Friday, 01 May 2026

Ma'had Al-Zaytun Menghidupkan Budaya Bangsa Besar Melalui Dialektika Qabliyah Jumat

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Disarikan dari materi Qabliyah Jumat oleh Ali Aminulloh 

Qabliyah Jumat Al Zaytun Mengetuk Kesadaran: Negeri Lemah Akan Selalu Menjadi Penonton

lognews.co.id, Indramayu, 1 Mei 2026 . Dentang perang yang meletus ribuan kilometer dari tanah air ternyata tidak hanya mengguncang langit Timur Tengah. Ledakannya merambat hingga ke dapur rumah tangga, ke harga energi, ke biaya produksi, ke stabilitas ekonomi, bahkan ke cara sebuah bangsa memandang masa depannya sendiri.

Perang modern tidak lagi sekadar dentuman senjata di garis depan. Ia adalah perang yang menembus batas negara, menembus pasar global, menembus psikologi bangsa-bangsa yang terlalu lama hidup dalam ketergantungan.

Kesadaran itulah yang mengemuka dalam kegiatan Qabliyah Jumat Al Zaytun, Jumat (1/5/2026). Dalam forum yang sarat renungan geopolitik, ekonomi, dan peradaban tersebut, dua pembicara: Ust. Ikhwan Triatmo dan Syaykh A.S. Panji Gumilang, mengajak peserta qabliyah melihat perang Iran bukan sekadar konflik kawasan, melainkan cermin telanjang betapa rapuhnya bangsa yang menggantungkan hidup pada dunia luar.

Ketergantungan Energi: Titik Lemah Bangsa Konsumen

Ust. Ikhwan Triatmo didaulat untuk bercerita pengalaman di New Zealand. Ia mengawali pemaparannya, dengan menyoroti dampak langsung konflik Iran terhadap harga energi dunia.

Menurutnya, gejolak perang segera memukul pasar minyak. Harga yang sebelumnya berada di kisaran kurang dari 2$ terdorong naik tajam menjadi 4$. Konsekuensinya bukan hanya dirasakan negara-negara yang bertikai, tetapi juga negara-negara importir yang ekonominya belum mandiri.

 “Banyak perusahaan kecil langsung terdampak, bahkan sampai gulung tikar. Ini menandakan bahwa mereka sangat tergantung pada dunia luar, khususnya energi,” ujar Ikhwan.

Ketika bahan bakar naik, biaya logistik melonjak, biaya produksi menanjak, dan pelaku usaha kecil menjadi pihak pertama yang limbung.

Ust. Ikhwan kemudian membandingkan Indonesia dengan negara-negara yang telah lama menyiapkan basis produksi dalam negeri, terutama di sektor pangan dan peternakan. Ia mencontohkan bagaimana peternakan modern di New Zealand mampu menangani ribuan ternak hanya ditangani sedikit tenaga kerja. Ini berkat efisiensi teknologi.

“Seribu sapi bisa ditangani dua orang. Sangat efektif. Mengapa biaya tinggi di Indonesia? Karena sistem efisiensi kita belum terbentuk,” paparnya.

Ia juga menyinggung New Zealand sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan dan manajemen produksi terbaik, yang sejak awal menyiapkan sumber daya manusianya agar mampu menopang kemandirian ekonomi.

Perang Modern: Satu Ledakan, Dunia Kalang Kabut

Namun inti kegelisahan pagi itu justru diperdalam oleh Syaykh A.S. Panji Gumilang.

Dengan gaya analisisnya yang tenang namun menghunjam, Syaykh menegaskan bahwa perang pada era sekarang memiliki daya guncang yang jauh berbeda dibanding masa lalu.

“Tahun 1980 Iran perang delapan tahun, tetapi efeknya tidak sejauh sekarang. Tahun sekarang beda. Iran bisa membuat dunia kalang kabut,” tegasnya.

Menurut Syaykh, globalisasi telah menjadikan dunia seperti satu tubuh. Satu luka kecil di satu titik bisa memunculkan demam di seluruh anggota tubuh lainnya.

Indonesia, kata beliau, termasuk salah satu yang sangat terdampak, karena belum sepenuhnya membangun fondasi kemandirian strategis.

Iran dan Pelajaran Perang Asimetris

Bagi Syaykh, yang menarik dari Iran bukan hanya keberaniannya menghadapi tekanan negara-negara digdaya, melainkan kecerdasannya memahami titik lemah lawan.

Beliau lalu menarik analogi Qur’ani tentang Thalut dan Jalut, atau kisah Dawud dan Goliat.

 “Jalut itu besar, tinggi, kuat. Tapi hancur oleh katepel Dawud yang mengenai biji matanya. Itulah perang asimetris: tidak melawan kekuatan lawan di titik terkuatnya, tapi memukul titik lemahnya.”

Iran, menurut beliau, menjalankan model yang serupa. Tidak bergerak membabi buta, tidak menyerang tanpa perhitungan, tetapi menimbang mana hasanah dan mana sayyiah, mana jalan strategis yang paling tepat untuk menghilangkan ancaman.

“Iran itu tidak punya kebiasaan menyerang duluan. Iran selalu diserang duluan,” ujarnya.

Bahkan ketika memenangkan perang dengan Irak, Iran tidak lantas memperluas wilayah. Ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya bukan ekspansi, melainkan menjaga eksistensi dan kehormatan nasional.

