lognews.co.id, Cambridge - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), otomatisasi industri, dan transformasi digital global mulai mengubah cara dunia kerja menilai kompetensi lulusan perguruan tinggi. Sejumlah jurusan yang selama puluhan tahun dianggap menjanjikan kini dinilai menghadapi tantangan relevansi akibat perubahan kebutuhan industri yang berlangsung sangat cepat. (20/5/26).
Kajian yang dilakukan ekonom ketenagakerjaan dari Harvard University, David J. Deming dan Kadeem Noray, menunjukkan beberapa program studi tradisional mulai mengalami penurunan nilai kompetitif dalam jangka panjang apabila tidak diimbangi pembaruan keterampilan secara berkelanjutan.
Penelitian tersebut menyoroti bahwa lulusan dari bidang-bidang teknologi intensif memang memperoleh keuntungan tinggi pada awal karier. Namun, pendapatan dan daya saing mereka cenderung menurun lebih cepat ketika keterampilan yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan perkembangan teknologi terbaru.
“Pendapatan lulusan dari bidang teknologi intensif dapat menurun seiring perubahan kebutuhan industri karena pekerja harus terus beradaptasi dengan jenis pekerjaan yang berubah sangat cepat,” demikian kesimpulan studi tersebut.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa gelar akademik tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran utama dalam dunia kerja modern. Perusahaan kini lebih menekankan penguasaan keterampilan spesifik, kemampuan adaptasi, kreativitas, serta kompetensi lintas disiplin.
Selain itu, laporan dari Harvard Business School juga menunjukkan terjadinya perubahan pola perekrutan tenaga kerja profesional, termasuk terhadap lulusan Master of Business Administration (MBA). Sejumlah perusahaan besar mulai mengurangi ketergantungan pada gelar formal dan lebih memprioritaskan kemampuan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri digital.
Perubahan tren tersebut turut memengaruhi jurusan-jurusan humaniora dan ilmu sosial. Data survei akademik menunjukkan minat mahasiswa terhadap program studi humaniora mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya fokus terhadap bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Jurusan yang Dinilai Mulai Kehilangan Relevansi
Berdasarkan kajian tersebut, terdapat sejumlah jurusan yang dinilai menghadapi tantangan besar di masa depan apabila kurikulumnya tidak terus diperbarui mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Beberapa jurusan yang disebut mulai kehilangan relevansi antara lain Administrasi Bisnis umum, Ilmu Komputer tradisional, Teknik Mesin, Akuntansi, Biokimia, Psikologi tingkat sarjana, Bahasa Inggris, Sosiologi, Sejarah, hingga Filsafat.
Administrasi Bisnis umum dinilai menghadapi persaingan ketat karena banyak perusahaan kini lebih mencari spesialis dengan keterampilan tertentu dibanding lulusan generalis.
Ilmu Komputer tetap menjadi bidang penting, namun perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat keterampilan teknis mudah usang sehingga lulusan dituntut terus memperbarui kemampuan mereka.
Sementara itu, bidang Akuntansi mulai terdampak otomatisasi dan penggunaan AI dalam pengolahan data keuangan, audit, hingga pelaporan bisnis.
Jurusan humaniora seperti Sejarah, Bahasa Inggris, dan Filsafat tetap memiliki nilai akademik tinggi dalam membangun kemampuan berpikir kritis. Namun, pasar kerja modern dinilai semakin menuntut keterampilan praktis dan spesifik yang langsung terhubung dengan kebutuhan industri.
Dunia Kerja Kini Mencari Keterampilan Hibrida
Meski demikian, para akademisi menegaskan bahwa suatu jurusan tidak sepenuhnya “mati” atau kehilangan fungsi. Tantangan utama justru terletak pada kemampuan lulusan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Riset Harvard merekomendasikan pengembangan keterampilan hibrida yang menggabungkan kemampuan teknis dengan kreativitas, komunikasi, analisis data, serta kecerdasan sosial.
Bidang yang diperkirakan tetap memiliki prospek kuat ke depan antara lain Ilmu Data dan Analisis, AI dan Machine Learning, Ilmu Lingkungan dan Keberlanjutan, Teknologi Kesehatan, serta Pemasaran Digital berbasis teknologi.
Selain itu, kewirausahaan berbasis inovasi juga dipandang menjadi salah satu jalur karier yang semakin penting di tengah perubahan ekonomi global.
Para ahli pendidikan menilai mahasiswa masa kini perlu memandang kuliah bukan sekadar memperoleh ijazah, melainkan membangun kemampuan belajar sepanjang hayat atau lifelong learning. Dalam era ekonomi digital, kemampuan beradaptasi dan memperbarui kompetensi dinilai menjadi faktor utama untuk bertahan di dunia kerja.
Perubahan tersebut sekaligus menjadi sinyal bagi perguruan tinggi untuk terus memperbarui kurikulum agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri masa depan tanpa menghilangkan nilai dasar pendidikan sebagai sarana pengembangan intelektual dan karakter manusia. (Amri-untuk Indonesia)



