Tuesday, 21 April 2026

UPK PKBM AL ZAYTUN: Ujian yang Menceriakan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)

lognews.co.id, Indramayu - Sabtu pagi, 18 April 2026, suasana di halaman Gedung Bazaar Al Zaytun tampak berbeda dari biasanya. Sejak pagi, warga belajar PKBM Al Zaytun telah memenuhi area dengan wajah-wajah penuh semangat. Hari itu bukan sekadar hari ujian, melainkan hari pembuktian bahwa belajar bisa terasa hidup, menyenangkan, dan membebaskan.

1000364721

Dalam rangkaian Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) Paket C, PKBM Al Zaytun tidak hanya menyelenggarakan ujian tertulis, tetapi juga menghadirkan ujian praktik. Dua mata pelajaran yang diujikan secara langsung adalah PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan) serta Seni Budaya. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Gedung Bazaar, menjadi ruang terbuka bagi ekspresi dan aktualisasi diri warga belajar.

Pagi itu dimulai dengan kegiatan kebugaran bersama. Tawa, gerakan ringan, dan energi positif mengalir di antara peserta. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan ujian praktik olahraga untuk kelas C2, serta ujian praktik Seni Budaya untuk kelas C1. Tidak ada ketegangan berlebihan, yang terasa justru kehangatan dan kebersamaan.

Di sudut lain, Sri Wahyuni tampak sibuk mondar-mandir, menyiapkan perlengkapan ujian. Di sela kesibukannya, seorang warga belajar mendekat sambil berbisik,

“Usth, maaf... kasih bocorannya dong, ujian seni budaya apa saja?”

Sri Wahyuni tersenyum tenang.

“Tenang saja, Bu. Mudah kok. Yang biasa ibu lakukan sehari-hari saja.”

Jawaban sederhana itu seolah meruntuhkan kecemasan. Memang, bagi sebagian warga belajar, kata “ujian” masih identik dengan beban. Ada kekhawatiran tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Namun, pendekatan yang hangat dan membumi membuat suasana berubah perlahan.

1000364712

Ujian praktik Seni Budaya dalam Paket C bukan sekadar penilaian biasa. Ia merupakan penilaian akhir yang mengukur kemampuan psikomotorik, afektif, dan kognitif secara langsung melalui karya dan penampilan seni. Lebih dari itu, ujian ini dirancang untuk memastikan bahwa warga belajar mampu mengaplikasikan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari.

Fokusnya pun tidak lepas dari pemberdayaan potensi seni budaya lokal dan nusantara. Warga belajar diberi kebebasan memilih bidang yang diminati:

- Seni rupa (membuat karya dua atau tiga dimensi)

- Seni musik (menyanyi lagu daerah atau memainkan alat musik)

- Seni menulis (puisi)

- Kerajinan tangan (keterampilan kreatif)

 

Tujuan utamanya jelas: mengasah kreativitas, menumbuhkan apresiasi seni, mendorong ekonomi kreatif, serta melatih keberanian tampil di depan publik.

Tepat pukul 09.00 WIB, Sri Wahyuni memasuki kelas C1. Sebanyak 16 warga belajar telah hadir. Ia tidak langsung memulai ujian, melainkan mengajak berbincang ringan terlebih dahulu: menanyakan kabar, berbagi cerita, bahkan mengingatkan untuk minum agar lebih rileks.

Barulah kemudian ia menjelaskan bahwa materi ujian adalah hal-hal yang sudah dipelajari bersama: lagu daerah (terutama dari Jawa Barat), menulis dan membaca puisi bertema sekolah, hingga membuat karya seni atau kerajinan. Warga belajar dipersilakan memilih sesuai minat.

1000364718

Keputusan ini menjadi titik balik suasana.

“Alhamdulillah, kalau boleh memilih mah... enakan, hehe,” celetuk salah satu peserta.

Bahkan ada yang bersemangat ingin mengambil lebih dari satu tugas.

“Satu saja, Bu, jangan dobel-dobel, nanti yang lain nggak kebagian!” sahut yang lain, disambut tawa bersama.

Ketegangan mencair. Ujian berubah menjadi ruang ekspresi.

Pelaksanaan ujian berlangsung dinamis. Peserta yang memilih seni musik maju satu per satu untuk menyanyi. Begitu pula dengan yang memilih membaca puisi. Suasana semakin hidup saat Sofie, warga belajar termuda berusia 17 tahun, tampil membacakan puisi berjudul “Sekolahku Tercinta”. Dengan suara lantang dan penuh percaya diri, ia berhasil memukau teman-temannya dan mendapat tepuk tangan meriah.

Tak kalah memikat, Siti Rohmah tampil menyanyikan lagu daerah Jawa Barat “Bubuy Bulan”. Suaranya merdu, nadanya tepat, dan penghayatannya terasa.

“Wuih… keren, lagu Sunda ya?”

“Iya… saya kan orang Sunda,” jawabnya sambil tersenyum.

Momen-momen seperti itulah yang membuat ujian terasa berbeda. Tidak ada tekanan berlebihan, yang ada justru kebanggaan dan kebahagiaan.

Ujian praktik ini menjadi bagian penting dalam penilaian akhir Paket C, sekaligus bukti bahwa pendidikan kesetaraan tetap menjunjung mutu. Namun lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa belajar tidak harus menegangkan. Belajar bisa menjadi ruang tumbuh: tempat keberanian, kreativitas, dan jati diri menemukan panggungnya.

Di halaman Bazaar Al Zaytun pagi itu, ujian bukan lagi sesuatu yang ditakuti. Ia berubah menjadi perayaan kecil tentang proses belajar yang manusiawi.

Alhamdulillah (Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah