INDRAMAYU, LOGNEWS.CO.ID – Dedikasi dalam bekerja merupakan bentuk tanggung jawab yang patut dihargai. Namun, di balik semangat pengabdian yang tinggi, ada kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Pengalaman inilah yang menjadi pelajaran berharga bagi Sukino, S.Pd., anggota tim keamanan Ma’had Al-Zaytun sekaligus tutor di PKBM Al-Zaytun, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Setelah mengalami kondisi tubuh yang melemah selama beberapa hari, Sukino akhirnya harus menjalani perawatan medis. Di tengah perjuangannya memulihkan kesehatan, ia justru menemukan pengalaman yang membekas di hati, yakni ketulusan dan kepedulian orang-orang di sekitarnya.
Bagi Sukino, masa perawatan bukan sekadar waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi fisik. Pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan untuk merenungkan arti kesehatan, pengabdian, serta persaudaraan yang hadir ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit.
Ketika Dedikasi Membuat Tubuh Terlupakan
Perjalanan Sukino menuju ruang perawatan bermula pada 10 September 2026. Setelah sekitar sepekan merasakan lemas, batuk, dan pusing yang cukup mengganggu, ia bersama istrinya, Sri Wahyuni, S.Pd., yang juga merupakan tutor PKBM Al-Zaytun, memutuskan untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Keduanya mendatangi Klinik Medisina Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, untuk menjalani pemeriksaan darah.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah trombosit Sukino berada pada angka 100 ribu per mikroliter darah, di bawah kisaran normal yang umumnya berada pada angka 150 ribu hingga 450 ribu per mikroliter. Berdasarkan kondisi tersebut, tim medis menyarankan agar Sukino menjalani rawat inap sehingga kesehatannya dapat dipantau lebih lanjut.
Kondisi itu menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki batas kemampuan yang perlu diperhatikan, sekalipun seseorang terbiasa menjalani aktivitas padat.
Dalam kesehariannya, Sukino dikenal sebagai sosok yang aktif dan memiliki beragam tanggung jawab. Selain menjalankan tugas sebagai anggota keamanan Ma’had Al-Zaytun, ia juga dipercaya mengawal perawatan perkebunan pohon mangga milik Ma’had. Atas izin pimpinan, ia turut memanfaatkan waktu luangnya untuk bertani di lahan-lahan kosong.
Berbagai aktivitas tersebut dijalani dengan semangat dan kesungguhan. Namun, kesibukan yang padat terkadang membuat waktu istirahat, pola makan, dan kebutuhan minum kurang diperhatikan.
Pengalaman sakit itu menjadi titik refleksi bagi Sukino bahwa semangat bekerja perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kesehatan. Sebab, pengabdian yang berkelanjutan membutuhkan tubuh yang dirawat dan dijaga dengan baik.
Tiga Hari Perawatan, Dukungan Datang Silih Berganti
Selama tiga hari menjalani perawatan di klinik, Sukino dan keluarganya merasakan dukungan yang datang dari berbagai arah. Mereka tidak menghadapi masa sulit tersebut sendirian.
Keluarga, rekan kerja, pembina, warga paguyuban, tutor, alumni, hingga warga belajar datang silih berganti untuk menjenguk dan memberikan semangat.
Sebagian pengunjung membawa buah-buahan, minuman, serta berbagai bentuk perhatian lainnya. Kehadiran mereka menjadi penguat bagi Sukino dan istrinya selama menjalani masa perawatan.
Di tengah kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, perhatian sederhana itu memiliki arti tersendiri. Sapaan, doa, dan kesediaan meluangkan waktu untuk menjenguk menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar.
Salah satu sosok yang meninggalkan kesan mendalam adalah Bu Sutinem, seorang warga belajar yang rumahnya berada tidak jauh dari klinik tempat Sukino dirawat.
Dengan penuh kepedulian, Bu Sutinem berulang kali datang ke klinik untuk memastikan kebutuhan Sukino dan istrinya terpenuhi. Ia berusaha membantu sesuai kemampuannya, memberikan perhatian di saat keluarga tersebut sedang menghadapi ujian kesehatan.
Tindakan sederhana itu menjadi gambaran nyata bagaimana kepedulian dapat tumbuh dari kedekatan, kepekaan, dan kemauan untuk membantu sesama.
Bagi Sukino, dukungan yang datang dari berbagai pihak menghadirkan rasa haru sekaligus syukur.
“Alhamdulillah, rupanya saudara seiman tak kalah kentalnya dengan darah saudara kandung,” ungkap Sukino dengan penuh haru saat mengenang dukungan yang diterimanya dari keluarga besar Ma’had Al-Zaytun.
Ungkapan tersebut menggambarkan betapa berharganya kehadiran orang-orang yang bersedia mendampingi ketika seseorang sedang berada dalam keadaan sulit.
Persaudaraan, dalam pengalaman Sukino, tidak hanya tercermin dalam hubungan sehari-hari. Maknanya semakin terasa ketika seseorang membutuhkan bantuan, perhatian, dan penguatan dari lingkungan sekitarnya.
Kepedulian Menjadi Penguat dalam Pemulihan
Selama menjalani perawatan, Sukino mendapatkan perhatian dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Ia juga berupaya mengikuti penanganan medis yang diberikan untuk memulihkan kondisinya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Sukino berangsur membaik. Berdasarkan keterangan keluarga, jumlah trombositnya juga mengalami peningkatan hingga akhirnya ia pulih dari sakit yang dialaminya.
Perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang disyukuri. Bukan hanya karena kondisi kesehatannya membaik, tetapi juga karena ia merasakan secara langsung besarnya arti dukungan sosial ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan.
Meski demikian, pemulihan kesehatan tetap memerlukan penanganan medis yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Perhatian keluarga, dukungan emosional, istirahat yang cukup, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat menjadi bagian dari proses pemulihan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan serta pengobatan oleh tenaga kesehatan.
Bagi Sukino, pengalaman ini memperlihatkan bahwa menghadapi sakit bukan hanya tentang melewati masa sulit secara fisik. Ada pelajaran mengenai kesabaran, kesadaran diri, dan pentingnya menerima dukungan dari orang lain.
Sakit Bukan Penghalang untuk Menjadi Lebih Baik
Pengalaman yang dialami Sukino membawa pesan penting bagi lingkungan kerja dan masyarakat luas. Semangat pengabdian memang perlu dijaga, tetapi kesehatan juga harus menjadi bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Seseorang tidak harus menunggu tubuh benar-benar melemah untuk mulai memperhatikan kebutuhan istirahat, menjaga pola makan, mencukupi kebutuhan cairan, dan memeriksakan diri ketika mengalami keluhan kesehatan.
Mengenali batas kemampuan tubuh bukan berarti kehilangan semangat. Sebaliknya, hal tersebut merupakan langkah untuk memastikan bahwa tanggung jawab dapat dijalankan secara lebih bijaksana dan berkelanjutan.
Pengalaman Sukino juga mengajarkan bahwa menerima bantuan bukanlah tanda kelemahan. Dalam kehidupan bermasyarakat, kepedulian dan kesediaan untuk saling menguatkan merupakan bagian penting dari hubungan antarmanusia.
Dukungan yang diberikan Bu Sutinem dan orang-orang yang datang menjenguk menjadi contoh bahwa perhatian sederhana dapat menghadirkan kekuatan emosional bagi seseorang yang sedang berjuang memulihkan kesehatannya.
Persaudaraan yang Teruji dalam Masa Sulit
Kisah Sukino memperlihatkan dua hal yang saling melengkapi. Pertama, pentingnya menjaga keseimbangan antara dedikasi dan kesehatan. Kedua, besarnya makna persaudaraan ketika seseorang menghadapi ujian kehidupan.
Di lingkungan Ma’had Al-Zaytun dan PKBM Al-Zaytun, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak cukup hanya diwujudkan dalam kegiatan bersama atau rutinitas pekerjaan. Kebersamaan juga tercermin melalui kesediaan untuk hadir, membantu, dan memberikan perhatian ketika orang lain membutuhkan.
Sakit yang dialami Sukino memang menjadi ujian bagi kondisi fisiknya. Namun, dari pengalaman itu, ia juga menemukan alasan untuk semakin mensyukuri kesehatan dan menghargai ketulusan orang-orang di sekitarnya.
Pada akhirnya, sakit bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Masa sulit dapat menjadi kesempatan untuk belajar, memperbaiki kebiasaan, dan memahami kembali hal-hal yang benar-benar berarti dalam kehidupan.
Dedikasi membuat seseorang terus melangkah, kesehatan membantunya tetap kuat, dan persaudaraan mengingatkannya bahwa ia tidak harus menghadapi setiap ujian seorang diri.




