Masuk Al-Zaytun, Warga Haurgeulis: “Ternyata Tidak Seperti yang Saya Bayangkan”

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Sebanyak 83 orang yang terdiri atas anak-anak PAUD, wali murid, pendamping, dan masyarakat dari PAUD Graha Insan Mulia, Yayasan Dharma Satya Graha, Desa Makarjati, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, melakukan rihlah pendidikan ke Mahad Al-Zaytun, Minggu (4/10/2026).

Kunjungan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat lingkungan pendidikan Mahad Al-Zaytun sekaligus melihat secara langsung berbagai fasilitas yang tersedia di dalam kompleks.

Pendamping rombongan, Purnoto, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan rihlah pendidikan atau edukasi yang ditujukan kepada anak-anak PAUD, wali murid, serta masyarakat yang tergabung dalam kegiatan rutin di Desa Makarjati.

“Kami berkunjung ke Al-Zaytun dalam rangka rihlah pendidikan atau edukasi,” ujar Purnoto.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan mengikuti senam bersama ibu-ibu yang tergabung dalam kegiatan senam Odeko di lingkungan Mahad Al-Zaytun. Setelah itu, rombongan mengikuti ramah tamah sebelum melanjutkan kegiatan dengan berkeliling ke sejumlah lokasi di kompleks Mahad Al-Zaytun.

Rombongan mengunjungi Sekretariat Pendidikan, fasilitas penyimpanan beras atau silo, fasilitas pemotongan hewan, hingga Grand Musala Rahmatan lil Alamin.

Menurut Purnoto, kunjungan tersebut telah direncanakan sebelumnya sebagai bagian dari upaya mengenalkan lingkungan pendidikan kepada anak-anak sejak usia dini.

“Kami memang sudah ada schedule-nya, sudah kami jadwalkan jauh-jauh hari untuk mengadakan edukasi, rihlah pendidikan dan khususnya adalah ke Mahad Al-Zaytun,” katanya.

Ia menilai Mahad Al-Zaytun memiliki sistem pendidikan yang menarik untuk dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Terlebih, menurutnya, konsep pendidikan yang diterapkan memiliki jenjang yang berkelanjutan.

“Kami melihat bahwa pendidikan di Al-Zaytun yang begitu luar biasa. Maka anak-anak didik kami yang ada di PAUD GIM di Desa Makarjati ini dirasa harus sudah mulai mengenal dari sejak dini,” ujarnya.

Pandangan Berubah Setelah Melihat Langsung

Salah seorang peserta rombongan, Darsono, warga Desa Makarjati, mengaku sebelumnya sudah pernah datang ke Mahad Al-Zaytun. Namun, kunjungan kali ini membuat dirinya dapat melihat lingkungan dan fasilitas di dalam kompleks secara lebih mendetail.

Ia juga mengaku sebelumnya memiliki sejumlah kekhawatiran karena hanya mendapatkan informasi mengenai Mahad Al-Zaytun dari luar.

“Baru hari inilah terbuka bahwa Mahad Al-Zaytun itu memang fair, artinya biasa-biasa saja. Tidak seperti yang saya bayangkan,” kata Darsono.

Setelah mengikuti rangkaian kunjungan dan mendapatkan penjelasan mengenai sejumlah fasilitas, pandangannya pun berubah.

Menurutnya, berbagai fasilitas yang dilihat secara langsung menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan di Mahad Al-Zaytun dilakukan secara serius.

“Setelah mengetahui detailnya di sekretariat, di pemotongan dan sebagainya, itu menunjukkan bahwa Mahad itu memang tidak main-main,” ujarnya.

Darsono juga mengaku terkesan dengan perhatian terhadap pendidikan sejak usia dini yang menurutnya terlihat dari sistem dan fasilitas yang diperkenalkan kepada rombongan.

Ia bahkan menilai Mahad Al-Zaytun memiliki standar pendidikan yang menurutnya cukup tinggi.

“Saya yakin bahwa Mahad Al-Zaytun itu bukan standar ecek-ecek. Itu benar-benar standar internasional,” katanya.

Tidak Lagi Takut Berkunjung

Pengalaman melihat langsung lingkungan Mahad Al-Zaytun juga membuat Darsono tidak lagi merasa khawatir untuk datang ke kawasan tersebut.

Ketika ditanya apakah dirinya masih merasa takut setelah melihat langsung kondisi di dalam Mahad Al-Zaytun, ia menjawab sudah tidak lagi.

“Oh tidak lagi. Setelah terbuka, jadi nyaman saja, enjoy sekarang,” ucapnya.

Darsono mengatakan, pengalaman tersebut membuat dirinya semakin memahami bahwa Mahad Al-Zaytun merupakan bagian dari lingkungan pendidikan yang berada di Kabupaten Indramayu.

Ia bahkan menyatakan, jika kelak diberikan umur panjang dan kesempatan, dirinya akan mengarahkan anak dan cucunya untuk mendapatkan pendidikan di Mahad Al-Zaytun.

“Insya Allah, kalau saya diberikan umur panjang, diberikan kepercayaan dari Allah, saya akan arahkan anak-cucu saya nanti untuk mengenyam bangku pendidikan di Mahad Al-Zaytun,” katanya.

Menurut Darsono, keputusan tersebut didasarkan pada pengalaman langsung yang ia dapatkan setelah melihat kualitas serta berbagai fasilitas yang tersedia.

Ajak Masyarakat Indramayu Datang dan Melihat Langsung

Darsono juga menyampaikan pesan kepada masyarakat Indramayu agar tidak hanya mengenal Mahad Al-Zaytun berdasarkan informasi dari luar. Ia mengajak masyarakat untuk datang secara langsung dan melihat kondisi di dalam kompleks.

“Al-Zaytun itu di Indramayu loh. Bukan di Singapura, bukan di Malaysia, bukan di mana-mana. Tapi di Indramayu,” ujarnya.

Ia menilai masyarakat perlu membuka diri untuk mengenal lebih dekat keberadaan Mahad Al-Zaytun.

Menurutnya, penilaian terhadap sebuah lembaga akan lebih objektif apabila masyarakat melihat langsung kondisi dan aktivitas yang ada di dalamnya.

“Kalau mau tahu kedalamannya, ya kita langsung terjun ke sini, datang ke Mahad. Kita pelajari, oh begini, oh begini,” katanya.

Darsono berharap masyarakat Indramayu dapat semakin mengenal Mahad Al-Zaytun secara langsung sehingga memiliki pemahaman yang lebih utuh sebelum menentukan penilaian.

“Biar mengetahui, paham, bahwa Mahad Al-Zaytun itu bukan milik orang lain, tapi milik orang Indramayu,” pungkasnya.

 

Kunjungan 83 peserta dari PAUD Graha Insan Mulia tersebut menjadi salah satu bentuk rihlah pendidikan yang mempertemukan masyarakat dengan lingkungan pendidikan secara langsung. Selain memberikan pengalaman kepada anak-anak, kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi wali murid dan masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai aktivitas serta fasilitas yang ada di Mahad Al-Zaytun. (Saheel untuk Indonesia)