lognews.co.id | SUBANG – Tridjaya Group resmi meluncurkan lini bisnis kedelapannya, Tridjaya Tani Solusi Alsintan Modern, melalui kegiatan soft opening yang digelar di Pagaden, Kabupaten Subang, Sabtu (25/7/2026). Kehadiran Tridjaya Tani diharapkan menjadi solusi bagi petani dalam memperoleh alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan skema pembiayaan yang mudah, terjangkau, dan sesuai dengan musim tanam.
Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi, Owner Tridjaya Group Setiawan Wijaya yang akrab disapa Koh Iwan, serta sejumlah tamu undangan, di antaranya Primurhadi dari Koperasi Kodeko Indramayu.
Dalam sambutannya, Koh Iwan menjelaskan bahwa Tridjaya Tani merupakan lini bisnis kedelapan Tridjaya Group yang telah berdiri selama 16 tahun. Selama ini Tridjaya dikenal sebagai perusahaan dengan berbagai lini usaha yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di Jawa Barat dengan total 16 cabang.
Menurutnya, kehadiran Tridjaya Tani merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui mekanisasi pertanian.
"Kami ingin membantu petani agar yang biasanya panen dua kali dalam setahun bisa meningkat menjadi tiga kali melalui mekanisasi pertanian. Kami menyediakan berbagai kebutuhan alsintan mulai dari traktor, combine harvester, pompa air, mesin penggilingan padi, genset hingga peralatan pertanian lainnya agar petani semakin maju dan sejahtera," ujar Koh Iwan.
Ia mengatakan, kebutuhan mekanisasi pertanian semakin meningkat seiring berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian. Karena itu, Tridjaya Tani menghadirkan solusi pembiayaan yang memudahkan petani memiliki alsintan sendiri tanpa harus membeli secara tunai.
Hadirkan Program YARNEN dan Kredit Musiman
Melalui Tridjaya Tani, petani dapat menikmati berbagai program unggulan, di antaranya DP 0 persen, harga lebih hemat hingga Rp3 juta-Rp5 juta, program YARNEN (Bayar Saat Panen), serta fasilitas kredit musiman yang disesuaikan dengan siklus panen.Koh Iwan menjelaskan, skema tersebut dirancang agar angsuran alsintan dapat ditutupi dari hasil usaha petani.
"Selama ini petani menyewa traktor atau combine. Padahal setelah dihitung, biaya angsuran justru lebih murah dibanding biaya sewa. Bahkan alsintan yang dimiliki bisa disewakan kembali sehingga menjadi tambahan penghasilan bagi petani," jelasnya.
Ia menambahkan, Tridjaya Tani bekerja sama dengan berbagai lembaga pembiayaan untuk mempermudah akses kredit bagi petani, kelompok tani (Gapoktan), koperasi, hingga pelaku usaha pertanian di berbagai daerah.
Wabup Subang: Mekanisasi Menjadi Kebutuhan Petani
Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi mengapresiasi kehadiran Tridjaya Tani yang dinilai mampu menjawab kebutuhan petani terhadap alsintan modern.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Subang kami mengucapkan terima kasih atas hadirnya Tridjaya Tani. Program seperti YARNEN dan kredit musiman akan sangat membantu petani untuk memiliki alsintan sehingga proses produksi pertanian menjadi lebih cepat dan efisien," ujarnya.
Menurut Agus, mekanisasi pertanian sudah menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi petani kecil yang selama ini masih mengandalkan penyewaan alat karena keterbatasan modal.
"Kalau biaya mencicil lebih murah daripada menyewa, tentu masyarakat akan lebih memilih memiliki alat sendiri. Ini menjadi solusi yang sangat baik bagi petani," katanya.
Agus juga mengungkapkan, Kabupaten Subang saat ini merupakan daerah penghasil padi terbesar ketiga di Indonesia setelah Indramayu dan Karawang. Namun luas lahan sawah di Subang terus mengalami penurunan, dari sekitar 85 ribu hektare menjadi sekitar 70 ribu hektare.Karena itu, selain mencetak lahan baru, Pemerintah Kabupaten Subang terus mendorong intensifikasi pertanian melalui mekanisasi, mulai dari pengolahan lahan, panen hingga pascapanen agar produktivitas tetap meningkat.
"Kami berharap kehadiran Tridjaya Tani menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mempertahankan Subang sebagai salah satu lumbung padi nasional," ungkapnya.
Dorong Kolaborasi Pentahelix
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media melalui konsep pentahelix untuk mempercepat pembangunan sektor pertanian.Menurutnya, sinergi seluruh pihak menjadi kunci dalam mewujudkan pertanian modern sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
Kodeko Ajak Perusahaan Salurkan CSR bagi Petani
Sementara itu, Primurhadi dari Koperasi Kodeko Indramayu menyampaikan dukungannya terhadap hadirnya Tridjaya Tani. Menurutnya, modernisasi pertanian harus didukung seluruh elemen, termasuk dunia usaha.
Ia mengajak perusahaan-perusahaan besar agar mengalokasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu penyediaan alat dan mesin pertanian bagi petani.
"Petani kaya, negara kuat. Kami berharap perusahaan-perusahaan yang sudah maju dapat menyalurkan CSR untuk membantu penyediaan alsintan sehingga petani, khususnya di Indramayu sebagai salah satu lumbung padi nasional, semakin sejahtera dan mampu meningkatkan produksi pangan," ujarnya.
Dengan hadirnya Tridjaya Tani, diharapkan akses petani terhadap teknologi dan alsintan modern semakin terbuka. Melalui inovasi pembiayaan seperti YARNEN (Bayar Saat Panen) dan kredit musiman, Tridjaya Tani optimistis dapat mendorong percepatan mekanisasi pertanian, meningkatkan produktivitas, serta mendukung ketahanan pangan nasional.(Indah-Untuk Indonesia Raya Abadi)



