Sunday, 08 February 2026

Dari Kesibukan ke Keseimbangan: Basyaran Sawiyyan dan Martabat Manusia Modern

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminulloh

lognews.co.id - Siang tak pernah benar-benar menjadi siang. Malam pun gagal sepenuhnya menjadi malam. Di zaman modern, kita hidup dalam ironi yang kian terasa namun jarang disadari: kesibukan dipuja, kelelahan dinormalisasi, dan pencapaian dijadikan tolok ukur harga diri. Produktivitas menjadi mantra, sementara manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri. Kita bangga disebut sibuk, tetapi diam-diam rapuh. Kita tidur cukup, namun bangun tanpa daya. Kita beristirahat, tetapi tak pernah benar-benar pulih.

Rested? Sure. Recovered? Not even close.

Paradoks inilah wajah peradaban kontemporer. Dunia bergerak semakin cepat, target kian agresif, ritme hidup semakin padat. Namun di balik semua itu, manusia justru tertinggal dari jati dirinya. Kita lupa bahwa sebelum menjadi pekerja, profesional, atau subjek ekonomi, manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan untuk hidup seimbang.

Basyaran Sawiyyan: Manusia Seimbang sebagai Fitrah

Islam tidak pernah memuliakan manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk bekerja hingga mengorbankan tubuh dan jiwanya. Yang dimuliakan justru basyaran sawiyyan: manusia seimbang, manusia utuh, manusia yang hidup dalam proporsi.

Manusia hebat bukanlah mereka yang terus bekerja tanpa jeda, melainkan mereka yang mampu menata hidupnya: bekerja dengan sungguh-sungguh, mengabdi dengan tanggung jawab, namun tetap memberi hak kepada badan dan jiwa untuk beristirahat.

Petunjuk ilahi menegaskan prinsip keseimbangan ini secara jernih:

“Wa ja‘alnâ an-nahâra ma‘âsyâ, wa ja‘alnâ al-laila libâsâ”(Kami jadikan siang untuk berusaha, dan malam sebagai pakaian) (QS. An-Naba: 10–11).

Ayat ini bukan sekadar deskripsi alam, melainkan etika hidup. Siang adalah ruang ikhtiar dan pengabdian. Malam adalah ruang pemulihan dan perlindungan. Keduanya tidak untuk dipertentangkan, tetapi dipasangkan. Ketika manusia meniadakan salah satunya, ia sedang merusak keseimbangannya sendiri.

Ketika Kesibukan Menjadi Ideologi

Masalahnya, peradaban modern mengajarkan hal yang berlawanan. Kesibukan diperlakukan sebagai kebajikan. Istirahat dicurigai sebagai kemalasan. Manusia diukur dari seberapa padat jadwalnya, bukan seberapa utuh hidupnya.

Istirahat pun direduksi sekadar tidur. Padahal tidur hanyalah satu pintu kecil dari kebutuhan pemulihan manusia yang jauh lebih luas. Inilah sebab mengapa banyak orang tetap lelah meski tidur cukup, tetap gelisah meski libur tersedia, dan tetap hampa meski prestasi bertumpuk.

Tidur Saja Tidak Pernah Cukup

Riset ilmiah mutakhir memperkuat kegelisahan ini. Dr. Saundra Dalton-Smith menunjukkan bahwa manusia membutuhkan tujuh jenis istirahat agar benar-benar pulih. Kelelahan bukan semata persoalan fisik, melainkan fenomena multidimensi yang menyentuh tubuh, pikiran, emosi, relasi, dan spiritualitas.

Tujuh Makna Istirahat dalam Kerangka Basyaran Sawiyyan

Pertama, istirahat fisik.

Tubuh bukan alat sekali pakai. Ia memiliki hak yang harus dipenuhi. Dalam kerangka basyaran sawiyyan, merawat tubuh bukan egoisme, melainkan amanah.

Kedua, istirahat mental.

Pikiran yang terus dipaksa bekerja kehilangan kejernihan. Manusia seimbang tahu kapan berpikir keras dan kapan memberi jeda agar akal kembali sehat.

Ketiga, istirahat sensorik.

Dunia modern terlalu bising dan menyilaukan. Mengistirahatkan indra adalah upaya menjaga kepekaan rasa agar manusia tidak tumpul secara batin.

Keempat, istirahat kreatif.

Inspirasi lahir dari ruang sunyi, keindahan, dan rasa takjub. Manusia seimbang tidak memeras pikirannya terus-menerus, tetapi membiarkannya bernapas.

Kelima, istirahat emosional.

Terus menjadi kuat dan menanggung beban orang lain tanpa jeda adalah jalan menuju kelelahan jiwa. Kejujuran emosional adalah bagian dari kemanusiaan.

Keenam, istirahat sosial.

Tidak semua relasi menyehatkan. Manusia seimbang mampu menjaga jarak dari hubungan yang menguras dan mendekat pada yang menumbuhkan.

Ketujuh, istirahat spiritual.

Inilah poros keseimbangan. Ketika manusia terhubung dengan makna dan tujuan hidup, kelelahan tidak lagi menghancurkan, melainkan menjadi bagian dari proses pendewasaan.

Ketujuh makna ini menunjukkan bahwa kelelahan massal yang kita alami hari ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan tanda ketidakseimbangan peradaban.

Kesehatan sebagai Fondasi Masyarakat Manusiawi

Dalam konteks inilah visi Ma’had Al Zaytun menemukan relevansinya yang mendalam: pusat pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi.

Kata sehat diletakkan di depan, sebab tanpa manusia yang sehat dan seimbang, toleransi dan perdamaian hanya menjadi slogan.

Masyarakat yang sehat melahirkan emosi stabil, pikiran jernih, dan relasi yang beradab. Sebaliknya, masyarakat yang lelah mudah terpolarisasi, mudah tersulut, dan mudah kehilangan empati.

Trilogi Kesadaran dan Etika Keseimbangan

Gagasan trilogi kesadaran Syaykh Al Zaytun (kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial) mempertegas bahwa keseimbangan adalah hukum kehidupan.

Kesadaran filosofis mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produksi.

Kesadaran ekologis menegaskan bahwa alam pun memiliki ritme kerja dan rehat.

Kesadaran sosial menunjukkan bahwa manusia lelah sulit berlaku adil dan manusiawi.

Istirahat, dengan demikian, bukan sekadar hak personal, melainkan tanggung jawab peradaban.

Pancasila dan Martabat Manusia

Pancasila, khususnya sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, menuntut pengakuan atas martabat manusia secara utuh. Memanusiakan manusia berarti mengakui hak tubuh dan jiwa untuk hidup seimbang.

Dalam semangat itu, moto Politeknik Tanah Air "menanam kesadaran, menumbuhkan kemanusiaan" menemukan maknanya. Kesadaran akan keseimbangan melahirkan manusia yang lebih sehat, jernih, dan berbelas kasih.

Epilog: Kembali ke Keseimbangan

Sudah waktunya kita berhenti memuliakan kelelahan.

Manusia hebat bukanlah mereka yang mengorbankan seluruh waktunya untuk bekerja, melainkan mereka yang mampu hidup sebagai basyaran sawiyyan: bekerja dengan tanggung jawab, mengabdi dengan ketulusan, dan beristirahat sebagai hak badan dan jiwa.

Dunia tidak membutuhkan pahlawan yang hangus oleh ambisi. Dunia membutuhkan manusia seimbang: sehat, jernih, dan manusiawi.

Sebab merawat diri bukanlah kemunduran. Ia adalah cara paling jujur untuk menjaga martabat manusia modern. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah