Oleh : H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan
Puasa di bulan Ramadlan 1455 H segera meninggalkan kita tentu dalam konteks penguasa politik bukan sekedar kewajiban "syar'i" (syari'at) lebih dari itu adalah "methode ilahiyah" mengajarkan kita cara "menahan diri" di kala mampu, saat dalam posisi kekuasaan politik.
Dalam perspektif tafsir "sufistik" Prof Abdul Hadi WM, redaksi ayat "ya ayyuhal ladzina amanu kutiba 'alaikum syiam", diwajibkan atas kalian berpuasa tapi tidak disebutkan eksplisit dalam ayat tersebut "siapa yang mewajibkan" mengandung makna berpuasa hakekatnya adalah "kebutuhan manusia" sendiri tanpa "diwajibkan" sekalipun.
Dengan kata lain, selama Romadlan kita bukan tidak mampu "makan di siang hari.dan lain lain yang membatalkan puasa" tetapi itulah cara menjaga metabolisme tubuh dan kesehatan mental untuk "menahan diri" tidak "rakus" dan berlebih lebihan menikmatinya. Itulah "spiritualitas" puasa.
Akhir Ramadlan 1445 H dalam konteks politik harus menjadi sebuah renungan jalan spritual atas apa yang disebut George Orwill "binatangisme politik", mencegah kekuasaan politik tidak berwatak rakus dan berprilaku koruptif sejak dari desain kebijakan politik.
Terlebih akhir akhir ini penguasa politik di level manapun cenderung berwatak politik "gentong babi", yakni cenderung "attakatsur", bermuslihat melampaui batas kewenangan yang dimilikinya.
Bernafsu kotor hendak menguasai pikiran rakyat dengan kuasa ancaman dan dalam praktek birokrasi dipersulit pihak pihak manapun yang diandaikan berpotensi menjadi rival politiknya.
Lord Action, sejarawan moralis Inggis (1887) mengingatkan bahwa watak dasar kekuasaan selalu "power tens to corrupt, absolute power corrupts absolutely", kekuasaan cenderung koruptif makin besar kuasanya makin gila gilaan watak dan perilaku koruptifnya.
Tetapi sejarah politik modern berkali kali memberi kesaksian betapa banyak penguasa berwatak "at takatsur", sewenang wenang dan ego sentris mempercepat jalan ke "maqobir", ke jurang "kuburan", mengakhiri karier politik secara Nesta, nestapa dan tragis.
Penguasa yang dulu dipuja puja dan di back up kekuatan "beton politik" lalu dengan mudah tersungkur dihujat rakyatnya sendiri justru karena alpa "berpuasa", tidak membatasi diri dari politik "At takastur", rakus.
Itulah sedikit renungan akhir Ramadlan 1445 H bagi kita semua di level kekuasaan apapun dan dalam konteks cakupan apapun bahwa "spiritualitas" puasa harus menjadi "driver" bagi rentang kendali kekuasaan.
Perilaku penguasa politik yang berlebih lebihan, tidak kuasa "puasa" menahan diri bukan saja daya rusaknya sangat dahsyat bagi maslahat publik tapi penguasa bersangkutan pun justru mempercepat tersungkur dari "istana" kekuasaannya.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H, semoga kita meraih kemenangan lahir batin.
Wassalam.



