Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
Pagi itu, langit Gantar tampak bersih, seolah ikut mengiringi langkah-langkah kecil yang penuh makna. Sabtu, 18 April 2026, deru motor para warga belajar (WB) PKBM Al Zaytun memecah kesunyian menuju Tanjung Jaya. Bukan untuk rekreasi, bukan pula sekadar silaturahmi biasa. Ada panggilan hati yang lebih dalam.
Empati
Kabar kepulangan Ust. Wawan dari rumah sakit menjadi alasan yang menggerakkan mereka. Tanpa komando, tanpa undangan resmi, mereka datang. Duduk bersama, bercengkerama hangat, menanyakan kabar kesehatan, dan mendengarkan kisah perjuangan melawan sakit. Tak sekadar bertanya, mereka juga menyimak, mengambil hikmah, dan menyelipkan doa serta harapan agar kesehatan pulih secara paripurna
Namun rupanya, kisah empati itu tidak berhenti di satu rumah. Esok harinya, Ahad, 19 April 2026, rombongan yang sama kembali bergerak. Kali ini menuju kediaman Ust. Suwandi yang baru saja pulang dari rumah sakit di Bandung. Yang datang bukan hanya tutor dan WB, tetapi juga alumni, menyatu dalam satu ikatan yang tak kasat mata
kekeluargaan
Suasana di rumah Ust. Suwandi jauh dari kesan muram. Tawa pecah di sela cerita tentang pengalaman di rumah sakit. Dialog mengalir hidup, seperti diskusi di ruang kelas. Ada yang bertanya, ada yang menyimak, ada pula yang tertawa bersama. Sakit, dalam ruang itu, tidak lagi terasa menakutkan. Ia berubah menjadi pelajaran hidup yang dibagikan dengan penuh keikhlasan
Di tengah suasana itu, Ust. Suwandi menghadirkan sebuah puisi, seolah menjadi jembatan antara rasa sakit dan kekuatan jiwa
LUKA TAK TERSAYAT
Tubuhku terbaring tanpa robekan
Tetapi darah mengalir di permukaan
Perih dari dalam tak tertahankan
Kiranya Tuhan sedang memberiku cobaan
Tiada pisau yang terlihat
Sehingga kulit pun tak tersayat
Luka yang tak dapat dilihat
Laksana mendung terbelah kilat
Hari-hari tak banyak bisa diperbuat
Rutinitas kehidupan terhambat
Waktu yang tiba-tiba melambat
Mungkin fisik sejenak untuk beristirahat
Dalam pikiran yang kalut
Ditengah prahara tanpa ribut
Selalu ada tangan lembut
Dengan wajah teduh laksana kabut
Matanya menyimpan harapan
Yakinkan bahwa ini adalah cobaan
Senyumnya menyulam menguatkan
Merajut perjalanan menuju masa depan
Dari jauh suara-suara terdengar perlahan
Mengalir dalam doa-doa kepada Tuhan
Menjadi cahaya di lorong pemulihan
Menguatkan bahwa ini adalah pilihan
Luka tak harus tersayat
Cinta, doa, dan ketulusan menjadi obat
Bangkit perlahan walau belum terlalu kuat
Perjuangan sepanjang hayat
Puisi itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah refleksi dari apa yang sedang terjadi: bahwa luka tak selalu terlihat, dan penyembuhan tak hanya datang dari obat, tetapi juga dari cinta, doa, dan kebersamaan
Di PKBM Al Zaytun, empati tidak lahir tiba-tiba saat kunjungan dilakukan. Ia sudah tumbuh sejak awal, dalam doa-doa yang dipanjatkan saat kabar sakit terdengar, dalam perhatian yang mengalir tanpa diminta. Inilah wajah pendidikan yang hidup: bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan jiwa
Kisah serupa pernah dirasakan oleh Usth. Nur Rohmah. Saat sakit melemahkan semangatnya, justru kehadiran sahabat-sahabatnya dari tutor, WB, dan alumni PKBM menjadi titik balik. “Teman-teman saja sayang dan perhatian, masa aku tidak mau sembuh,” ungkapnya kala itu. Dan benar, dari sana semangat itu tumbuh, hingga kesehatan kembali pulih

Dari peristiwa-peristiwa ini, tampak jelas satu benang merah: dukungan sosial bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari penyembuhan itu sendiri. Kebersamaan menjadi obat yang tak tertulis dalam resep medis, namun nyata khasiatnya
Inilah yang menjadikan PKBM Al Zaytun bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah ruang hidup yang menghidupkan nilai, sejalan dengan motonya: Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi Perdamaian, Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi
Di sana, sehat bukan hanya urusan tubuh, tetapi juga jiwa. Cerdas bukan hanya soal pikiran, tetapi juga rasa. Dan manusiawi bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam setiap langkah, doa, dan kunjungan penuh cinta di Gantar, pagi itu, empati benar-benar menjadi obat. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



