Oleh. : H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan.
lognews.co.id - Para pengamat politik membaca kemungkinan PKB akan merapat ke koalisi "pemerintahan" Prabowo dengan jatah portofolio kementerian strategis kepada Gus Muhaimin, ketua umum PKB tapi podcast "bocor Alus" majalah "tempo" memberi "bocoran" lain.
Pendekatan politik Gus Muhaimin ke Prabowo menurut podcast "bocor Alus" tersebut (25/3/2024) tidak sekedar soal "jatah kabinet" lebih dari itu terkait "deal deal" politik Gus Muhaimin untuk maju dalam Pilgub Jawa timur, November 2024, beberapa bulan ke depan.
Jika "deal" PKB dan Gerindra dalam proyeksi memajukan Gus Muhaimin dalam Pilgub Jatim 2024 "clear" tentu bidak catur politik Gus Muhaimin ini bisa "mengunci" langkah politik Gus Ipul dan Khofifah, dua tokoh NU lain di Jatim di mana keduanya berpotensi maju kembali dalam Pilgub Jatim 2024.
Di sisi lain opsi kendaraan politik lain bagi Gus Ipul dan Khofifah makin sempit ruangnya untuk diterima PDIP, partai terbesar kedua di Jatim, akibat keberpihakan kedua tokoh NU di atas terlalu vulgar ke Paslon 02, rival utama Paslon 03 yang di back up PDIP.
Gus Muhaimin paham betul bahwa "pemerintahan" Prabowo membutuhkan PKB bukan sekedar PKB tak mungkin tergantikan posisi politiknya di parlemen oleh PBNU lebih dari itu dalam sejarah politik di Indonesia rezim politik manapun mustahil "abai" pada representasi politik mayoritas Islam moderat di Indonesia.
Karena itulah Gus Muhaimin meletakkan "kerjasama" politik dengan Prabowo (jika benar liputan majalah "tempo" di atas) agak "lebih mahal", tidak sekedar urusan "jatah menteri" PKB melainkan plus diproyeksikan dalam kerjasama koalisi politik untuk gus Muhaimin maju dalam Pilgub Jatim 2024.
Jabatan menteri tidak "sexi" bagi Gus Muhaimin dalam posisinya sebagai ketua umum PKB, bersifat "teknis" dan berkedudukan "pembantu" Presiden, tidak strategis kecuali penting untuk sejumlah kader kader PKB di bawah otoritas politik Gus Muhaimin.
Tentu berbeda dengan jabatan Gubernur Jatim yang diincar Gus Muhaimin jelas "fully politics", jabatan full politis, bukan "bawahan" presiden. Eksistensinya sebagai politisi teraktualisasi di ruang ruang publik. Representatif secara politik dan legitimated secara sosial.
Itulah langkah bidak catur politik Gus Muhaimin pasca pilpres 2024 yang baru diikutinya. Prof Syafie Ma'arif (alm), mantan ketua umum PP Muhammadiyah, menyebut Gus muhaimin "the real politician", sosok politisi "risk taker" (punya nyali), zig zag di luar frame pikiran publik dan cenderung "mengagetkan".
Dalam konteks ini penulis teringat tulisan testimoni Gus Yahya (kini ketua umum PBNU) tentang Gus Muhaimin menurutnya "Muhaimin susah dimatikan sekencang apapun badai sejarah membanting bantingnya" ("terong gosong", 21 Oktober 2021).
Mari kita tunggu ke mana ujung rivalitas ketiga tokoh politik NU (Gus Muhaimin, Gus Ipul dan Mbak khafifah) di atas. Ketiganya sama sama "ber sanad" politik dan mewarisi "cara main" politik Gus Dur dari jarak sangat dekat.
Wassalam.



