Oleh : Giarto, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
lognews.co.id - Ada pemandangan yang tak biasa di Gedung Ustman, Ma’had PKBM Al-Zaytun, pada Jumat hingga Sabtu, 25–26 April 2026.
Di ruangan itu, deretan warga belajar duduk rapi berseragam, mata mereka tertuju serius pada layar laptop, jemari bergerak hati-hati menjawab soal demi soal. Tidak sedikit di antara mereka yang rambutnya telah memutih, usia pun sebagian telah melampaui setengah abad. Namun satu hal yang tak tampak menua dari wajah-wajah itu: semangat untuk belajar.
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Paket A PKBM Al-Zaytun bukan sekadar agenda evaluasi pendidikan kesetaraan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjelma menjadi potret nyata bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah dibatasi umur, dan ruang belajar selalu terbuka bagi siapa saja yang masih ingin bertumbuh.
Selama dua hari pelaksanaan, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan penuh antusiasme. Persiapan bahkan telah dilakukan sejak sepekan sebelumnya. Mulai dari pembentukan panitia, penyediaan perangkat laptop, pemasangan spanduk, konsumsi, hingga kesiapan teknis operator dan pengawas, semuanya dirancang agar pelaksanaan TKA berjalan lancar tanpa hambatan.

Hari pertama diisi dengan ujian mata pelajaran Matematika, sedangkan hari kedua dilanjutkan dengan Bahasa Indonesia. Kegiatan dimulai pukul 13.45 hingga 15.30 WIB dengan melibatkan seluruh unsur pendidikan PKBM: Kepala PKBM, sekretaris, bendahara, tutor, pengawas, operator, teknisi, hingga peserta warga belajar yang menjadi pusat dari seluruh proses ini.
Namun yang membuat pelaksanaan ini terasa berbeda bukan hanya tertibnya teknis kegiatan. Ada nuansa batin yang hangat sejak acara dimulai. Basmalah dibacakan bersama, lalu Ustadz Karim memberikan arahan yang menenangkan. Di hadapan para peserta, beliau menegaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik bukanlah sesuatu yang perlu dijadikan beban.
“TKA ini bukan untuk ditakuti. Ini adalah sarana belajar, sarana pengalaman, sarana untuk mengukur sejauh mana kita mau terus berkembang,” demikian inti pesan yang beliau sampaikan.
Kalimat sederhana itu seperti menjadi penyangga mental bagi para peserta. Ketegangan yang semula tampak perlahan berubah menjadi kesungguhan. Mereka mengerjakan soal dengan fokus, teliti, dan penuh tanggung jawab. Tidak ada wajah menyerah. Yang ada hanyalah usaha terbaik dari mereka yang sadar bahwa kesempatan belajar adalah anugerah.
Kekaguman terhadap suasana ini datang bukan hanya dari internal PKBM Al-Zaytun, tetapi juga dari pengawas eksternal. Seusai kegiatan hari pertama, Ust. Giarto mewawancarai Bapak Sapto Wihardi Eka Prasetya, S.Pd., pengawas dari PKBM Bina Warga Sandrem.
Dengan nada kagum, beliau mengaku menemukan atmosfer yang tidak biasa.
Menurutnya, pelaksanaan TKA di PKBM Al-Zaytun jauh berbeda dibandingkan PKBM lain pada umumnya. Peserta tampak begitu semangat, hadir dengan seragam rapi, disiplin, dan menunjukkan keseriusan tinggi. Lebih mengesankan lagi, warga belajar yang berusia 50 tahun ke atas justru memperlihatkan antusiasme yang luar biasa dalam mengikuti ujian.
“Ini bisa jadi contoh bagi PKBM lain,” ungkapnya singkat, sebelum menutup kesannya dengan satu kata yang penuh makna: Mantap.

Hari kedua kembali menghadirkan semangat yang sama. Basmalah kembali mengawali kegiatan, disusul arahan Ustadz Abdul Karim, S.Mn. M.Pd. yang menegaskan bahwa TKA bukan semata evaluasi administratif, melainkan bagian dari perjalanan belajar itu sendiri. Belajar, kata beliau, adalah proses perubahan: dari tidak tahu menjadi tahu, dari belum bisa menjadi lebih terampil, dari ragu menjadi percaya diri.
Pandangan tersebut seolah menemukan pembenarannya dari para pengawas lain yang hadir. Ibu Santi Nur Fitriyudin, S.Pd., pengawas dari PKBM Bina Warga Sandrem, menyampaikan kesan yang tak kalah positif. Ia melihat warga belajar PKBM Al-Zaytun memiliki energi belajar yang hidup, didukung tutor yang ramah dan suasana yang membangun.
Menurutnya, di luar sana, orang-orang dengan usia di atas 50 tahun biasanya lebih memilih menikmati waktu dengan rekreasi atau aktivitas santai. Tetapi di tempat ini, justru mereka datang untuk duduk, belajar, berpikir, dan mengerjakan ujian dengan penuh kesungguhan. Sebuah pemandangan yang menurutnya sangat jarang ditemui.
Satu kata yang ia berikan untuk PKBM Al-Zaytun: Keren.
Kesan mendalam juga datang dari para peserta sendiri. Ibu Ana Susilawati mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat mengikuti TKA yang menurutnya memberi pengalaman baru sekaligus menambah pengetahuan. Ia berharap seluruh peserta terus menjaga semangat dan tidak malas belajar.
Senada dengan itu, Ibu Sukarni menilai TKA sebagai pengalaman yang sangat berharga. Meski sempat diliputi rasa gugup, suasana yang nyaman dan dukungan tutor membuatnya lebih percaya diri dalam mengerjakan soal. Ia berharap kegiatan semacam ini terus dilaksanakan agar semakin banyak masyarakat yang termotivasi untuk belajar.
Sementara Ibu Marifah menyampaikan bahwa kebersamaan dengan teman-teman sebaya membuat proses belajar terasa menyenangkan. Baginya, kegiatan ini menjadi bukti bahwa belajar benar-benar tidak mengenal usia. Selama kemauan masih ada, kemampuan akan selalu bisa ditingkatkan.
Di sinilah sesungguhnya makna besar dari TKA Paket A PKBM Al-Zaytun menemukan wujudnya. Ini bukan hanya cerita tentang dua mata pelajaran yang diujikan, bukan sekadar soal angka nilai atau kelulusan. Ini adalah cerita tentang keberanian melawan rasa minder, tentang tekad menembus batas usia, dan tentang keyakinan bahwa manusia mulia adalah manusia yang terus belajar sepanjang hayatnya.
Ketika banyak orang merasa terlambat untuk memulai, warga belajar PKBM Al-Zaytun justru membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.
Kegiatan pun ditutup dengan hamdallah, dilanjutkan sesi foto bersama dan makan bersama yang disiapkan oleh para peserta. Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti akhir acara.
Namun sesungguhnya, yang selesai hari itu hanyalah ujian di atas kertas. Sebab semangat belajar yang menyala di hati para peserta, tampaknya baru saja dimulai. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



