Thursday, 11 June 2026

Seminar Internasional IAI Al-Zaytun Indonesia Bahas Masa Depan Pendidikan, AI, dan Toleransi Antaragama

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia kembali menggelar Seminar Internasional yang menghadirkan sejumlah guru besar dan akademisi nasional maupun internasional untuk membahas masa depan pendidikan, perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga dialog lintas agama dan budaya di era modern.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al-Zaytun, Indramayu itu menghadirkan berbagai pemateri, di antaranya Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., Prof. Idzam Fautanu, M.A., Prof. Joshua David Hollmann dari Concordia University St. Paul Amerika Serikat, serta Dr. Irvan Iswandi, S.E., M.T.

Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman Digital

Dalam pemaparannya, Prof. Aan Hasanah menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang sangat cepat. Menurutnya, pendidikan tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang adaptif, kritis, berkarakter, dan memiliki literasi digital yang kuat.

Ia juga menyinggung ancaman menurunnya kualitas pendidikan di tengah derasnya arus informasi digital dan budaya instan generasi muda. Perubahan dunia kerja akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan dinilai menjadi tantangan serius yang harus dijawab perguruan tinggi.

Budaya Populer dan Pergeseran Spiritualitas Generasi Muda

Sementara itu, Prof. Idzam Fautanu membahas fenomena pergeseran ruang spiritual generasi muda ke budaya populer dan ruang digital. Menurutnya, media sosial, film, hingga budaya visual modern kini menjadi ruang baru pencarian makna hidup dan spiritualitas generasi muda.

Ia menilai pendekatan keagamaan di era digital perlu lebih terbuka dan mampu berdialog dengan budaya populer tanpa kehilangan nilai moral dan spiritualitas.

Dialog Antaragama dan Nilai Toleransi

Dalam seminar tersebut, Prof. Joshua David Hollmann juga menyampaikan materi mengenai hubungan agama-agama Abrahamik serta pentingnya toleransi antarumat beragama. Ia menjelaskan bahwa Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki akar sejarah dan nilai kemanusiaan yang sama melalui figur Nabi Ibrahim.

Menurutnya, ajaran kasih, perdamaian, dan penghormatan terhadap sesama manusia menjadi titik temu penting antaragama yang perlu terus diperkuat di tengah tantangan dunia modern.

Etika Digital dan Tantangan Artificial Intelligence

Selain itu, Dr. Irvan Iswandi memaparkan pentingnya etika digital berbasis nilai teologis Islam dalam tata kelola pendidikan tinggi modern. Ia menyoroti berbagai persoalan seperti penyalahgunaan data, ancaman keamanan siber, plagiarisme berbasis AI, hingga pentingnya integritas akademik dalam penggunaan teknologi.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus tetap diimbangi dengan tanggung jawab moral, etika, dan nilai kemanusiaan agar transformasi digital tidak justru menimbulkan krisis sosial baru.

Mahasiswa Menilai Seminar Sangat Relevan

Di akhir kegiatan, reporter Prima FM 95,8 FM, Sahil, turut mewawancarai dua mahasiswa Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia terkait pandangan mereka terhadap seminar internasional tersebut.

Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Salbana Zidul Ramadhan, mengaku tertarik dengan pemaparan Prof. Aan Hasanah mengenai pentingnya menjaga kualitas pendidikan di tengah perkembangan zaman digital.

“Yang paling menarik menurut saya ketika Prof. Aan Hasanah menyampaikan bahwa untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak perlu menggunakan bom atom atau roket, tetapi cukup dengan merendahkan kualitas pendidikannya. Itu sangat relevan dengan kondisi generasi muda sekarang di tengah banyaknya konten yang tidak berkualitas di media digital,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pemaparan Prof. Joshua David Hollmann mengenai toleransi antaragama.

“Toleransi itu bukan sesuatu yang mudah dan membutuhkan perjuangan. Saya melihat Al-Zaytun masih terus memperjuangkan nilai toleransi dan perdamaian. Baru kali ini saya mendengar pemaparan seorang pendeta yang menjelaskan bahwa Islam dan Kristen sama-sama mengajarkan kasih terhadap sesama,” katanya.

Harapan Mahasiswa untuk Seminar yang Lebih Terbuka

Sementara itu, mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara, Muhammad Zahwal Alif, menilai seminar internasional seperti ini penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap keberagaman.

“Seminar seperti ini seharusnya bisa lebih terbuka untuk masyarakat luas karena Indonesia penuh keberagaman agama dan budaya. Perbedaan itu sebenarnya memiliki esensi yang sama, hanya cara penyampaiannya yang berbeda,” ujarnya

Ia berharap kegiatan akademik lintas perspektif seperti ini dapat terus diperluas agar menjadi ruang pembelajaran sosial bagi masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Salbana juga berharap seminar internasional di Al-Zaytun dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak mahasiswa.

“Diskusi lintas perspektif seperti ini sangat dibutuhkan generasi muda agar tidak mudah terpolarisasi. Kita sebagai Gen Z punya peluang mengisi ruang digital dengan konten yang lebih bermakna,” katanya.

Pendidikan Masa Depan Tidak Hanya Soal Teknologi

Dari berbagai materi yang disampaikan para profesor dan akademisi, seminar internasional ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan tidak hanya berbicara mengenai digitalisasi dan teknologi, tetapi juga bagaimana manusia tetap mampu menjaga nilai moral, spiritualitas, etika, serta kemanusiaan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. (Sahil untuk Indonesia)