Sunday, 29 March 2026

Urgensi Kemandirian Pangan: Benteng Umat Di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi Global

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Dede Nurhidin Bin Enda Rosnenda (Jakarta Utara/Angkatan 16 General)

(Khotbah Jumat di Masjid Rahmatan Lil Alamin, Al-Zaytun)

lognews.co.id, Indonesia - Ketakwaan bukan hanya diwujudkan dalam ibadah ritual semata, tetapi juga dalam bagaimana kita menyikapi kehidupan, menghadapi tantangan zaman, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. (27/3/26)

Pada hari ini, dunia sedang menghadapi ancaman krisis ekonomi global. Kita menyaksikan bagaimana harga kebutuhan pokok meningkat, distribusi pangan terganggu, dan ketergantungan kepada pihak luar menjadi semakin nyata. Kondisi ini bukan sekadar isu ekonomi, tetapi merupakan ujian bagi kekuatan dan kemandirian umat manusia.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, Khotib membawakan khutbah yang berjudul: URGENSI KEMANDIRIAN PANGAN: BENTENG UMAT DI TENGAH ANCAMAN KRISIS EKONOMI GLOBAL

Dunia hari ini sedang berada dalam situasi yang tidak menentu. Konflik dan peperangan terjadi di berbagai wilayah. Kita menyaksikan bagaimana peperangan bukan hanya menghancurkan bangunan dan merenggut nyawa, tetapi juga merusak sistem kehidupan manusia. Lahan pertanian hancur, distribusi pangan terganggu, jalur perdagangan terputus, dan pada akhirnya dunia mengalami krisis pangan yang berdampak luas hingga ke berbagai negara, termasuk kita.

Ketika perang terjadi, yang terasa bukan hanya di medan tempur, tetapi sampai ke dapur-dapur rumah tangga. Harga bahan pokok meningkat, ketersediaan berkurang, dan ketergantungan kepada pihak luar semakin terasa. Inilah yang kita sebut sebagai krisis ekonomi global yang berawal dari ketidakstabilan dunia.

Dalam kondisi seperti ini, kita diingatkan kembali oleh firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا

 وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya:

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Allah memerintahkan manusia untuk makan dan minum dari rezeki yang telah diberikan-Nya, namun dengan satu peringatan penting, yaitu agar tidak berlebihan.

Arti berlebihan dalam ayat ini tidak hanya sebatas makan yang melampaui batas, tetapi juga mencakup sikap hidup yang tidak seimbang, termasuk dalam mengelola sumber daya dan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Ketika manusia hanya menjadi konsumen tanpa menjadi produsen, ketika manusia bergantung sepenuhnya kepada pihak lain tanpa berusaha mandiri, maka pada saat itulah keseimbangan itu mulai rusak.

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah

Di sinilah kita memahami bahwa kemandirian pangan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi persoalan kekuatan dan kehormatan umat. Umat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan mudah terguncang ketika krisis datang. Umat yang bergantung kepada pihak lain akan mudah terpengaruh dan bahkan ditekan oleh pihak lain.

Sebaliknya, umat yang mandiri adalah umat yang kuat. Umat yang mampu mengelola sumber dayanya adalah umat yang siap menghadapi berbagai ujian zaman.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Artinya:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa bekerja dan berusaha adalah bagian dari kemuliaan. Kemandirian bukan hanya pilihan, tetapi merupakan ajaran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam konteks pangan, hadis ini mengajarkan bahwa umat Islam harus mampu berusaha, mampu memproduksi, dan tidak hanya bergantung kepada pihak lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jika kita renungkan lebih dalam, krisis yang kita hadapi hari ini sejatinya adalah peringatan bagi kita semua. Peringatan agar kita tidak terlena dengan kenyamanan, tidak bergantung sepenuhnya kepada sistem luar, dan mulai membangun kekuatan dari dalam diri kita sendiri.

Apa yang kita khawatirkan hari ini sebenarnya telah mulai dijawab dengan langkah nyata di lingkungan kita tinggal. Di Ma’had Al-Zaytun, kita melihat bagaimana kemandirian pangan bukan hanya menjadi wacana, tetapi telah diwujudkan dalam bentuk nyata. Lahan dimanfaatkan, pertanian dikembangkan, dan kebutuhan diupayakan untuk dipenuhi secara mandiri.

Ini adalah contoh bahwa kita mampu berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah bukti bahwa ketika kita memiliki kesadaran, memiliki kemauan, dan melakukan usaha, maka kemandirian itu bukan hal yang mustahil akan menyelamatkan kita dari krisis global.

Bayangkan jika semangat ini dimiliki oleh setiap individu, setiap keluarga, dan setiap lembaga, maka kita akan menjadi umat yang kuat, tidak mudah goyah oleh krisis, dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan dari luar.

Kemandirian pangan pada akhirnya bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal menjaga amanah Allah di muka bumi, menjaga keberlangsungan kehidupan, dan menjaga kemaslahatan umat.

Marilah kita jadikan khotbah ini sebagai pengingat bagi diri kita semua bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada jumlahnya, tetapi pada kemandiriannya. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk tidak hidup berlebihan, untuk tidak bergantung kepada pihak lain, dan untuk memulai berusaha membangun kemandirian, sekecil apapun itu.

Semoga Allah SWT menjadikan kita umat yang kuat, umat yang mandiri, dan memberikan jawaban positif dari grisis global yang menimpa dunia. (Amri-untuk Indonesia)