Wednesday, 04 February 2026

IHSG Anjlok hingga 8 Persen, OJK Siapkan Langkah Perbaikan Transparansi Saham

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil sejumlah langkah strategis untuk merespons gejolak pasar modal yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 8 persen dalam dua hari terakhir. Pelemahan pasar saham dipicu peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang kemudian diperkuat laporan Goldman Sachs.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, OJK memandang masukan dari MSCI sebagai evaluasi penting bagi penguatan tata kelola pasar modal Indonesia. Ia menegaskan, saham emiten Indonesia tetap masuk dalam indeks global MSCI.

“Sesuai dengan hal itu, kami akan melakukan beberapa langkah,” ujar Mahendra dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Tiga Langkah OJK dan SRO

Pertama, OJK menindaklanjuti proposal penyesuaian yang diajukan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang saat ini tengah dipelajari oleh MSCI. Penyesuaian tersebut mencakup pengecualian investor dalam kategori corporate dan others dalam perhitungan free float, serta publikasi kepemilikan saham di atas dan di bawah 5 persen untuk setiap kategori investor.

Kedua, OJK berkomitmen memenuhi permintaan tambahan MSCI terkait penyediaan informasi kepemilikan saham di bawah 5 persen, termasuk kategori investor dan struktur kepemilikannya, sesuai dengan praktik terbaik internasional (best practice).

Ketiga, self-regulatory organization (SRO) akan menerbitkan aturan free float minimal 15 persen dalam waktu dekat, dengan prinsip transparansi yang lebih kuat. Emiten yang tidak memenuhi ketentuan tersebut akan dikenakan exit policy melalui mekanisme pengawasan yang terukur.

Sorotan MSCI dan Kekhawatiran Investor Global

MSCI menilai pasar saham Indonesia masih menghadapi persoalan struktural, khususnya terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan kualitas data free float. Meski terdapat perbaikan data dari BEI, investor global masih menyampaikan kekhawatiran terhadap kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup mendukung penilaian free float secara akurat.

Menurut MSCI, keterbatasan transparansi kepemilikan saham serta potensi perdagangan terkoordinasi dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Karena itu, dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih detail, andal, dan terpantau secara konsisten.

Tekanan dari Goldman Sachs dan Dampak ke IHSG

Setelah peringatan MSCI, Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Laporan tersebut memperkirakan aksi jual pasif oleh investor global masih berpotensi berlanjut, seiring penilaian bahwa pasar saham Indonesia menghadapi tantangan struktural dalam aspek kepemilikan saham dan free float.

Tekanan tersebut berdampak langsung pada IHSG yang anjlok hingga 8 persen pada Rabu (28/1/2026), memaksa BEI menerapkan trading halt. Kondisi volatilitas berlanjut pada Kamis (29/1/2026), setelah laporan Goldman Sachs memperkuat sentimen negatif pasar.

OJK menegaskan akan terus memperkuat transparansi, tata kelola, dan struktur pasar modal guna menjaga kepercayaan investor serta stabilitas sistem keuangan nasional.

(Amri-untuk Indonesia)