Indramayu, lognews.co.id – Pengembangan Politeknik Tanah Air Indonesia Raya dan gagasan pembangunan 500 titik pusat pendidikan di kabupaten dan kota di seluruh Indonesia menjadi bagian dari ikhtiar Ma’had Al-Zaytun dalam memperluas akses pendidikan dan menyiapkan sumber daya manusia yang mandiri serta kompeten. Upaya tersebut disampaikan Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.A.P., selaku Ketua Umum Panitia, dalam sambutan peringatan 98 Tahun Hari Sumpah Pemuda di Grand Musholla Rahmatan lil Alamin, Kampus Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Menyongsong 100 Tahun Kelahiran Indonesia Raya” tersebut juga menjadi momentum pelaksanaan lokakarya penyusunan kurikulum enam program studi Politeknik Tanah Air Indonesia Raya.
Dalam sambutannya, Eji menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum ini perlu menjadi pengingat untuk meneruskan cita-cita kebangsaan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Dua tahun lagi, kita akan tiba pada satu abad kelahiran Indonesia Raya. Angka 100 bukan sekadar hitungan kalender. Seratus tahun adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri kita sendiri warisan apa yang telah kita bangun, kesadaran apa yang telah kita tanamkan, dan kemanusiaan seperti apa yang akan kita tumpukan untuk generasi berikutnya,” ungkapnya.
Menurut Eji, menyongsong satu abad Indonesia Raya membutuhkan tindakan nyata sejak sekarang. Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Pendidikan sebagai Ekosistem yang Berkesinambungan
Dalam sambutannya, Eji menjelaskan bahwa pendidikan perlu dipahami sebagai proses berkelanjutan yang tidak berhenti ketika kegiatan pembelajaran di kelas selesai atau ketika seseorang memperoleh ijazah.
Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep Ma’had Al-Zaytun sebagai ekosistem pendidikan yang tidak terputus, sekaligus sebagai pusat pengembangan budaya toleransi dan perdamaian untuk membangun masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi.
“Pendidikan merupakan proses panjang yang menghubungkan pengetahuan dengan kesadaran, keterampilan dengan tanggung jawab, serta kecerdasan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Dalam ekosistem tersebut, setiap unsur memiliki peran. Pelajar terus belajar dan berkembang, guru serta dosen membimbing dan mengembangkan ilmu, sementara orang tua dan berbagai unsur pendukung turut menciptakan lingkungan yang memungkinkan proses pendidikan berlangsung secara utuh.
Eji juga menyampaikan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda di Al-Zaytun dihadiri 4.150 peserta yang mewakili berbagai unsur dalam keluarga besar institusi tersebut.
Kehadiran berbagai unsur itu, menurutnya, menunjukkan bahwa pendidikan bukanlah pekerjaan satu individu atau satu bidang saja. Pendidikan membutuhkan keterhubungan, kerja sama, dan tanggung jawab bersama.
Gagasan 500 Titik Pendidikan untuk Memperluas Akses
Salah satu gagasan strategis yang disampaikan Eji adalah transformasi pendidikan berasrama yang tidak hanya berorientasi pada pembaruan sistem di dalam kampus, tetapi juga pada perluasan akses pendidikan ke berbagai wilayah Indonesia.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan gagasan pengembangan pusat-pusat pendidikan di 500 titik kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, baik melalui penyelenggaraan oleh negara maupun swasta.
“Dengan cita-cita ini, pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi milik mereka yang telah memperoleh kesempatan, tetapi menjadi jalan bagi semakin banyak anak bangsa untuk mengembangkan potensi, membangun kemandirian, dan berkontribusi bagi masyarakat,” tuturnya.
Gagasan tersebut mempertimbangkan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki karakteristik wilayah dan kebutuhan pendidikan yang beragam.
Perluasan pusat pendidikan di berbagai daerah diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan bermutu. Namun, pelaksanaannya tentu membutuhkan perencanaan, dukungan sumber daya, dan pengelolaan yang berkelanjutan agar tujuan pemerataan pendidikan dapat tercapai.
Politeknik Tanah Air Indonesia Raya Siapkan Enam Program Studi
Selain gagasan perluasan akses pendidikan, sambutan Ketua Umum Panitia juga menyoroti pengembangan Politeknik Tanah Air Indonesia Raya melalui lokakarya penyusunan kurikulum enam program studi.
Enam program studi yang disebutkan dalam sambutan tersebut meliputi:
- Pengelolaan Teknologi Produksi Tanaman Pangan.
- Budidaya Perikanan Terpadu.
- Pengelolaan Hutan.
- Teknologi Rekayasa Perancangan Manufaktur.
- Teknologi Produksi Ternak.
- Pembangunan Desa dan Ekonomi Masyarakat.
Program-program tersebut mencakup bidang pertanian, perikanan, kehutanan, manufaktur, peternakan, serta pembangunan desa dan ekonomi masyarakat.
Menurut Eji, pengembangan program studi tersebut diharapkan dapat menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan profesional, kebutuhan dunia usaha, potensi sumber daya, dan pembangunan masyarakat.
Dengan orientasi tersebut, pendidikan vokasi diharapkan tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi persoalan nyata di dunia kerja dan lingkungan masyarakat.
Kurikulum Harus Menjawab Kebutuhan Zaman
Eji menekankan bahwa penyusunan kurikulum tidak boleh berhenti pada penentuan materi yang harus dipelajari mahasiswa. Kurikulum juga harus mempertimbangkan kompetensi yang perlu dikuasai, persoalan yang harus mampu diselesaikan, dan karakter manusia yang ingin dibentuk melalui pendidikan.
Karena itu, lokakarya penyusunan kurikulum melibatkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pelaku usaha. Pertemuan berbagai perspektif tersebut diharapkan menghasilkan kurikulum yang kuat secara keilmuan, relevan dalam penerapan, dan bermakna bagi masyarakat.
“Kami berharap lokakarya setelah kuliah umum ini bukan sekadar forum menyusun dokumen kurikulum. Lebih dari itu, lokakarya menjadi ruang pertemuan gagasan, penyelarasan visi, dan peletakan fondasi bagi pendidikan vokasi yang mampu melahirkan manusia Indonesia yang terampil, mandiri, memiliki kesadaran, dan menjunjung tinggi kemanusiaan,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menempatkan relevansi kurikulum sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan pendidikan tinggi. Hubungan antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan kebutuhan masyarakat diperlukan agar kompetensi lulusan selaras dengan tantangan yang terus berkembang.
Menyongsong 100 Tahun Indonesia Raya melalui Pendidikan
Dalam bagian akhir sambutannya, Eji mengajak seluruh pihak untuk menjadikan peringatan Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum memperbarui komitmen terhadap pembangunan Indonesia.
Menurutnya, masa depan bangsa harus dipersiapkan melalui perbaikan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan kerja sama, penerapan toleransi, dan penumbuhan nilai kemanusiaan.
Ia berharap Ma’had Al-Zaytun dan Politeknik Tanah Air Indonesia Raya dapat memberikan kontribusi nyata dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengubah pengetahuan menjadi karya, kemudian mengembangkan karya tersebut menjadi kemajuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui pengembangan ekosistem pendidikan dan penyusunan kurikulum yang relevan, ikhtiar tersebut diarahkan untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya terampil, tetapi juga mandiri, berkesadaran, dan memiliki tanggung jawab sosial.
Momentum menyongsong 100 tahun Indonesia Raya pada 2045 dengan demikian menjadi ajakan untuk membangun masa depan melalui langkah konkret yang dimulai hari ini. Pendidikan bukan sekadar warisan dari generasi sebelumnya, melainkan investasi bagi lahirnya generasi yang mampu membawa Indonesia menuju masyarakat yang sehat, cerdas, manusiawi, dan hidup dalam toleransi serta perdamaian. (Nimas Untuk Indonesia)



