Friday, 06 February 2026

Indonesia Masuk Lima Besar Eksportir Besi Dan Baja Dunia

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan Indonesia kini masuk lima besar negara eksportir besi dan baja dunia setelah penerapan kebijakan hilirisasi industri yang diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah serta daya saing global. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta. (4/2/26)

Menurut Budi Santoso, pada 2019 Indonesia masih berada di peringkat ke-17 sebagai eksportir besi dan baja terbesar dunia. Melalui peningkatan kapasitas industri dan kebijakan hilirisasi, posisi Indonesia kemudian naik ke peringkat lima. Dalam daftar tersebut, posisi empat besar ditempati China, Jerman, Jepang, dan Korea Selatan.

Kementerian Perdagangan mencatat pada 2024 neraca perdagangan besi dan baja Indonesia mencatat surplus sebesar 15,08 miliar dolar Amerika Serikat yang berasal dari nilai ekspor 25,80 miliar dolar AS dan impor 10,73 miliar dolar AS. Pada 2025, surplus meningkat menjadi 18,44 miliar dolar AS dengan nilai ekspor 27,97 miliar dolar AS dan impor 9,53 miliar dolar AS.

Data perkembangan enam tahun terakhir menunjukkan fluktuasi nilai perdagangan komoditas besi dan baja. Pada 2020 nilai ekspor tercatat 10,86 miliar dolar AS dengan impor 4,01 miliar dolar AS. Tahun 2021 ekspor meningkat menjadi 20,93 miliar dolar AS dengan impor 8,97 miliar dolar AS. Pada 2022 ekspor mencapai 27,80 miliar dolar AS dengan impor 13,87 miliar dolar AS, sementara 2023 ekspor turun tipis menjadi 26,70 miliar dolar AS dan impor 15,30 miliar dolar AS.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menambahkan volume ekspor baja Indonesia meningkat dari 9,3 juta ton pada 2020 menjadi 23,97 juta ton pada 2025. Di sisi lain, impor baja yang sempat naik hingga 17,9 juta ton pada 2022 berangsur turun menjadi 14,8 juta ton pada 2025. Kondisi tersebut disebut mendorong pergeseran neraca perdagangan dari defisit menuju surplus.

Pemerintah menilai tren surplus perdagangan besi dan baja dipengaruhi oleh kebijakan hilirisasi, peningkatan produksi dalam negeri, faktor harga global, serta perubahan rantai pasok akibat dinamika geopolitik. (Amri-untuk Indonesia)