lognews.co.id, Jakarta — Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menyoroti isu kedaulatan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan serta pentingnya kesiapan nasional menghadapi transformasi teknologi.
Saat ditemui di kediamannya, Jumat (27/2/2026), Jokowi menyatakan perkembangan AI akan membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia dalam beberapa tahun ke depan.
“Menurut perkiraan saya 5 sampai 15 tahun yang akan datang akan ada revolusi besar, artificial intelligence,” ujarnya.
Ia menilai AI akan hadir di berbagai lini aktivitas manusia dan mendorong pergeseran dari ekonomi konvensional menuju ekonomi digital berbasis kecerdasan atau intelligence economy.
“Memang harus siap betul, karena ini akan ada sebuah pergeseran dari yang dulunya ekonomi normal masuk ke digital ekonomi ini, masuk ke ekonomi AI atau intelligence ekonomi,” kata Jokowi.
Dalam konteks tersebut, Jokowi menegaskan bahwa kedaulatan data merupakan aspek yang mutlak bagi setiap negara, terutama negara berkembang.
“Kedaulatan data itu mutlak dan sangat perlu bagi semua negara, utamanya negara-negara berkembang,” tegasnya.
Ia mendorong percepatan pembangunan infrastruktur digital seperti satelit, pusat data, jaringan fiber optik, dan menara BTS sebagai fondasi menghadapi era AI.
Namun, Jokowi mengakui kedaulatan AI bukan perkara mudah, Bahkan menurutnya negara besar pun masih bergantung pada impor chip semikonduktor dan talenta teknologi dari berbagai negara.
Isu AI sebelumnya juga disinggung Jokowi dalam forum ekonomi di India. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut mengangkat tema penguasaan AI, blockchain, dan robotik dalam sejumlah agenda publik.
(Amri-untuk Indonesia)



