Friday, 28 August 2026

Peringatan HUT Ke 81 RI: Datuk Sir Imam Prawoto tekankan Kemerdekaan Harus Diisi dengan Pembangunan Manusia Berilmu dan Berkarakter

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Dupacara pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Arena Olahraga Palagan Agung, Kampus Al-Zaytun, Indramayu, Senin (17/8/2026). Datuk Sir Imam Prawoto menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan amanah bagi setiap generasi untuk menjaga keberlanjutan bangsa. Salah satu cara mewujudkannya adalah melalui pembangunan manusia yang memiliki kapasitas keilmuan, keterampilan, dan karakter. 

Kemerdekaan Indonesia tidak cukup hanya diperingati sebagai momentum sejarah. Kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan manusia yang berilmu, terampil, berkarakter, serta mampu beradaptasi menghadapi perubahan zaman.

Kemerdekaan sebagai Amanah Setiap Generasi

Datuk Sir Imam Prawoto mengatakan, kemerdekaan tidak semestinya hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah. Lebih dari itu, kemerdekaan menjadi tanggung jawab yang harus diteruskan oleh setiap generasi melalui berbagai kontribusi bagi bangsa.

“Kemerdekaan tidak hanya kita kenang sebagai peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah amanah bagi setiap generasi untuk menjaga keberlanjutan bangsa melalui pembangunan manusia yang berilmu, terampil, berkarakter, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu ruang penting dalam mengisi kemerdekaan. Melalui pendidikan, generasi muda didorong untuk terus meningkatkan keilmuan, menguasai keterampilan, sekaligus membentuk karakter.

Ia menjelaskan bahwa ilmu, keterampilan, dan karakter memiliki fungsi yang saling melengkapi.

“Ilmu mengajarkan kita berpikir, keterampilan melatih kita bertindak, karakter memberikan arah agar keduanya digunakan secara benar dan bertanggung jawab,” katanya.

Pendidikan Tidak Sekadar Membentuk Manusia Berpengetahuan

Datuk Sir Imam Prawoto menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang memiliki banyak pengetahuan.

Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk manusia yang dapat berpikir, bekerja, berkomunikasi, mengambil tanggung jawab, serta menjalani kehidupan secara dinamis di tengah masyarakat nasional maupun internasional.

“Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang mengetahui banyak hal. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu berpikir, bekerja, berkomunikasi, mengambil tanggung jawab, dan hidup secara dinamis di tengah masyarakat nasional maupun antarbangsa,” tuturnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi para pelajar dan generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan secara utuh. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga melalui pembentukan kepribadian dan kemampuan beradaptasi.

Dorong Generasi Muda Kuasai Bahasa Antarbangsa

Dalam amanatnya, Datuk Sir Imam Prawoto juga memberikan pesan khusus kepada para pelajar untuk terus mengembangkan diri dan memperkuat berbagai kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Ia mendorong generasi muda untuk memiliki akidah yang kokoh, berakhlak mulia, berilmu luas, berketerampilan tinggi, serta memiliki kemampuan intelektual dan fisik.

Selain itu, penguasaan bahasa antarbangsa dinilai penting agar generasi muda mampu berinteraksi dan beradaptasi, baik di lingkungan bangsa sendiri maupun dalam masyarakat dunia.

“Kuasailah bahasa-bahasa antarbangsa agar kalian mampu hidup secara dinamis di lingkungan bangsa sendiri maupun masyarakat dunia,” pesannya kepada para peserta upacara.

Merdeka Ruh, Merdeka Fikir, dan Merdeka Ilmu

Datuk Sir Imam Prawoto kemudian mengaitkan arah pembangunan manusia tersebut dengan risalah Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi, dan perdamaian.

Menurutnya, pendidikan diarahkan untuk membangun masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi sekaligus mewujudkan semangat “Merdeka Ruh, Merdeka Fikir, dan Merdeka Ilmu.”

Ia menegaskan bahwa toleransi dan perdamaian tidak boleh berhenti sebagai gagasan atau teori. Nilai tersebut harus diwujudkan melalui perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Toleransi dan perdamaian tidak boleh berhenti sebagai teori. Keduanya harus diwujudkan melalui sikap menghargai perbedaan, membangun kerja sama, menjaga persatuan, menyelesaikan persoalan dengan bijaksana, serta memberikan manfaat kepada masyarakat,” ungkapnya.

Al-Zaytun sebagai Ekosistem Pendidikan

Dalam amanat tersebut, Datuk Sir Imam Prawoto juga menggambarkan lingkungan pendidikan Al-Zaytun sebagai sebuah ekosistem yang mencakup sekolah, asrama, dan seluruh lingkungan pendidikan.

Menurutnya, seluruh bagian tersebut memiliki peran dalam proses pembentukan karakter peserta didik.

“Sekolah, asrama, dan seluruh lingkungan Al-Zaytun adalah satu ekosistem pendidikan,” katanya.

Ia menjelaskan, melalui ekosistem tersebut, peserta didik ditempa menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta memiliki ketangguhan secara fisik dan mental.

Siapkan SDM Menghadapi Perubahan Zaman

Menutup amanatnya, Datuk Sir Imam Prawoto mengajak seluruh generasi muda untuk menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan siap menghadapi berbagai kondisi.

Ia menekankan pentingnya membangun manusia yang terampil, berilmu, dan berkarakter agar mampu menghadapi dinamika kehidupan, baik pada masa kini maupun masa mendatang.

“Jadilah sumber daya manusia yang tangguh, terampil, berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi berbagai situasi, kondisi, serta perubahan zaman hari ini maupun di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Amanat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Al-Zaytun. Momentum kemerdekaan tidak hanya dimaknai melalui upacara, tetapi juga melalui refleksi mengenai tanggung jawab pendidikan dalam menyiapkan generasi yang mampu meneruskan keberlanjutan bangsa.

Datuk Sir Imam Prawoto kemudian menutup amanatnya dengan menyampaikan ucapan “Dirgahayu Republik Indonesia ke-81” dan seruan kemerdekaan kepada seluruh peserta upacara. (Saheel untuk Indonesia)