Indramayu, lognews.co.id - Di hadapan sekitar 50 profesor dari berbagai perguruan tinggi Indonesia yang hadir dalam peringatan Hari Lahir Pancasila di Masjid Rahmatan Lil 'Alamin, Ma'had Al-Zaytun, Syaykh Al-Zaytun Syaykh Panji Gumilang tidak sekadar berbicara tentang pendidikan. Ia menuturkan perjalanan panjang yang menurutnya menjadi awal lahirnya Ma'had Al-Zaytun dan gagasan besar pembangunan Indonesia melalui pendidikan.
Kisah itu dimulai ketika dirinya berada di Malaysia Timur, Sabah, selama hampir sepuluh tahun dalam tugas yang berkaitan dengan Rabithah Alam Islami.
Saat itu, menurut Syaykh Panji Gumilang, kehidupan di Malaysia terasa nyaman. Kebutuhan hidup tersedia, pekerjaan berjalan, dan banyak rekannya memilih tetap tinggal di sana. Namun di dalam dirinya muncul panggilan yang berbeda.
"Kami menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza. Setelah itu saya bertanya kepada kawan-kawan, apakah kalian mau pulang ke Indonesia? Mereka menjawab tidak. Mereka merasa lebih tenteram di sana. Tetapi saya mengatakan, saya ingin pulang untuk mendirikan tempat pendidikan," kenangnya.
Keputusan itu dianggap nekat. Bahkan sebagian temannya menyebutnya sebagai mimpi yang terlalu besar. Namun ia tetap pulang ke Indonesia dengan sebuah keyakinan bahwa cita-cita harus digambar terlebih dahulu sebelum diwujudkan.
Ia mengaku membeli berbagai buku referensi dan ensiklopedia internasional, termasuk Encyclopaedia Britannica edisi terbaru saat itu. Meski kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas, ia mempelajarinya perlahan melalui kamus dan berbagai bacaan.
"Saya membaca Ibnu Arabi. Kalau punya cita-cita, lukiskan. Setelah dilukis, laksanakan," ujarnya.
Menggambar Masa Depan di Atas Kertas
Bukan seorang arsitek, Syaykh Panji Gumilang mengaku hanya menggambar apa yang ada dalam pikirannya. Ia membuat sketsa bangunan bertingkat, kawasan pendidikan, masjid, asrama, dan berbagai fasilitas yang kemudian menjadi embrio Ma'had Al-Zaytun.
Ia lalu mendatangi sejumlah tokoh nasional. Salah satu yang disebutnya adalah almarhum Adi Sasono.
Ketika melihat gambar-gambar tersebut, Adi Sasono disebut sempat mengatakan bahwa itu seperti mimpi di siang bolong.
"Saya jawab, memang saya murid Ibnu Arabi. Mimpi dulu. Bagus mimpi di siang bolong, karena ketika bangun masih ada matahari," kata Syaykh Panji Gumilang sambil mengenang.
Ia juga berdiskusi dengan sejumlah tokoh pemikir dan akademisi. Banyak yang mempertanyakan apakah model pendidikan seperti itu masih relevan pada abad ke-21. Namun menurutnya, selama bangsa Indonesia belum memiliki pemerataan pendidikan yang baik, pembangunan sarana pendidikan tetap menjadi kebutuhan.
Pendidikan yang Berawal dari Pertanian
Dalam pidatonya, Syaykh Panji Gumilang juga menceritakan pendidikan yang diterimanya sejak kecil dari kedua orang tuanya.
Ia mengaku berasal dari keluarga petani. Namun pertanian yang diajarkan bukan sekadar mencangkul sawah, melainkan mengelola manusia dan sumber daya.
Sejak kecil ia dibiasakan mengamati para pekerja di lahan pertanian milik keluarga. Ia harus mengetahui jumlah pekerja, luas lahan yang digarap, kondisi keluarga para pekerja hingga kebutuhan anak-anak mereka.
Jika ada anak petani yang tidak sekolah karena tidak memiliki buku, orang tuanya akan meminta agar kebutuhan sekolah anak tersebut dibantu.
