Saturday, 09 May 2026

PKBM Al Zaytun Antar Ratusan Warga Belajar Menuntaskan Pendidikan yang Pernah Terhenti

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd. ( Tutor PKBM Al Zaytun)

lognews.co.id, Indramayu - Selametan Kelulusan Paket C PKBM Al Zaytun dan Kisah Para Pembelajar Sepanjang Hayat. Sabtu pagi, 2 Mei 2026, suasana di Wisma Tamu Al Ishlah Ma’had Al Zaytun terasa berbeda. Wajah-wajah bahagia memenuhi ruangan. Tawa, haru, dan rasa syukur menyatu dalam satu peristiwa penting: Selametan Kelulusan Paket C PKBM Al Zaytun.

keceriaan pkm

Sebanyak 273 warga belajar resmi menuntaskan perjalanan pendidikan mereka. Bagi sebagian orang, kelulusan mungkin sekadar seremoni tahunan. Namun bagi mereka yang hadir hari itu, kelulusan adalah kemenangan panjang atas keadaan, usia, keterbatasan ekonomi, dan masa lalu yang pernah membuat sekolah terasa mustahil.

 

Di antara ratusan lulusan itu, tiga nama mendapat penghargaan sebagai warga belajar berprestasi: Imas Mastini, Siti Isnaini, dan Maghfiroh.

Namun penghargaan terbesar sejatinya bukanlah piagam yang mereka terima, melainkan keberanian untuk kembali belajar setelah waktu yang lama meninggalkan bangku sekolah.

3 pkbm faforit berprestasi

Imas Mastini masih mengingat jelas alasan mengapa masa sekolahnya dulu terputus: faktor ekonomi. Pendidikan harus dikalahkan oleh keadaan hidup. Hingga suatu hari, tanpa banyak penjelasan, suaminya mengajaknya datang ke PKBM. Ia bahkan belum benar-benar memahami apa itu Paket A.

“Tahu-tahu saya sudah duduk di depan meja petugas PKBM,” kenangnya sambil tersenyum.

Saat itu tahun 2018. Telepon genggam belum banyak dimiliki orang. Sekolah malam menjadi pengalaman baru baginya. Ketika akhirnya ia memahami bahwa Paket A setara sekolah dasar, ia hanya tersenyum kecil. Namun dari situlah semuanya berubah.

Ia mulai menikmati belajar. Menikmati suasana kelas. Menikmati persahabatan yang tumbuh di antara para warga belajar dengan usia dan latar belakang berbeda. Menurutnya, para tutor di PKBM Al Zaytun begitu sabar dalam menyampaikan pelajaran, sementara sesama teman saling menguatkan satu sama lain.

Pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika mengikuti paduan suara mewakili PKBM dalam peringatan Hari Aksara di Indramayu. Saat itu ia masih duduk di Paket A. Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika dirinya bisa berdiri membawa nama lembaga pendidikan tempat ia belajar kembali.

Memasuki Paket B dan Paket C, Imas dipercaya menjadi ketua kelas. Amanah itu perlahan mengubah dirinya.

“Yang dulu pemalu jadi lebih berani. Berani bicara di depan, berani tampil,” tuturnya.

Kisah yang hampir serupa juga dialami Siti Isnaini. Masa muda yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan membuatnya menyimpan cita-cita yang tertunda begitu lama. Kesempatan belajar di PKBM Al Zaytun dianggapnya sebagai “kesempatan emas” yang tak ingin disia-siakan lagi.

Bagi Isnaini, sekolah bukan hanya soal mengejar ijazah. Di PKBM, ia menemukan banyak keterampilan hidup yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Para tutor mengajarkan berbagai keterampilan praktis, mulai dari membuat teh daun kelor, bawang goreng, hingga cuka apel.

Ia juga sangat menikmati suasana kompetitif yang hangat ketika PKBM mengadakan berbagai perlombaan antar kelas Paket A, B, dan C. Menurutnya, para siswa begitu antusias menampilkan kemampuan terbaik mereka.

Salah satu pengalaman paling membanggakan baginya adalah saat mengikuti lomba cipta puisi. Tak disangka, ia berhasil meraih juara dua.

“Alhamdulillah, itu sangat membanggakan,” katanya penuh syukur.

Sementara itu, Maghfiroh menyimpan cerita perjuangan yang tak kalah menyentuh. Di masa muda, ia lebih banyak membantu orang tuanya bekerja dibanding duduk di bangku sekolah. Kesempatan belajar baru datang ketika usia tak lagi muda.

Awalnya ia merasa canggung. Lama meninggalkan dunia pendidikan membuat semuanya terasa asing. Namun perlahan, perasaan itu berubah menjadi kebahagiaan setelah mengenal teman-teman baru dan menikmati proses belajar.

 Ada satu hal yang tak pernah memadamkan semangatnya: cuaca.

“Hujan deras, petir mengglegar, jalan berlubang-lubang, tidak mempengaruhi saya untuk berangkat sekolah,” ujarnya.

Baginya, perjalanan menuju sekolah justru menjadi kenangan yang menyenangkan. Ia masih ingat bagaimana sepulang sekolah, deretan motor keluar dari gerbang seperti iring-iringan pawai kecil dengan lampu menyala di malam hari.

“Pokoknya senang,” katanya sederhana.

lulusan pkbm 2026

Selama delapan tahun menempuh pendidikan di PKBM, ketiganya akhirnya sampai di garis akhir. Namun rupanya kelulusan bukan penutup perjalanan mereka. Ketiganya kini memiliki keinginan yang sama: melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di IAI Al Azis.

Bagi mereka, mencari ilmu adalah perjalanan sepanjang hayat yang tidak mengenal usia.

Semangat itu juga tampak pada kisah Badriyah, alumni PKBM tahun sebelumnya. Selain menjadi guru MDA, ia aktif sebagai kader Posyandu di lingkungan masyarakatnya.

Keinginannya sederhana: menambah ilmu, wawasan, pengalaman, dan memiliki ijazah setara SLTA.

Namun lebih dari itu, PKBM memberinya ruang untuk memahami arti kehidupan sosial. Ia belajar menghargai perbedaan dari teman-teman dengan beragam usia dan latar belakang.

Kesempatan menjadi kader Posyandu bermula ketika ada kebutuhan tenaga yang mampu membaca dan menulis dengan baik. Ajakan itu ia terima sebagai panggilan jiwa.

“Sedekah tidak harus uang. Bisa dengan pikiran dan tenaga,” ujarnya.

Kini, keberadaan alumni PKBM Al Zaytun mulai dilirik dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Pendidikan yang mereka tempuh tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga menumbuhkan manusia-manusia yang ingin memberi manfaat bagi sesama.

pkbm ali aminulloh

Selametan kelulusan Paket C di PKBM Al Zaytun hari itu akhirnya bukan sekadar perayaan akademik. Ia menjadi penanda bahwa harapan tidak pernah benar-benar terlambat. Bahwa pendidikan selalu memiliki pintu kembali bagi siapa saja yang ingin mengetuknya lagi.

Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan usia dan waktu, para warga belajar PKBM Al Zaytun membuktikan satu hal sederhana namun penting: cahaya ilmu bisa dinyalakan kembali, kapan saja. (Amri/Sahil untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah