Saturday, 05 September 2026

Bioflok Al Zaytun Jadi Penopang Ketahanan Pangan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id – Sistem budidaya ikan bioflok yang dikembangkan Mahad Al Zaytun, Indramayu, menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan bagi ribuan civitas akademika dan pelajar di lingkungan pesantren. Selain mampu menghasilkan ikan konsumsi secara berkelanjutan, teknologi ini juga menarik perhatian masyarakat luar negeri, termasuk peserta pelatihan dari Malaysia yang datang untuk mempelajari sistem tersebut secara langsung.

Hal itu disampaikan dalam Live Report prima 95,8 FM bersama reporter Baim dari kawasan Bioflok Mahad Al Zaytun, Senin (31/8/2026), saat berlangsung kegiatan penebaran benih ikan nila merah.

Penanggung Jawab Perikanan Mahad Al Zaytun, Wanta, menjelaskan bahwa kegiatan hari itu merupakan bagian dari proses budidaya bioflok, mulai dari persiapan kolam hingga penebaran benih ikan.

"Hari ini kita melakukan proses budidaya di kolam bioflok. Mulai dari pemasangan kolam, pemberian air, treatment air, fermentasi air, fermentasi pakan, pemilihan bibit yang bagus, sampai penebaran ikan nila merah," ujar Wanta kepada reporter Baim.

Menurutnya, Mahad Al Zaytun memilih ikan nila merah jenis GIFT karena memiliki kualitas pertumbuhan yang baik dan ukuran yang dapat mencapai dua kilogram per ekor.

"Ikan nila merah jenis GIFT ini pertumbuhannya cepat, dagingnya lebih banyak, teksturnya lebih kenyal, rasanya lebih gurih, dan tidak berbau amis," jelasnya.

Sistem Fermentasi Jadi Keunggulan Bioflok

Wanta menerangkan, keunggulan utama sistem bioflok dibanding kolam tradisional terletak pada penggunaan air yang telah difermentasi menggunakan bakteri baik, seperti lactobacillus dan bacillus.

Bakteri tersebut berfungsi mengurai sisa pakan, ganggang, hingga amonia yang terdapat di dalam kolam. Hasil penguraian kemudian berubah menjadi sumber protein alami yang dapat dimanfaatkan ikan sebagai pakan tambahan.

"Karena air dan pakannya sudah difermentasi, ikan tidak bau amis, tidak bau lumpur, teksturnya lebih padat dan kenyal," katanya.

Berbeda dengan kolam konvensional yang sering menghasilkan aroma lumpur akibat kualitas air yang kurang baik, sistem bioflok menjaga kualitas air tetap stabil sehingga kesehatan ikan lebih terjaga.

Memiliki 44 Kolam Bioflok

Area bioflok Mahad Al Zaytun saat ini memiliki 44 kolam berbentuk bundar dengan diameter sekitar lima meter dan tinggi kolam 105 sentimeter.

Dari jumlah tersebut, 6 kolam digunakan sebagai kolam treatment atau pengolahan air, sedangkan 38 kolam lainnya difungsikan sebagai kolam budidaya ikan.

Budidaya dilakukan secara bertahap, mulai dari ikan berukuran kecil, sedang, hingga siap panen. Sistem ini diterapkan agar pasokan ikan tetap tersedia sesuai kebutuhan konsumsi di Mahad Al Zaytun.

"Panennya dibuat berkelanjutan, sehingga kebutuhan konsumsi di Mahad Al Zaytun bisa terus terpenuhi," ujar Wanta.

Panen Capai 1,5 Ton per Kolam

Selain ikan nila, Mahad Al Zaytun juga membudidayakan ikan patin dan ikan lele. Untuk ikan patin, satu kolam dapat menghasilkan sekitar 500 ekor dengan ukuran rata-rata tiga kilogram per ekor.

Artinya, satu kali panen dari satu kolam dapat mencapai sekitar 1,5 ton ikan patin.

Menurut Wanta, hasil panen tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dapur Mahad Al Zaytun, bukan untuk dipasarkan secara komersial.

"Bioflok di Al Zaytun ini bukan untuk industri atau dijual keluar. Ini untuk kebutuhan konsumsi civitas dan pelajar Mahad Al Zaytun," tegasnya.

Warga Malaysia Belajar Teknologi Bioflok Al Zaytun

Keberhasilan sistem bioflok Mahad Al Zaytun juga menarik perhatian peserta dari luar negeri. Salah satunya adalah Samsul, warga Selangor, Malaysia, yang datang untuk mengikuti pelatihan selama delapan hari.

Samsul mengaku memperoleh banyak pengetahuan, terutama mengenai teknik fermentasi air dan pakan yang menjadi kunci keberhasilan budidaya bioflok.

"Selama lapan hari banyak perkara yang saya dapat, terutama tentang fermentasi. Hari ini kami lihat hasilnya ketika melepaskan benih ikan, air fermentasi yang berjaya membuat benih bergerak aktif," ujar Samsul.

Ia mengatakan seluruh materi yang dipelajari, mulai dari pembuatan kolam, proses fermentasi, hingga penyusunan pakan, dinilai jelas dan dapat diterapkan di Malaysia.

Ikan Patin Memiliki Nilai Tinggi di Malaysia

Dalam kesempatan itu, Samsul juga mengungkapkan bahwa ikan patin memiliki nilai ekonomi yang tinggi di Malaysia karena memiliki banyak penggemar.

Salah satu olahan paling populer adalah patin masak tempoyak, yakni hidangan ikan patin yang dimasak menggunakan fermentasi daging durian.

"Di Malaysia ikan patin berharga kerana ramai penggemarnya. Yang paling terkenal ialah patin masak tempoyak," katanya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh di Mahad Al Zaytun dapat diterapkan untuk mengembangkan budidaya ikan patin di Malaysia dengan kualitas yang lebih baik.

Komitmen Al Zaytun Membangun Kemandirian Pangan

Melalui pengembangan bioflok, Mahad Al Zaytun menunjukkan komitmennya dalam membangun sistem ketahanan pangan mandiri. Budidaya ikan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi internal secara berkelanjutan sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, termasuk peserta pelatihan dari luar negeri.

Teknologi bioflok yang diterapkan di Mahad Al Zaytun tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada pengelolaan lingkungan budidaya yang lebih efisien, sehat, dan berkelanjutan. (Saheel untuk indonesia)