lognews.co.id, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi tantangan bagi industri kosmetik nasional. Ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan impor membuat biaya produksi perusahaan kosmetik ikut terdorong naik ketika kurs rupiah melemah di pasar global. (21/5/2026)
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi struktur biaya operasional industri kecantikan, terutama bagi perusahaan yang masih mengandalkan impor bahan aktif, fragrance, hingga kemasan premium dari luar negeri.
Ketua Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Sancoyo Antarikso, mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS maupun mata uang kuat lainnya memberikan tekanan langsung terhadap biaya produksi industri kosmetik.
Menurutnya, dampak yang dirasakan tiap perusahaan dapat berbeda tergantung pada skala usaha, strategi pengadaan bahan baku, kekuatan finansial perusahaan, hingga segmentasi produk yang dipasarkan.
“Pelemahan rupiah terhadap dolar maupun hard currencies secara langsung memberi tekanan terhadap biaya produksi. Dampaknya bisa berbeda pada tiap perusahaan tergantung skala bisnis, strategi procurement, kekuatan finansial, dan positioning produknya,” ujar Sancoyo.
Ia menjelaskan, hingga saat ini industri kosmetik Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap bahan baku impor. Tidak hanya bahan aktif kosmetik, sebagian besar kemasan tertentu juga masih berasal dari luar negeri.
Kondisi itu membuat fluktuasi kurs menjadi faktor penting dalam menentukan biaya produksi dan harga jual produk di pasar domestik.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya, pelaku industri mulai menerapkan berbagai strategi efisiensi. Langkah yang dilakukan meliputi peninjauan ulang sistem pengadaan bahan baku, pengelolaan persediaan atau inventory management, renegosiasi dengan pemasok, hingga penyesuaian harga produk secara selektif.
Meski menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi, industri kosmetik nasional disebut tetap berupaya menjaga kesinambungan produksi dan memastikan produk tetap tersedia di pasar.
Permintaan konsumen terhadap produk kecantikan dan perawatan diri dinilai masih cukup stabil dibanding sejumlah sektor konsumsi lainnya.
Dalam ilmu ekonomi perilaku konsumen, kondisi tersebut dikenal dengan istilah lipstick effect, yaitu kecenderungan masyarakat tetap membeli produk kecantikan atau perawatan diri meskipun situasi ekonomi sedang melambat atau penuh ketidakpastian.
Fenomena ini membuat sektor kosmetik dinilai relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi dibanding beberapa sektor konsumsi lain.
Namun demikian, pola konsumsi masyarakat mulai mengalami perubahan. Konsumen kini dinilai lebih selektif sebelum membeli produk kosmetik.
Selain mempertimbangkan harga, masyarakat juga semakin memperhatikan kandungan bahan, keamanan produk, manfaat, hingga relevansi produk dengan kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, inovasi dinilai menjadi faktor penting agar industri kosmetik tetap bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi global.
Perusahaan yang mampu menghadirkan produk inovatif dengan kualitas baik serta harga yang sesuai kebutuhan pasar dinilai memiliki daya tahan bisnis yang lebih kuat.
“Perusahaan yang mampu menghadirkan produk dengan inovasi yang relevan, kualitas yang baik, dan harga yang sesuai kebutuhan konsumen akan memiliki daya tahan yang lebih baik di tengah kondisi pasar saat ini,” kata Sancoyo.
Di sisi lain, prospek industri kosmetik nasional masih dinilai cukup positif untuk jangka panjang. Pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya kesadaran perawatan diri, serta tren produk kecantikan berbasis kesehatan kulit diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan industri.
Perkosmi memperkirakan permintaan produk kosmetik di dalam negeri masih berpotensi tumbuh sepanjang 2026, meski lajunya diprediksi lebih moderat dibanding periode pertumbuhan tinggi beberapa tahun sebelumnya.
Selain faktor kurs, industri kosmetik juga menghadapi tantangan lain seperti kenaikan biaya logistik global, ketidakpastian ekonomi internasional, hingga persaingan produk impor dan lokal yang semakin ketat.
Meski demikian, sektor beauty dan personal care diyakini masih menjadi salah satu industri konsumsi yang memiliki tingkat ketahanan cukup baik di tengah dinamika ekonomi global.
Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat memperkuat pengembangan bahan baku lokal agar ketergantungan impor dapat berkurang dalam jangka panjang. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas industri kosmetik nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar domestik maupun internasional. (Amri-untuk Indonesia)



