Saturday, 25 April 2026

MUNGKINKAH DUET DEWA DAN H. SAEFUDIN?

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : H. Adlan Daie

Analis politik elektoral dan sosial keagamaan.
 
lognews.co.id - Dalam standart "sipil politik" modern kontestasi politik elektoral tak terkecuali pilkada Indramayu 2024 harus dimaknai tidak sekedar kontestasi "elektoral" tapi plus "moral", tidak sekedar "kuantitatif" tapi plus "kualitatif", tidak sekedar kemenangan "angka" melainkan plus "etika", tidak sekedar piawai main "siasat" tapi plus tebar "maslahat".
 
Dalam konteks kualifikasi di atas itulah "duet" H. Dedi Wahidi (dengan inisial panggilan "Dewa") sebagai tokoh sentral PKB Indramayu dan H. Saefudin (ketua DPD Golkar Indramayu) adalah salah satu "duet" politik relatif "paling" mendekati standart kualifikasi di atas.
 
Artinya keduanya layak diikhtiarkan untuk "diduetkan" karena memenuhi "syarat" politik (kursi DPRD) dan "rukun" politik (memiliki basis elektoral), bahkan dengan variabel "sunnah sunnah" politik nya, yakni pengaruh politik dan simpul simpul pergaulan politik lintas segmentasi demografis.
 
Pengalaman jabatan politik keduanya lebih dari memadai, kematangan berdemokrasi tak diragukan, ketangguhan mental politik sudah teruji, mengerti "jeroan" birokrasi mana yang "nakal" dan "lurus" dan mampu menggerakkannya ke ruang "maslahat" bukan kerja "siasat".
 
Itulah jawaban terbuka penulis atas pertanyaan sejumlah kawan sebagaimana pertanyaan dalam judul tulisan di atas pasca beredarnya photo "duet" dua politisi di atas dalam satu "bingkai politik" di platform media sosial, bahkan seorang petinggi DPP PKB menanyakan kepada penulis proyeksi kemungkinannya.
 
Persoalan kemungkinan "menduetkan" dua figur politisi tersebut merujuk diktum politik klasik Otto Van Bismoch, politisi Jerman bersatu abad ke 19 bahwa "politics is the art off the possible", politik adalah ruang seni mengelola kemungkinan.
 
Di Indonesia tak terkecuali di Indramayu ruang kemungkinan politik melintasi batas "ideologis", lintas gender, lintas demografi politik. Ringkasnya tidak ada yang tidak mungkin dalam politik. Momentum politik bisa memisahkan sekaligus dapat mempertemukannya.
 
Dalam spektrum politik yang lebih luas sesungguhnya spirit pertanyaan dalam judul di atas bukan sekedar bagaimana menduetkan dua figur politik tersebut tapi bagaimana momentum pilkada Indramayu 2024 dapat melahirkan pemimpin dengan kualifikasi mendekati "syarat' dan "rukun" politik di atas.
 
Kualifikasi pemimpin tidak boleh ibarat pepatah lama "tak ada rotan akar pun jadi", tapi bagaimana pemimpin kualitas "rotan" harus dilahirkan dalam kontestasi politik yang "mahal" dibiayai dari pajak rakyat.
 
Peradaban politik kita di masa depan harus "naik kelas" meninggalkan "legacy" dan "uswatun hasanah" bagi kehidupan generasi berikutnya. 
 
Itulah "amal jariyah" politik kita. 
 
Wassalam.