Sunday, 19 April 2026

WAJIB KIFAYAH: KETIKA BANGSA MULAI LUPA, SIAPA YANG MENJAGA?

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Latif WH 

lognews.co.id - Wajib kifayah bukan sekadar istilah dalam ajaran. Ia adalah ukuran tanggung jawab kolektif: ketika sebagian lalai, sebagian lain harus berdiri. Jika tidak, seluruhnya menanggung akibat.

Masalahnya, hari ini kita mulai terbiasa dengan kelalaian itu

Ambil contoh yang sering dianggap sederhana namun mendasar: Indonesia Raya 3 stanza.

Lagu kebangsaan yang seharusnya utuh, kini dipersempit hanya menjadi satu bagian. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak lagi dianggap penting.

Ini bukan sekadar soal lagu. Ini soal jati diri. Soal bagaimana sebuah bangsa perlahan mereduksi jati dirinya sendiri.

Lalu pertanyaannya: Jika semua ikut melupakan, siapa yang akan menjaga?

Di tengah arus lupa itu, masih ada yang memilih untuk bertahan. Di lingkungan Al-Zaytun, di bawah tunjuk ajar Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang, Indonesia Raya 3 stanza tetap dikumandangkan.

Bukan untuk berbeda

Tetapi untuk memastikan bahwa yang seharusnya dijaga, tidak benar-benar hilang.

Di sinilah makna wajib kifayah menjadi relevan bahkan mendesak.

Hal yang sama terjadi dalam dunia pendidikan.

Ketika pendidikan belum sepenuhnya menjadi arus utama dan prioritas kebijakan, ketika prioritas sering bergeser pada hal-hal yang lebih terlihat instan hasilnya, masih ada yang memilih jalur sunyi: membangun manusia.

Meski menghadapi tekanan, termasuk persoalan rekening tabungan biaya operasional pendidikan Al-Zaytun yang diblokir dan disita tanpa alasan jelas oleh Bareskrim, langkah itu tidak berhenti.

Karena bagi Al-Zaytun, pendidikan bukan proyek jangka pendek, melainkan fondasi peradaban.

Lebih jauh lagi, di saat pesimisme masyarakat terhadap karut marut tata kelola negara menjadi wacana umum, ada yang tetap menolak menyerah.

 

Syaykh kita harus 1000359958

(Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang saat memberikan tausiyah kepada para guru, dosen dan perwakilan civitas dan pelajar Al-Zaytun) 

Optimisme dan pantang menyerah di Al-Zaytun bukan slogan.

Ia adalah kerja panjang, konsistensi, dan keberanian untuk tetap berjalan ketika banyak yang memilih diam.

Menuju Indonesia Kuat, menuju Indonesia Emas 2045, bukan hanya soal angka dan pembangunan fisik. Tetapi tentang siapa yang masih mau memikul tanggung jawab ketika yang lain melepaskannya.

Karena jika semua menunggu, maka tidak akan ada yang bergerak.

Dan jika tidak ada yang bergerak, maka kegagalan bukan lagi milik sebagian—melainkan milik kita semua.

Pada akhirnya, wajib kifayah bukan tentang siapa yang benar.

Tetapi tentang siapa yang masih mau bertanggung jawab.

Al-Zaytun: Mendidik dan Membangun Semata-mata Hanya untuk Beribadah Kepada Allah. (Amri-untuk Indonesia)