lognews.co.id, Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah tercatat berada di level Rp17.614 per dolar AS atau melemah 84 poin dibanding perdagangan sebelumnya. (15/5/26).
Pelemahan tersebut disebut menjadi titik terendah sepanjang sejarah bagi mata uang Garuda sejak krisis moneter 1998 hingga saat ini. Kondisi itu sekaligus menandai tingginya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik di tengah gejolak ekonomi global yang terus meningkat.
Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sejumlah faktor global, mulai dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah hingga masih kuatnya performa ekonomi Amerika Serikat yang mendorong penguatan dolar AS.
“Iya, level terendah sepanjang sejarah,” ujar Ariston.
Menurutnya, data ekonomi AS yang masih solid membuat peluang penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS atau The Fed semakin kecil. Situasi itu membuat investor global cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman.
Selain faktor geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia, data penjualan ritel AS yang lebih baik dari perkiraan pasar turut memperkuat posisi dolar. Kondisi tersebut memicu aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Analis pasar uang Lukman Leong juga menilai pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam setahun terakhir.
“Iya, terendah sepanjang sejarah,” kata Lukman.
Ia menjelaskan pasar global saat ini juga tengah merespons optimisme terhadap pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski hasil resmi pertemuan belum diumumkan, investor menilai komunikasi kedua negara dapat memengaruhi arah perdagangan dan ekonomi global.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS sendiri dipicu data inflasi Negeri Paman Sam yang dinilai masih tinggi. Hal itu meningkatkan spekulasi bahwa The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan kembali apabila tekanan inflasi belum mereda.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi bersamaan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,50 persen, baht Thailand turun 0,28 persen, ringgit Malaysia melemah 0,39 persen, sementara yen Jepang turun 0,11 persen terhadap dolar AS.
Di kelompok mata uang negara maju, poundsterling Inggris melemah 0,28 persen, dolar Australia turun 0,47 persen, euro Eropa minus 0,19 persen, dan dolar Kanada melemah 0,16 persen.
Melemahnya rupiah diperkirakan dapat berdampak pada meningkatnya biaya impor, tekanan terhadap inflasi domestik, hingga beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta. Kondisi ini juga menjadi perhatian serius pelaku pasar karena dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional apabila tekanan berlangsung dalam waktu panjang.
Pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau pergerakan pasar keuangan global guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang masih tinggi. (Amri-untuk Indonesia)



