Friday, 22 May 2026

Al-Zaytun Membentuk Kesadaran Manusia untuk Terus Belajar

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Ali Aminulloh

lognew.co.id - Di sebuah ruang kuliah, seorang mahasiswa baru duduk dengan rambut yang mulai memutih. Tangannya tak lagi secepat anak-anak muda mengetik catatan di layar laptop. Namun matanya menyala. Di usianya yang tidak lagi muda, ia memilih kembali belajar.

Sementara di luar sana, banyak orang justru menyerah sebelum memulai.

“Buat apa kuliah? Kerjaan sudah ada.”

“Umur sudah tua.”

“Lulus juga belum tentu kaya.”

Kalimat-kalimat itu terdengar biasa. Diucapkan berulang, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sampai akhirnya pendidikan hanya dipandang sebagai alat mencari pekerjaan. Ketika pekerjaan sudah didapat, sekolah dianggap selesai.

Padahal hakikat pendidikan jauh lebih besar daripada sekadar mencari nafkah.

Pendidikan sejatinya adalah proses menanam kesadaran dan menumbuhkan kemanusiaan.

Di tengah dunia modern yang semakin pragmatis, Syaykh Al-Zaytun menghadirkan teladan yang tidak biasa. Pada usia sekitar 70 tahun, beliau duduk di bangku Magister Pertanian. Lalu pada usia 78 tahun, kembali menempuh program doktoral ilmu hukum.

Banyak orang bertanya dalam hati: untuk apa?

pkbm002

Dari sisi jabatan, beliau sudah berada di posisi tertinggi sebagai pemimpin lembaga besar. Dari sisi usia, beliau telah melewati masa-masa produktif menurut ukuran umum masyarakat. Secara pribadi, mungkin tidak ada lagi keuntungan material yang harus dikejar.

Namun justru di situlah letak pelajaran terbesarnya.

Beliau sedang memberikan uswah hasanah bahwa belajar bukan tentang usia, bukan tentang gengsi, dan bukan semata tentang pekerjaan. Belajar adalah kesadaran hidup.

Kesadaran itulah yang dalam gagasan trilogi Syaykh Al-Zaytun dibangun melalui tiga fondasi utama: kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.

Kesadaran filosofis membuat manusia tidak berhenti bertanya dan berpikir. Ia sadar bahwa ilmu tidak pernah selesai. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia memahami luasnya ketidaktahuan dirinya. Karena itu, pendidikan bukan hanya mengisi kepala, tetapi membangun cara pandang hidup.

Kesadaran ekologis menempatkan manusia sebagai penjaga kehidupan. Ilmu tidak boleh melahirkan keserakahan yang merusak bumi. Pendidikan harus melahirkan manusia yang memahami hubungan harmonis antara manusia, alam, dan masa depan peradaban.

Sedangkan kesadaran sosial mengajarkan bahwa ilmu harus menghadirkan manfaat bagi sesama. Orang terdidik bukan sekadar orang yang memiliki ijazah, melainkan orang yang mampu menghadirkan ketenangan, toleransi, dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Karena itu, ketika Al-Zaytun ditetapkan sebagai pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi, dan perdamaian menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi, maka seluruh civitasnya dituntut untuk terus belajar. Pendidikan harus terukur, memiliki strata, dan berkembang secara berkelanjutan.

Sebab sebuah lembaga besar tidak dibangun hanya dengan gedung yang megah, tetapi dengan manusia-manusia yang terus bertumbuh.

Lalu mengapa kita harus terus sekolah?

Untuk diri sendiri, pendidikan meningkatkan harga diri. Orang yang berilmu memiliki cara pandang yang lebih luas dalam menghadapi hidup. Pendidikan memperluas relasi, membuka ruang pergaulan, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Bahkan dalam perspektif spiritual, belajar adalah ibadah yang bernilai pahala.

Untuk keluarga, pendidikan menjadikan seseorang teladan bagi anak dan cucunya. Anak-anak tidak hanya mendengar nasihat tentang pentingnya sekolah, tetapi melihat langsung contoh nyata dari orang tuanya. Pendidikan juga membuka peluang ekonomi yang lebih baik dan memperbesar kemampuan keluarga menghadapi perubahan zaman.

pkbm003

Dan untuk negara, pendidikan adalah pondasi kemajuan bangsa. Semakin tinggi kualitas pendidikan masyarakat, semakin meningkat pula Indeks Pembangunan Manusia. Dari pendidikan lahir budaya berpikir, budaya disiplin, budaya toleransi, dan budaya membangun peradaban.

Bangsa besar bukan bangsa yang sekadar kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang kaya kesadaran.

Maka pertanyaan sesungguhnya bukan lagi “buat apa kuliah?”

Melainkan: sampai kapan manusia berhenti belajar untuk menjadi manusia yang lebih utuh?
(Saheel untuk Indonesia)