Oleh : Hartono, S.Pd.
lognews.co.id, Indramayu – Di ruang kelas Gedung Ustman Ma’had Al-Zaytun, waktu seakan melambat antara pukul 13.45 hingga 15.30 WIB. Akhir pekan kemarin, Sabtu dan Ahad (14-15 Maret 2026), suasana hening yang khidmat menyelimuti ruangan. Bukan karena sepi, melainkan karena konsentrasi tinggi dari 30 pasang mata yang menatap layar laptop dengan penuh kesungguhan.
Mereka bukanlah mahasiswa muda, melainkan para ibu rumah tangga bahkan beberapa di antaranya telah melewati usia emas 50 tahun. Namun di hadapan perangkat digital, semangat mereka meledak. Inilah potret sukses Gladi Bersih Tes Kemampuan Akademik (TKA) Paket A dan Paket B yang diselenggarakan oleh PKBM Al-Zaytun Indramayu.

Sinergi Kepemimpinan dan Kesiapan Teknis
Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari instruksi terukur Kepala PKBM Al-Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME. Beliau mengamanahkan kepada Sekretaris PKBM, Hartono, S.Pd., M.Pd., beserta tim operator untuk mengkoordinir penuh jalannya gladi bersih ini.
Dalam arahannya, Dr. Ali Aminulloh menekankan bahwa simulasi ini adalah instrumen vital untuk memetakan kekuatan institusi. "Gladi bersih ini harus mampu mengukur kesiapan kita secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur perangkat, stabilitas teknis, hingga kesiapan mental para peserta TKA yang nota bene sudah berusia lanjut," tegas beliau. Amanat ini diterjemahkan dengan apik melalui pengawasan ketat di lapangan, memastikan setiap warga belajar mampu beradaptasi dengan sistem digital tanpa kendala berarti.

Ritual Kebangsaan dan Keteguhan Hati
Acara dimulai 15 menit lebih awal dari jadwal. Suasana berubah magis saat lagu Indonesia Raya 3 Stanza berkumandang, disusul Mars dan Hymne PKBM, serta pembacaan Sapta Janji Darma Bakti. Bagi para warga belajar ini, pendidikan kesetaraan bukan sekadar mengejar selembar ijazah, melainkan bentuk pengabdian dan kemerdekaan berpikir.
Dalam sambutannya, Ustadz Hartono, M.Pd., mengingatkan bahwa TKA adalah cermin dari perjalanan panjang. "TKA ini bukan sekadar tes untuk mengukur kemampuan akademik setelah belajar di kelas, tapi ini adalah manifestasi dari perjuangan Bapak dan Ibu sekalian di tengah kesibukan aktivitas hariannya," ujarnya memberikan motivasi.
Senada dengan itu, Ust. Abdul Karim, S.Mn., M.Pd., mengingatkan pentingnya sertifikat TKA sebagai dokumen pendamping ijazah. "Ini adalah kunci pembuka pintu peluang, baik untuk dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," tambahnya.

Dari Dapur ke Dunia Digital
Sabtu (14/3) menjadi panggung bagi 15 warga belajar Paket B (setara SMP). Mereka bergelut dengan logika Matematika dan ketelitian Bahasa Indonesia. Menggunakan unit laptop yang terintegrasi langsung dengan platform online Disdikbud, para peserta tampak piawai melakukan login hingga submit jawaban.
Keesokan harinya, Ahad (15/3), giliran 15 warga belajar Paket A (setara SD) yang menunjukkan taji. Meski sebagian besar dari mereka disibukkan dengan urusan dapur, cucu, dan rumah tangga, mereka membuktikan bahwa gagap teknologi (gaptek) bisa dikalahkan oleh kemauan keras.
"Sibuk memasak, mencuci, dan mengurus anak itu rutinitas. Tapi menyisihkan dua jam sehari untuk belajar adalah kewajiban bagi saya. Ini bukti bahwa kami juga bisa," ungkap Ibu Fatimah (55), salah satu peserta dengan mata berbinar.

Menuju April yang Gemilang
Tim teknis, proktor, dan pengawas mencatat hasil yang memuaskan: tingkat keberhasilan akses perangkat mencapai 100%. Tidak ada kendala jaringan yang berarti, dan seluruh warga belajar dinyatakan siap menghadapi ujian resmi pada April 2026 mendatang.
Keberhasilan gladi bersih ini bukan sekadar simulasi teknis, melainkan pesan kuat bagi masyarakat: bahwa pendidikan tidak mengenal titik henti. PKBM Al-Zaytun telah menjadi jembatan bagi mereka yang sempat tertunda mimpinya, mengubah hambatan menjadi harapan, dan mengubah ketidaktahuan menjadi kemahiran digital.
Saat hamdalah bergema menutup sesi sore itu, ada rasa optimisme yang membuncah. April nanti, mereka tidak hanya akan membawa kartu ujian, tapi juga membawa martabat seorang pembelajar sejati. Merdeka! (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



