Sunday, 19 April 2026

Ekonomi Berbasis Nilai Ilahi: Dari Migas sampai Ekonomi Digital

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminulloh  

lognews.co.id, Indramayu - Di tengah pusaran perubahan global, ketika konflik dunia kerap berakar pada perebutan sumber daya, santri tidak dibiarkan menjadi penonton sejarah. Rabu, 15 April 2026, Ma’had Al Zaytun menghadirkan ruang pembelajaran yang mempertemukan nilai ilahiah, realitas geopolitik, dan tantangan ekonomi digital melalui program Bimbingan Terpadu bagi santri kelas XII Aliyah angkatan XXII.

Sesi Nidzam Iqtishad fil Islam (tatanan ekonomi Islam) yang menghadirkan Nara sumber: Syaifuddin, S.I.P., M.Pd., Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., serta Dr. Irvan Iswandi, S.E., M.T., tidak hanya menyuguhkan teori, tetapi juga mengajak santri membaca dunia secara utuh. Dr. Ali Aminulloh membuka cakrawala dengan mengaitkan fenomena global, khususnya ketegangan antara Amerika, Israel, dan Iran, sebagai realitas yang tidak bisa dilepaskan dari motif ekonomi. Migas, sebagai sumber energi vital, menjadi penggerak utama dinamika tersebut. Namun di titik ini, ia mengajak santri kembali pada pandangan Islam bahwa manusia sesungguhnya berserikat dalam tiga hal mendasar: pangan (al-kalla), air (al-ma-a), dan energi (an-naar): sebuah konsep yang menempatkan kepentingan bersama di atas dominasi.

Dari sana, pembahasan mengalir pada relasi antara sistem ekonomi dan ideologi. Kapitalisme tumbuh dari rahim liberalisme, sosialisme lahir dari komunisme, sementara Indonesia melalui Pancasila membangun ekonomi kerakyatan. Islam, dalam hal ini, menawarkan sistem ekonomi yang berakar pada wahyu. Aktivitas ekonomi tidak lagi dipahami semata sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup, melainkan sebagai bagian dari ibadah. Kebutuhan manusia, baik yang bersifat primer, sekunder, maupun tersier, menjadi sarana untuk mendukung tujuan utama penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah.

Dalam kerangka tersebut, prinsip-prinsip ekonomi Islam ditegaskan sebagai fondasi yang tidak boleh terpisahkan dari aktivitas manusia. Kepemilikan hakiki hanyalah milik Allah, sementara manusia hanyalah pemegang amanah. Harta bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk meraih keridhaan-Nya. Alam semesta yang ditundukkan bagi manusia pun bukan untuk dieksploitasi secara serakah, melainkan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Dunia, dengan segala gemerlapnya, diposisikan sebagai jalan, bukan tujuan.

Pendalaman ini kemudian diperkuat oleh Syaifuddin yang menggeser fokus pada posisi santri sebagai human capital dalam peradaban. Santri tidak hanya dilihat sebagai individu pembelajar, tetapi sebagai aset strategis yang memiliki modal sosial, kultural, dan ekonomi. Dalam perspektif ekonomi Islam, potensi manusia tidak ditekan, melainkan diarahkan. Keinginan untuk memiliki, berkuasa, dan mencintai keluarga dipahami sebagai fitrah yang harus disalurkan secara benar. Di sinilah ekonomi Islam hadir sebagai sistem yang menjaga keseimbangan antara dorongan naluriah manusia dan nilai-nilai ilahiah.

Lebih jauh, aktivitas ekonomi dalam Islam tidak boleh terlepas dari akhlak. Nilai-nilai seperti kejujuran, kasih sayang, dan tolong-menolong menjadi ruh yang menghidupkan praktik ekonomi. Sistem ini juga menunjukkan keberpihakannya pada kesejahteraan individu melalui mekanisme berlapis yang dimulai dari tanggung jawab pribadi untuk bekerja, peran negara dalam menyediakan lapangan kerja, dukungan keluarga, hingga intervensi sosial melalui instrumen seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Bahkan dalam kondisi ekstrem, negara memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi. Inilah wajah ekonomi yang tidak hanya rasional, tetapi juga berkeadilan.

Memasuki sesi terakhir, Dr. Irvan Iswandi membawa santri pada realitas yang tak kalah penting: era ekonomi digital. Dunia telah bergerak menuju sistem yang serba digital, di mana aktivitas ekonomi berlangsung melalui platform e-commerce dan layanan keuangan berbasis teknologi. Indonesia sendiri diproyeksikan mencapai nilai transaksi digital hingga 1000 miliar dolar pada tahun 2026, sebuah angka yang menunjukkan betapa besarnya peluang yang terbuka.

Perubahan ini melahirkan berbagai profesi baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Konten kreator, programmer, data analis, hingga wirausahawan digital kini menjadi bagian dari lanskap ekonomi modern. Data bahkan telah menjelma menjadi aset strategis yang menentukan arah kebijakan dan bisnis. Namun di tengah peluang besar tersebut, Dr. Irvan menegaskan bahwa etika tetap menjadi fondasi utama. Kemajuan teknologi tanpa diiringi kejujuran dan tanggung jawab justru dapat melahirkan krisis moral yang lebih dalam.

lognews.co.id foto 13 ali aminullh

Karena itu, santri didorong untuk tidak hanya menguasai keterampilan teknis seperti literasi digital, kemampuan komunikasi, dan inovasi berbasis data, tetapi juga membangun karakter yang kuat. Keberanian untuk memulai, meskipun dari langkah kecil, menjadi kunci penting. Kisah seorang nenek berusia 85 tahun di Jepang yang mampu menciptakan aplikasi digital menjadi simbol bahwa batas bukan terletak pada usia, melainkan pada kemauan untuk belajar dan beradaptasi.

Pada akhirnya, Bimbingan Terpadu ini menghadirkan satu benang merah yang kuat: bahwa ekonomi tidak bisa dipisahkan dari nilai. Di Ma’had Al Zaytun, santri tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja, tetapi juga untuk memaknai setiap aktivitas ekonomi sebagai bagian dari ibadah. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, mereka dibentuk menjadi generasi yang mampu menjembatani wahyu dan realitas, menghadirkan ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga menumbuhkan keberkahan.(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah