Sunday, 08 February 2026

Ironi Di Negeri Miskin Keteladanan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh: Latief WeHa

Edisi: Menanam Kesadaran Menumbuhkan Kemanusiaan

lognews.co.id - Seorang pemimpin pada hakikatnya adalah cermin bagi rakyatnya. Dari ucapannya, sikapnya, hingga keputusan-keputusannya, semua menjadi rujukan. 

Ketika kata dan perbuatan berjalan seiring, kepercayaan tumbuh. Namun ketika keduanya berseberangan, yang lahir hanyalah ironi—dan ironi itulah yang kerap kita saksikan di negeri yang miskin keteladanan.

Kita sering mendengar nasihat tentang moral, kedisiplinan, dan pengorbanan, tetapi nasihat itu hampa karena tak disertai contoh nyata. 

Seperti seorang guru yang melarang muridnya merokok, namun dengan santainya menghembuskan asap rokok tebal di hadapan mereka. 

Larangan berubah menjadi lelucon, nasihat menjelma kemunafikan. Murid pun belajar satu hal: kata-kata tak perlu ditaati, cukup didengarkan lalu dilupakan.

Begitulah ketika pemimpin kehilangan keteladanan. Aturan dibuat, tetapi dilanggar oleh pembuatnya sendiri. 

Rakyat diminta patuh, sementara pemimpinnya abai. Maka jangan heran jika kepercayaan runtuh dan moral ikut rapuh. 

Sebab sebuah bangsa tidak runtuh karena kurangnya aturan, melainkan karena langkanya contoh yang pantas diteladani. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah