Oleh : H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan
Dari sisi "pra syarat" politik Partai Golkar Indramayu sangat memadai untuk merebut "pendopo" dan bisa "balik maning meng golkar' lewat kontestasi "legal" pilkada 27 November 2024, beberapa bulan mendatang.
Pra syarat politik yang dimaksud di atas merujuk standar politik Jeffry Wonters, pemikir politik kontemporer adalah "political of mind" (politik gagasan), "political behaveor" (ekosistem politik) dan "skill politics" (ketrampilan dan teknokrasi politik).
Itulah kekuatan "gestur" politik partai Golkar hingga saat ini terus terang terbilang di atas "rata rata" partai partai politik lain sebagai institusi dan infrastuktur politik modern dalam relasi politik kekuasaan.
Partai Golkar memiliki rekam jejak panjang dalam skill teknokrasi politik kekuasaan, adaptif dalam dinamika politik gagasan dan posisi politik "tengah", yakni politik kekaryaan, sebuah titik simpul keragaman "politik aliran" yang berhimpun di dalamnya
Dengan kata lain meskipun partai Golkar Indramayu "turun" secara elektoral dan raihan kursi DPRD dalam pileg 2024 tapi dengan "DNA" politik sangat kuat dalam perebutan kekuasaan secara peluang untuk merebut kembali "pendopo" dalam pilkada 2024 jalan sangat "terbuka lebar".
Dalam teori "kandidasi" politik Richard Mayland kekuatan partai Golkar di atas harus diletakkan dalam konstruksi tahapan seleksi calon dalam bingkai koalisi partai yang "nyambung" dengan trend perilaku pemilih secara "resiprokal", bersifat timbal balik dan saling memantul secara elektoral.
Di sini partai Golkar penting segera.merancang bangun desain "political winning strategies", strategi jalan memenangkan pilkada 2024, yakni mendesain seleksi "calon" dan pilihan spektrum "warna" koalisi politik di sisa waktu 4 bulan menuju pendaftaran ke KPUD bulan Agustus 2024.
Kemampuan "link and match" partai Golkar antara ketrampilan politik dan intelektual politik akan membuka ruang ruang "kompromi maksimal" di antara faksi faksi politik di internal partai Golkar dalam mencapai "target bersama" memenangkan pilkada 2024.
Ini sebuah pertaruhan bagi masa depan partai Golkar Indramayu pasca "di take over" PDIP melalui proses "legal" pilkada 2020 hingga menjadi "sebab" turunnya elektoral dan jumlah kursi DPRD partai Golkar Indramayu sangat signifikan pada pileg 2024.
Karena itu jika gagal merebut "pendopo" untuk "balik maning meng Golkar" dalam kontestasi "konstitusional" pilkada 2024 resikonya jelas pertaruhan bagi masa depan partai Golkar Indramayu.
Pengalaman anjloknya raihan partai Golkar Indramayu dalam pileg 2024 kemarin, bisa terulang "lebih dalam" lagi dalam pileg 2029.
Wassalam.