"Itulah pelajaran manajemen pertama yang saya dapatkan," tuturnya.
Menurutnya, pengalaman itulah yang kemudian mempengaruhi cara berpikirnya dalam membangun sistem pendidikan dan ekonomi di Ma'had Al-Zaytun.
Menjual Rumah Demi Sebuah Cita-cita
Setelah kembali ke Indonesia, Syaykh Panji Gumilang mengajak sejumlah sahabatnya bergabung dalam proyek pembangunan yang saat itu belum memiliki bentuk nyata.
Salah satu tantangan terbesar adalah pendanaan.
Menurutnya, pembangunan Ma'had Al-Zaytun tidak dimulai dengan uang yang besar, tetapi dengan semangat berinfak dan berkorban.
Ia menceritakan bagaimana sejumlah pendukung menjual rumah, tanah, dan aset yang mereka miliki untuk membeli lahan yang lebih luas di luar Jakarta.
Dana-dana itulah yang kemudian menjadi modal awal pembebasan lahan dan pembangunan kawasan pendidikan yang kini dikenal sebagai Ma'had Al-Zaytun.
Dari Hutan Belantara Menjadi Kawasan Pendidikan
Syaykh Panji Gumilang mengisahkan bahwa lokasi Ma'had Al-Zaytun saat ini dulunya merupakan kawasan yang masih berupa ilalang dan semak belukar.
Banyak pihak mempertanyakan mengapa ia memilih lokasi yang jauh dari pusat kota.
Jawabannya sederhana.
"Kalau membeli tanah di tengah kota, uang kami hanya cukup untuk beberapa meter saja. Karena itu kami memilih tempat yang lebih luas untuk membangun masa depan," katanya.

Gambar 1: Masjid Rahmatan Lil'alamin dan Gedung Berasrama di Ma'had Al-Zaytun
Bersama sejumlah insinyur dan arsitek, ia mulai menerjemahkan gambar-gambar sederhana yang dibuatnya menjadi rancangan bangunan nyata.
Nama-nama seperti Bambang Abdussyukur, Dr. Abdurrahman, dan Dr. Asrurifa disebut sebagai bagian dari tim yang membantu mewujudkan berbagai fasilitas di Ma'had Al-Zaytun.
Membangun dengan Mimpi Besar
Menurut Syaykh Panji Gumilang, pembangunan Ma'had Al-Zaytun tidak pernah dipandang sebagai proyek jangka pendek.
Ia bahkan menyebut bahwa apa yang telah berdiri saat ini baru sekitar dua setengah persen dari keseluruhan cita-cita yang ingin diwujudkan.
Salah satu simbol mimpi besar tersebut adalah pembangunan Menara Pemuda dan Perdamaian yang dirancang menjulang lebih tinggi dari berbagai menara lain di sekitarnya.
"Mimpi itu harus besar. Kalau kecil, selesai satu generasi. Kalau besar, menjadi pekerjaan banyak generasi," ujarnya.
Pendidikan untuk Indonesia Raya
Dalam bagian akhir pidatonya, Syaykh Panji Gumilang menjelaskan bahwa seluruh pembangunan yang dilakukan di Ma'had Al-Zaytun bertujuan melahirkan manusia Indonesia yang berpengetahuan, beradab, dan mampu membangun bangsanya sendiri.
Ia memaparkan gagasan besar pembangunan 500 pusat pendidikan nasional berasrama yang terintegrasi sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Menurutnya, pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola pangan, ekonomi, teknologi, dan kehidupan sosial secara berkelanjutan.
Di hadapan para profesor yang hadir, ia menyebut cita-cita tersebut sebagai bagian dari perjalanan panjang menuju "Indonesia Abadi", sebuah Indonesia yang kuat karena pendidikan, ketahanan pangan, dan persatuan bangsanya.
Bagi Syaykh Panji Gumilang, perjalanan dari Malaysia hingga berdirinya Ma'had Al-Zaytun bukanlah akhir. Itu hanyalah awal dari mimpi yang menurutnya masih terus dibangun hingga hari ini. (Husna untuk Indonesia)



