lognews.co.id, Indramayu — Modus penipuan dengan dalih berbagi rezeki di bulan Ramadhan kembali marak. Kali ini, pelaku menyasar pengguna TikTok yang tengah melakukan siaran langsung (live) dengan iming-iming transfer uang melalui bank.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaku masuk ke kolom komentar live dan mengaku ingin berbagi uang kepada kreator maupun penonton. Dengan narasi religius dan momentum Ramadhan, pelaku mencoba membangun kepercayaan korban.
Setelah korban merespons, pelaku kemudian meminta barcode atau kode QR dari aplikasi mobile banking milik korban dengan alasan untuk mempermudah proses transfer.
Namun, alih-alih menerima uang, saldo rekening korban justru terkuras setelah barcode tersebut dikirimkan.
Modus Manipulasi Psikologis
Praktik ini diduga memanfaatkan kelengahan korban yang sedang fokus melakukan live streaming. Pelaku memanfaatkan euforia interaksi publik, dorongan emosional berbagi di bulan suci, serta keinginan kreator meningkatkan engagement.
Secara teknis, barcode atau QR yang diminta pelaku bisa saja mengandung akses pembayaran atau instruksi tertentu yang memungkinkan transaksi terjadi dari sisi korban, bukan dari pelaku. Dalam konteks perbankan digital, kode QR bersifat sensitif dan tidak boleh dibagikan sembarangan, terutama jika berkaitan dengan otorisasi transaksi.
Sasaran Kreator Live
Sejumlah akun TikTok yang sedang live dilaporkan menjadi target. Pelaku biasanya menggunakan akun palsu dengan foto profil meyakinkan dan nama yang menyerupai donatur atau figur dermawan.
Modusnya relatif seragam:
1. Masuk ke live dan mengaku ingin mentransfer uang.
2. Meminta korban mengirimkan barcode/QR.
3. Mengarahkan korban mengikuti instruksi tertentu.
4. Setelah barcode dikirim, saldo korban hilang atau terjadi transaksi tanpa sepengetahuan.
Imbauan Kewaspadaan
Pihak perbankan dan aparat penegak hukum berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak membagikan data sensitif, termasuk PIN, OTP, maupun kode QR yang berkaitan dengan transaksi.
Pengguna media sosial, khususnya kreator yang aktif live di platform seperti TikTok, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap akun yang menawarkan bantuan finansial secara tiba-tiba.
Momentum Ramadhan kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber dengan pendekatan emosional dan religius. Masyarakat diimbau untuk:
Tidak membagikan barcode atau QR perbankan kepada siapa pun.
Tidak mengikuti instruksi transfer atau scan kode dari pihak tidak dikenal.
Segera melapor ke bank jika menemukan transaksi mencurigakan.
Mengarsipkan bukti percakapan untuk kepentingan pelaporan.
Kejahatan siber terus berkembang mengikuti tren digital. Literasi keuangan dan keamanan digital menjadi kunci agar masyarakat tidak menjadi korban penipuan berkedok berbagi rezeki di bulan suci. (Sahil-untuk Indonesia)