Diplomasi Tinggi, Senjata Murah, Ekonomi Tetap Tegak

Syaykh menilai kekuatan Iran bukan hanya pada militernya, tetapi pada kombinasi tiga hal: diplomasi, produksi dalam negeri, dan ketahanan rakyat.

Di tengah ancaman perang, Iran tetap menjalankan hubungan diplomatik aktif dengan banyak negara. Dan ia menjawab tantangan lawannya tidak di negrinya tapi di negeri lain, yaitu Pakistan, Oman, hingga gongnya di Russia.

Sementara di dalam negeri, selain tentara nasional, terdapat kekuatan lain yakni Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menjadi tulang punggung pertahanan strategis.

Ekonominya pun, meski terus dihantam sanksi, tetap bergerak karena basis kekuatan dibangun dari daratan sendiri: pangan sendiri, energi sendiri, industri sendiri, hingga manufaktur persenjataan sendiri.

Syaykh memberi contoh yang membuat peserta termenung:

"Kalau konversi mata uang sangat tinggi, 1 USD sama dengan 1 juta real Iran. Namun bila diukur dengan minyak, satu liter minyak di Iran bisa sangat murah, sama dengan Rp. 500. Padahal mereka juga negara penghasil minyak seperti Indonesia. Bedanya: mereka mandiri.”

Ketika sebuah bangsa memproduksi sendiri kebutuhan pokok dan komponen strategisnya, ia tidak mudah dipermainkan pasar internasional.

“Dalam hal persenjataan, kalau semua beli, komponennya bisa dihilangkan. Kita lumpuh,” tandas beliau.

PBB Diam Saat Iran Diserang

Nada kritik Syaykh semakin tajam ketika menyinggung ketidakadilan politik global.

 “Ketika Iran membalas, PBB mengingatkan. Ketika Iran diserang, PBB diam.”

Kalimat itu meluncur seperti palu. Sebuah sindiran keras bahwa tata dunia modern masih dikendalikan oleh kepentingan negara-negara besar.

Karena itu, menurut beliau, bangsa yang lemah tidak bisa terus berharap pada belas kasih dunia internasional. Yang harus dibangun adalah kemampuan bertahan dengan kaki sendiri.

Dari Iran ke Al Zaytun: Menanam Kesadaran Strategis

Dari geopolitik dunia, Syaykh lalu membawa peserta mendarat pada bumi yang lebih konkret: tanah, pohon, efisiensi, dan gerakan kerja.

Kesadaran strategis, kata beliau, harus dimulai dari penguasaan titik-titik bernilai di masa depan.

Beliau menyinggung kawasan Kuningan, telah dikuasai seluas 116 + 36 hektare yang telah dirancang sebagai lahan gerakan penanaman jangka panjang, untuk komoditas premium.

Maka perlu dibuat target yang jelas. Berapa pohon ditanam per pekan, bagaimana pembabatan lingkungan dilakukan, bagaimana perencanaan lahan disusun. Semuanya harus dihitung.

Ini bukan sekadar bercocok tanam, tetapi latihan berpikir negara: menanam hari ini untuk nilai strategis esok hari.

“Sadar menguasai titik strategis. Satu saat akan meningkat nilainya.”

Syaykh juga menekankan perlunya efisiensi dalam hal-hal kecil: menggunakan kendaraan yang tepat, menekan pemborosan, dan membangun kebiasaan produktif.

Qabliyah Jumat: Dzikir yang Melahirkan Gerak

Menariknya, Syaykh mengaitkan semua itu dengan budaya pembentukan kesadaran kolektif.

Di Iran, katanya, sejak pagi rakyat berkumpul, mendengar pidato, menerima pesan-pesan sosial dan politik. Demikian pula pada komunitas Yahudi, aktivitas pembentukan kesadaran dilakukan terus-menerus.

Di Al Zaytun, pola itu dibangun melalui Qabliyah Jumat, Khutbah Jumat, Dzikir Jumat, dan diskusi Jumat.

Tujuannya bukan ritual kosong.

“Maka disuruh berpikir untuk berbuat sesuatu. Dzikir itu berbuat sesuatu.”

Di titik inilah Qabliyah Jumat bukan hanya forum ceramah, melainkan ruang menempa cara pandang: bahwa ibadah, ilmu, geopolitik, ekonomi, pertanian, dan pertahanan bangsa bukan dunia yang terpisah.

Semuanya bertemu pada satu simpul: kesadaran untuk mandiri.

Bangsa yang Tidak Mandiri Akan Selalu Menjadi Penonton

Pagi itu, perang Iran dibaca bukan sebagai berita luar negeri semata.

Ia dibaca sebagai alarm.

Bahwa bangsa yang tidak menguasai energinya, tidak menguasai pangannya, tidak menguasai industrinya, dan tidak menguasai kesadaran rakyatnya sendiri, akan selalu menjadi penonton yang panik setiap kali dunia berguncang

Sedangkan bangsa yang menanam kemandirian sejak sekarang. Meski perlahan, meski sunyi, akan tetap tegak ketika badai global datang.

Dan Qabliyah Jumat Al Zaytun, sekali lagi, memilih menjadi ruang untuk menyalakan kesadaran itu.

(Amri-untuk Indonesia) Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah