Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME ( Dosen IAI Al-Azis)
lognews.co.id, Indramayu - Ahad pagi di Tirta Gaza, Tanjungjaya Mekarjaya, Gantar, Indramayu, terasa berbeda. Semilir angin dan suasana Ramadhan menghadirkan kehangatan yang tak hanya sekadar silaturrahmi. Di tempat ini, para ibu dari Paguyuban Istri Peduli (PIP) berkumpul bukan hanya untuk rapat rutin, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran baru: bagaimana Ramadhan benar-benar hidup dalam hati, pikiran, dan perilaku.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 15 Maret 2026 itu menjadi ruang pertemuan antara silaturrahmi organisasi, sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), sekaligus Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dosen IAI Al-Azis. Kolaborasi ini menghadirkan dialog yang mempertemukan pengalaman sosial para ibu dengan gagasan intelektual para akademisi.
Evaluasi dan Kepedulian Sosial PIP
Acara diawali dengan rapat evaluasi Paguyuban Istri Peduli. Para penanggung jawab blok satu per satu menyampaikan laporan mengenai kondisi anggota di wilayah masing-masing.
Laporan tersebut meliputi jumlah anggota yang telah bergabung, kondisi pendidikan keluarga, keterlibatan dalam kegiatan pendidikan masyarakat seperti PKBM, hingga kondisi kesehatan para anggota. Tidak hanya itu, kegiatan sosial yang selama ini dijalankan juga dipaparkan, seperti pengumpulan kas beras, menjenguk anggota yang sakit, hingga penyediaan kain kafan sebagai bentuk kepedulian sosial ketika ada warga yang meninggal dunia.
Bidang pendidikan melaporkan berbagai kegiatan Safari Ramadhan yang telah dijalankan. Sementara bidang kesejahteraan menyampaikan program santunan bagi yatim piatu serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Ketua PIP, Sri Wahyuni, S.Pd, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para pengurus dan penanggung jawab blok yang terus bergerak menjalankan berbagai kegiatan sosial dan pendidikan.
“Semoga semua yang kita lakukan menjadi amal kebaikan. Teruslah istiqamah dalam melayani dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya memberi semangat kepada para anggota.
Sosialisasi PMB IAI Al-Azis
Setelah sesi evaluasi organisasi, acara dilanjutkan dengan sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) IAI Al-Azis.
Usth. Dewi Utami, S.Pd., M.Pd bersama Anjar Sulistiyani, S.Pst., M.Sc memaparkan profil kampus, program studi, serta tata cara pendaftaran bagi calon mahasiswa. Mereka menjelaskan bahwa IAI Al-Azis membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat, termasuk para ibu, untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Menurut mereka, kuliah tidak mengenal batas usia. Kampus justru ingin menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
PKM Dosen IAI Al-Azis: Meraih Makna Ramadhan
Bagian paling menggugah dari kegiatan ini adalah sesi Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang menghadirkan dua dosen IAI Al-Azis: Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E dan Iis Humairah, S.Pd., M.Pd.I., M.Pd.
Dalam paparannya yang berjudul “Meraih Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar”, Dr. Ali Aminulloh mengajak peserta melihat kembali makna dua peristiwa besar dalam bulan Ramadhan.
Ia menjelaskan bahwa dalam bulan suci ini terdapat dua momentum penting: Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar.
Nuzulul Qur’an terjadi sekitar lima belas abad yang lalu. Peristiwa turunnya Al-Qur’an tersebut hingga kini diperingati dengan berbagai seremonial keagamaan. Namun, menurut Ali Aminulloh, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah Al-Qur’an benar-benar telah “turun” ke dalam hati, pikiran, dan perilaku kita?
Sementara itu, Lailatul Qadar sering dipahami sebagai malam yang misterius. Banyak orang menunggunya, tetapi tidak sedikit yang menganggapnya sebagai sesuatu yang sulit dijangkau.
Padahal, kata Ali Aminulloh, istilah “qadar/ditakar” sendiri berarti sesuatu yang diperhitungkan. Artinya, malam tersebut bukan sekadar misteri, tetapi bisa diraih melalui proses kesadaran dan usaha.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an turun pada bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 185, sebagai hudā (petunjuk), bayyināt (penjelasan), dan furqān (pembeda antara yang benar dan salah).
Untuk menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan, ia menawarkan tiga langkah penting:
Pertama, tadarus.
Membaca Al-Qur’an dengan lafaz yang benar serta memahami artinya. Dari proses ini seseorang akan memperoleh hudā, yaitu petunjuk hidup.
Kedua, tafakur.
Memikirkan makna ayat-ayat Al-Qur’an dengan menggunakan logika, ilmu pengetahuan, dan pendekatan ilmiah. Dari proses berpikir ini akan lahir bayyināt, yaitu kejelasan dan pemahaman yang terang.
Ketiga, tadabbur.
Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an secara mendalam hingga masuk ke dalam hati dengan landasan iman. Pada tahap ini Al-Qur’an akan menjadi furqān, yakni prinsip hidup yang mewujud dalam sikap dan perilaku.
