sempat dibuka melemah sebelum turun lebih dalam ke kisaran Rp17.403 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan tekanan jual terhadap mata uang domestik masih kuat di tengah tingginya permintaan dolar.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan fundamental ekonomi nasional. Salah satu pemicunya adalah tingginya harga minyak dunia yang memberi tekanan tambahan terhadap Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih.

Di saat bersamaan, suku bunga acuan Amerika Serikat masih relatif tinggi. Kondisi ini mendorong investor global mengalihkan dana ke aset dolar yang dinilai lebih aman, sehingga memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain faktor global, surplus neraca perdagangan Indonesia dinilai masih positif, namun mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya. Artinya, ekspor masih lebih tinggi dari impor, tetapi selisihnya semakin menyempit sehingga dukungan terhadap rupiah melemah.

Di sisi lain, depresiasi rupiah juga membawa dampak campuran bagi perekonomian. Produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga relatif lebih murah, sehingga berpotensi meningkatkan ekspor dan memperluas lapangan kerja.

Namun sektor yang bergantung pada impor menghadapi tekanan biaya lebih tinggi, terutama energi, pangan impor, mesin industri, dan alat berat. Kenaikan biaya impor berisiko menekan margin usaha dan memicu inflasi domestik.

Situasi ini menempatkan kebijakan moneter pada posisi dilematis. Penurunan suku bunga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi berpotensi memperbesar inflasi. Sebaliknya, kenaikan suku bunga mampu menjaga stabilitas harga, namun dapat memperlambat pertumbuhan dan menekan aktivitas usaha.

Stabilitas rupiah dinilai tidak hanya bergantung pada intervensi pasar oleh bank sentral, tetapi juga koordinasi kebijakan fiskal pemerintah. Kepastian hukum, komunikasi kebijakan yang konsisten, efisiensi pengelolaan utang, serta iklim investasi yang kondusif menjadi faktor penting menjaga kepercayaan publik dan investor.

Tekanan terhadap rupiah saat ini dipandang masih bersifat jangka pendek. Namun tanpa pengelolaan yang hati-hati, volatilitas dapat berkembang menjadi tekanan pasar yang lebih luas.

(Amri-untuk Indonesia)