Oleh : H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan
lognews.co.id, Pernyataan keras Gus Ipul agar "PKB kembali ke jalan yang benar" untuk menerima hasil pemilu 2024 dan respon balik tak kalah kerasnya dari Gus Imin dengan menyebut Gus Ipul hanya "makelar", sebuah diksi politik "kasar" dalam tradisi komunikasi NU -; menandai makin kerasnya rivalitas DPP PKB versus PBNU.
Rivalitas itulah yang menimbulkan spekulasi politik di ruang publik apakah rivalitas yang makin vulgar di atas fenomena pra kondisi dalam perebutan "kursi" ketua umum PKB dalam Muktamar (reguler) PKB pada Agustus 2024 atau ke mana ujung akhir dari rivalitas kedua "Gus" di atas.
Dalam "bocor Alus", sebuah media "podcast" majalah "Tempo" terbaru disebutkan ada perbedaan antara "faksi" politik Prabowo dan faksi politik Jokowi tentang urgensi menarik PKB masuk dalam koalisi pemerintahan Prabowo Gibran.
"Arus besar" faksi politik Prabowo tidak menghendaki PKB masuk ke koalisi pemerintahan Prabowo. Selain dulu "dianggap" mengkhianati keluar dari koalisi Prabowo juga mayoritas koalisi partai pengusung Prabowo resisten atau "menolak" masuknya PKB.
Sementara di sisi lain faksi politik Jokowi tetap menghendaki PKB masuk dalam koalisi pemerintahan Prabowo Gibran. Pasalnya pemerintahan Prabowo memerlukan representasi politik "hijau" (Islam) dalam menjaga stabilitas politik.
Tapi catatannya menurut faksi politik Jokowi adalah harus ada proses "pergantian" pucuk pimpinan PKB dari Gus Imin yang telah memegang kendali PKB selama 19 tahun sejak Muktamar PKB di Semarang tahun 2005.
Dalam konteks politik terakhir inilah majalah "Tempo" membaca kemungkinan "operasi politik" penguasa dalam proses penggantian "nakhoda" baru PKB pengganti Gus Imin.
Problemnya jika benar analisis majalah "Tempo" di atas tentang kemungkinan faksi politik Jokowi hendak "take over" PKB dari Gus Imin tentu tidak mudah "membongkar" soliditas struktural PKB di bawah kepemimpinan Gus Imin.
Mendorong Gus Ipul pun misalnya menjadi ketua umum PKB pengganti Gus Imin hanya meninggalkan "luka mendalam" bagi para "loyalis" Gus imin. Ini tentu akan berdampak bagi performa PKB dalam dinamika politik ke depan, dinamika konflik internal akan sangat panjang.
Mari kita tunggu ke mana ujung dari rivalitas politik Gus Imin dan Gus Ipul, dua keponakan Gus Dur sama sama mewarisi "cara main" politik Gus Dur dari dekat
Wassalam