Menurutnya, bila tiga proses ini dijalankan selama Ramadhan, disertai pengendalian hawa nafsu melalui ibadah puasa, maka akan terjadi perubahan besar dalam diri manusia.
Perubahan itu adalah lahirnya kesadaran, yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut taqwa.
Kesadaran tersebut mencakup tiga dimensi penting:
- kesadaran filosofis, memahami makna hidup;
- kesadaran ekologis, menjaga keseimbangan alam;
- kesadaran sosial, peduli terhadap sesama.
Ketika kesadaran itu muncul, seseorang sesungguhnya telah meraih esensi Lailatul Qadar.
Ramadhan sebagai Bulan Gerakan
Ali Aminulloh juga menekankan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah personal, tetapi juga bulan gerakan.
Pada masa Rasulullah, beberapa peristiwa besar justru terjadi pada bulan Ramadhan, seperti Perang Badar, Perang Tabuk, dan Fathul Makkah.
Perang Badar dimenangkan oleh pasukan kecil berjumlah 313 orang. Perang Tabuk memperlihatkan kekuatan politik umat Islam menghadapi Romawi. Sementara Fathul Makkah menjadi penaklukan tanpa pertumpahan darah.
Menurutnya, peristiwa-peristiwa itu adalah ayat-ayat kauniyah yang harus dibaca dengan pendekatan tadarus, tafakur, dan tadabbur.
Ia kemudian menyinggung contoh kontemporer, yakni ketahanan bangsa Iran yang selama puluhan tahun mengalami embargo ekonomi, politik namun tetap mampu bertahan. Bahkan melalui peristiwa perang dengan Amerika dan Israel yang notabene teknologinya super canggih, menunjukkan Iran adalah negara yang diperhitungkan di kancah internasional.
Dari situ, ia melihat ada tiga faktor utama yang membuat sebuah bangsa kuat.
Pertama, kepemimpinan spiritual yang berlandaskan nilai ilahi, sebagaimana prinsip athi’ullāh, wa athi’ur rasūl, wa ulil amri minkum.
Kedua, pendidikan yang maju, di mana masyarakat didorong untuk terus belajar hingga jenjang tinggi dan menghasilkan berbagai inovasi teknologi.
Ketiga, sistem ekonomi yang menyejahterakan masyarakat, sehingga kebutuhan dasar rakyat dapat terpenuhi.
Ali Aminulloh menegaskan bahwa tiga unsur tersebut sebenarnya juga menjadi nilai yang sedang dibangun di lingkungan pendidikan Al-Zaytun: kepemimpinan spiritual-kharismatik, penguatan pendidikan, dan pembangunan ekonomi melalui koperasi Desa Kota Indonesia.
Seni Menjalani Hidup dengan Kesadaran
Sesi PKM dilanjutkan oleh Iis Humairah, S.Pd., M.Pd.I., M.Pd yang menyampaikan materi tentang “Seni Menjalani Hidup dengan Kesadaran.”
Ia mengajak para peserta untuk memulai kesadaran dari hal paling mendasar: sadar nafas. Dari kesadaran sederhana itu seseorang akan belajar hadir sepenuhnya dalam menjalani kehidupan.
Kesadaran tersebut, menurutnya, akan membantu manusia menjalani hidup dengan lebih tenang, bijak, dan penuh makna.
Inspirasi dari Para Alumni
Kegiatan ini juga menghadirkan kisah inspiratif dari para alumni IAI Al-Azis.
Rabani Nabila Al-Qudsi, alumni HTN, menceritakan pengalaman unik keluarganya yang sama-sama kuliah di IAI Al-Azis, termasuk ayah dan ibunya. Menurutnya, pengalaman belajar bersama keluarga menghadirkan suasana yang lebih hangat dan penuh warna.
Sementara M. Isa Asyrofudin, juga alumni HTN, mengungkapkan bahwa pengalaman belajar di kampus tersebut banyak melatih cara berpikir kritis. Kini ia bahkan dipercaya menjadi dosen di IAI Al-Azis.
Ia pun mengajak para ibu untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan.
Menumbuhkan Kesadaran Diri
Pembina PIP, Khoirun Bilal, SH. menambahkan bahwa kesombongan manusia memiliki dua sisi: intrinsik dan ekstrinsik.
Kesombongan intrinsik sering kali menjadi penghalang terbesar. Ketika seseorang merasa dirinya tidak mampu, maka pikiran itu justru menarik ketidakmampuan tersebut menjadi kenyataan. Yang memelihara ini adalah mewujudkan perilaku syetan.
Karena itu, ia mendorong para anggota PIP untuk terus menumbuhkan keyakinan dan semangat belajar.
Menutup dengan Harapan
Menjelang akhir acara, Suwandi, S.Pd menyampaikan pesan penutup agar seluruh ilmu dan inspirasi yang didapatkan tidak berhenti pada diskusi semata.
Ia mengajak seluruh peserta untuk merealisasikan nilai-nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Namun lebih dari sekadar dokumentasi, pertemuan di Tirta Gaza pagi itu meninggalkan satu pesan kuat: bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, melainkan tentang membangun kesadaran hidup yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih bermakna.(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



