INDRAMAYU, lognews.co.id – Di tengah semarak Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Ma’had Al-Zaytun kembali menghadirkan tradisi khas yang sarat makna, yakni penggunaan daun jati sebagai pembungkus daging qurban. Tradisi ini bukan sekadar cara membungkus daging, tetapi menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan, pelestarian budaya lokal, sekaligus media pendidikan karakter bagi para pelajar.
Di lingkungan Kampus Al-Zaytun, pepohonan jati tumbuh rindang dan menjadi bagian dari ekosistem hijau kawasan pendidikan tersebut. Dari pepohonan itulah daun-daun jati dipetik untuk digunakan sebagai pembungkus daging qurban yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Tradisi Ramah Lingkungan yang Tetap Dijaga
Al-Zaytun tetap mempertahankan penggunaan daun jati sebagai pembungkus alami. Tradisi ini menghadirkan nuansa sederhana namun memiliki nilai ekologis yang tinggi.

Tradisi membungkus makanan menggunakan daun jati sendiri telah lama dikenal dalam budaya kuliner Nusantara, seperti pada nasi jamblang khas Cirebon, nasi pecel, hingga tempe tradisional.
Pelajar Ikut Memetik dan Menyiapkan Daun Jati
Yang menarik, proses pengumpulan daun jati di Al-Zaytun tidak dilakukan oleh panitia semata. Para pelajar juga terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
Dengan penuh semangat, mereka bersama-sama memetik daun jati dari lingkungan kampus, mengumpulkannya, lalu menyiapkannya untuk digunakan sebagai pembungkus daging qurban.

Kegiatan sederhana itu justru menjadi sarana pendidikan karakter yang nyata. Para pelajar belajar tentang kerja sama, gotong royong, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga tradisi yang bermanfaat bagi lingkungan.
Di sela aktivitas tersebut, suasana kebersamaan tampak begitu hangat. Para pelajar saling membantu sambil bercengkerama, menciptakan pengalaman pembelajaran sosial yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas.
Tidak Hanya Membungkus, Pelajar Juga Terlibat dalam Distribusi
Keterlibatan pelajar tidak berhenti pada proses pengumpulan daun jati. Mereka juga ikut membantu proses pemotongan, pembungkusan, hingga pendistribusian daging qurban kepada masyarakat di sekitar Kampus Al-Zaytun.

Aktivitas itu menjadi bagian dari pendidikan praktik sosial yang selama ini diterapkan di lingkungan Al-Zaytun. Para pelajar diajak memahami makna qurban secara langsung, bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama.
Suasana distribusi daging qurban berlangsung penuh kebersamaan. Warga sekitar kampus tampak antusias menerima paket qurban yang dibungkus daun jati, menghadirkan nuansa tradisional yang kini mulai jarang ditemukan.
Qurban sebagai Pendidikan Karakter dan Kepedulian Sosial
Tradisi penggunaan daun jati di Al-Zaytun menunjukkan bahwa ibadah qurban dapat menjadi media pendidikan yang luas. Tidak hanya tentang penyembelihan hewan dan pembagian daging, tetapi juga tentang membangun kesadaran lingkungan, memperkuat solidaritas sosial, serta menanamkan nilai kebersamaan sejak dini.

Penggunaan pembungkus alami juga menjadi pengingat bahwa tradisi lokal dapat berjalan seiring dengan semangat pelestarian lingkungan modern.
Di tengah perkembangan zaman yang serba instan dan praktis, Al-Zaytun memilih mempertahankan tradisi sederhana yang penuh makna. Daun jati bukan hanya pembungkus daging qurban, tetapi juga simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai kemanusiaan. (Saheel untuk Indonesia)



