Oleh : H. Adlan Daie
Pemerhati politik dan sosial keagamaan
lognews.co.id - H. Amroni, S.iP, ketua PKB Indramayu mengukir sejarah baru dalam pemilu 2024.
Ia berhasil membawa PKB meraih elektoral 175 ribuan suara (naik hampir 80%) dengan raihan 10 kursi DPRD (naik 3 kursi), terbesar dalam sejarah PKB Indramayu sejak pemilu pertama Orde Reformasi tahun 1999.
Keberhasilan politik di atas tentu bukan kerja politik personal melainkan bersifat "orkestrasi", yakni kerja politik melibatkan "pihak pihak" mulai struktural, kinerja caleg dan "opinion leader" dalam konsolidasi "suasana kebatinan" publik
Akan tetapi posisi H. Amroni sebagai top pucuk pimpinan yang bertanggungjawab atas sukses atau tidaknya PKB di Indramayu maka tentu secara organik apresiasi layak diberikan kepada H. Amroni sebagai ketua PKB Indramayu.
H. Amroni sejauh penulis mengenalnya dalam model kepemimpinan politik lebih dekat pada model kepemimpinan "administrative politics" dibanding model "solidarity maker".
Dalam konstruksi Herbeith Fiet, pakar politik dan supervisor pemilu pertama 1955 "solidarity maker" adalah kepemimpinan politik dengan kemampuan menggalang "solidaritas" bertumpu pada kekuatan seorang figur politik.
Di sisi lain kepemimpinan "adiministatv politics" lebih menekankan kemampuan desain teknokrasi politik untuk mencapai "target bersama".
Kepemimpinan kedua inilah dalam perspektif penulis mendekati style kepemimpinan politik H. Amroni.
Di luar variabel variabel politik bersifat "lokal" di atas dengan peran peran orkestrasi politik masing masing harus dipahami bahwa pileg adalah kontestasi politik bersifat nasional
Karena itu trend kenaikan elektoral PKB Indramayu di atas tak lepas dari "effect" trend kenaikan elektoral PKB secara nasional, terlebih trend kenaikan elektoral PKB Indramayu tidak pernah terjadi kecuali selalu bersamaan dengan trend kenaikan elektoral PKB secara nasional.
Di sinilah urgensi pilihan politik Gus Imin menjadi cawapres. Ia pusat "magnit" kerja kolektif elektoral PKB dalam pemilu 2024.
Effect nya merata secara nasional, bahkan bukan sekedar pemenang di "provinsi tradisionalnya", yakni Jawa Timur tapi juga di provinsi Aceh untuk pertama kalinya PKB pemenang pemilu 2024, termasuk di dalamnya kenaikan elektoral PKB Indramayu.
(Uraian lengkap tentang "effect" Gus Imin dalam pilpres 2024 baca tulisan penulis berjudul "Gus Imin yang membanggakan" di media "logenews",15/2/2024).
Pesan dari kenaikan elektoral di atas dalam konteks apa yang disebut Francis Fukuyama dengan konsepsi politik "democtratic accountability" adalah bahwa kerja kerja politik PKB Indramayu haruslah makin akuntabel di ruang ruang maslahat publik.
Singkatnya, "fa Idza farauta fanshob", kerja pileg telah tuntas berhasil sangat baik kini saatnya ayunkan langkah mengisi ruang ruang maslahat publik.
Wassalam



