lognews.co.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Desember 2025 sebesar 0,64% month-to-month (mtm) dan 2,92% year-on-year (yoy), tertinggi sejak 2022. "Year to date (ytd) inflasi 2,92% pada akhir tahun inflasi yoy dan ytd akan sama yang dibandingkan 2 titik sama IHK Desember 2025 dan IHK Desember 2024," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).
Inflasi tahunan ini didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang 1,33% dengan laju 4,58% yoy, menjadikannya penyumbang terbesar.
Komoditas Sembako Penyumbang Inflasi
Komoditas utama mencakup cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, serta daging ayam ras. Bawang merah naik 15,86% menjadi Rp45.329/kg, cabai rawit 15,61% ke Rp65.753/kg, minyak goreng 8,44% menjadi Rp20.938/kg, dan cabai merah besar 5,07% ke Rp53.317/kg. Bawang putih justru turun 1,70% ke Rp42.469/kg.
Tren dan Dampak Ekonomi
Inflasi pangan fluktuatif: 3,63% (2020), 3,09% (2021), melonjak 5,83% (2022) dan 6,18% (2023), mereda 1,90% (2024), lalu 4,58% (2025). Lonjakan ini menggerus daya beli karena 75% pengeluaran warga miskin untuk makanan, berpotensi picu kenaikan kemiskinan.
Pemerintah perlu perkuat pasokan untuk stabilisasi harga 2026. Pantau update di lognews.co.id, vivanews, atau detik.com.


