Oleh: Muhammad Irfan Najmi Bin Mohd Suriga, Malaysia
Khotbah Jumat di Masjid Rahmatan Lil Alamin - Al-Zaytun
lognews.co.id, Indramayu - Hari ini dunia kembali diguncang oleh ketegangan besar. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki babak baru yang semakin panas. Serangan balasan, operasi militer terbuka, dan ancaman perang regional membuat dunia berada di tepi jurang ketidakpastian. Konflik ini bukan muncul tiba-tiba; ia berakar dari sejarah panjang perebutan pengaruh, kepentingan energi, dan rivalitas ideologi yang tidak pernah selesai.
Dalam beberapa pekan terakhir, kita menyaksikan serangan drone, rudal balistik, dan operasi intelijen yang saling membalas. Negara-negara besar saling menuduh, saling mengancam, dan saling menunjukkan kekuatan. Dunia seakan kehilangan arah, kehilangan suara moral, kehilangan keberanian untuk berkata: “Cukuplah perang, mari kembali kepada perdamaian.”
Konflik global ini berdampak luas. Secara geopolitik, dunia menghadapi ancaman krisis energi, ketidakstabilan ekonomi, dan polarisasi politik. ASEAN pun tidak kebal. Ketegangan global dapat memengaruhi jalur perdagangan, keamanan kawasan, bahkan stabilitas sosial di negara-negara seperti Indonesia. Kita harus jujur: bangsa yang tidak siap secara pendidikan akan mudah terombang-ambing oleh konflik global.
Karena itu, kita membutuhkan pendidikan yang bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga menata peradaban. Pendidikan yang melahirkan manusia damai, manusia adil, manusia yang mampu menjadi penengah di tengah dunia yang retak.
Oleh itu, pada kesempatan ini, khotib akan menyampaikan khutbah dengan judul:
Peran Pendidikan dalam Menata Dunia
Menuju Perdamaian Abadi dan Keadilan Sosial
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Kita diajarkan di dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 61 yang berbunyi:
وَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah engkau kepadanya, dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Ayat ini adalah kompas moral umat manusia. Ketika ada peluang damai, maka kewajiban kita adalah menyambutnya. Kita diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk memilih jalan damai, Mengutamakan optimalisasi akal, ilmu, dan kemanusiaan.
Di sinilah gagasan besar YAB. Syaykh Al‑Zaytun menjadi sangat relevan. Beliau mengajukan visi monumental: Indonesia harus membangun 500 pusat Pendidikan berasrama dengan One Pipe Education System, masing-masing memiliki lahan seluas minimal 3.000 hektar di setiap kabupaten/kota. Ia akan menjadi sebuah ekosistem peradaban. Tempat anak-anak Indonesia ditempa menjadi manusia berkarakter, berilmu, dan berjiwa damai, sehingga siap, sanggup dan mampu untuk menata kehidupan bangsa dan negara serta dunia dengan penuh kesejahteraan dan kebahagiaan.
Al‑Zaytun telah memulainya di atas lahan 1.200 hektar. Sistem pendidikan 24 jam, 7 hari tanpa putus. Pembelajaran holistik berbasis L‑STEAMS: Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual. Semua unsur kehidupan peserta didik diintegrasikan ke dalam proses belajar. Inilah pendidikan yang menghidupkan pikiran, membentuk manusia yang utuh dan seimbang; yang memiliki karakter luhur sekaligus kompetensi unggul sehingga menjadi Masyarakat basyaron sawiyyan.
Visi ini bukan sekadar teori. Ia hidup dalam Mars Al‑Zaytun, Mars Universitas Al‑Zaytun Indonesia, dan Mars Politeknik Tanah AIR. Dengarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya:
Didalam Mars Al-Zaytun:
“Ma’had Al-Zaytun kebanggaan kita, Pusat Ilmu Allah pelita manusia, Tempat menempah manusia bertakwa, hidup rukun, aman, sentosa. Adil, Makmur, Damai, Sejahtera. Demi kejayaan umat Islam sedunia.”
“Putra putri Al-Zaytun kebanggaan kita, Penerus perjuangan harapan negara, Jujur, Amanah, dapat dipercaya, sehat, cerdas, berakhlak mulia, Siapkan diri menjadi duta bangsa, Dalam persatuan umat manusia dunia.”
“Ma’had Al-Zaytun Pusat Pendidikan, Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Tempat menempah manusia beriman, hidup bertoleransi dan perdamaian, Siapkan diri hadapi tuntutan zaman, Demi mencapai ridho Tuhan.”
“Maju, maju, maju terus maju. Maju, maju, membangun dunia.”
Di dalam Mars Universitas Al-Zaytun
“Universitas Al-Zaytun Indonesia, Pusat pembelajaran hidup bersama, Pusat pendidikan nilai universal, Dalam zona damai dan harmoni, Menjadi budaya pribadi dan bangsa, Menuju Pendidikan Antarbangsa, Capai perdamaian, hak asasi demokrasi, Pembangungan berkelanjutan dunia Sejahtera.”
“Membangun dunia terus tebarkan rahmat, Tanamkan ta’aruf kemanusiaan, Ajaran Ilahi untuk semua, Ajaran Ilahi untuk semua.”
Di dalam Mars Politeknik Tanah Al-Zaytun Indonesia Raya Jaya
“Dengan ilmu, iman, dan keterampilan, kami siap membangun peradaban, Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, Politeknik Tanah AIR harapan zaman.”
Ini bukan sekadar nyanyian. Ini adalah deklarasi peradaban. Ini adalah janji generasi. Ini adalah arah masa depan Indonesia, untuk dunia.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Syaykh Al‑Zaytun, bahwa Pendidikan sejatinya adalah proses menghidupkan pikiran. Pikiran yang hidup akan melahirkan pribadi yang berkualitas. Dan pribadi yang berkualitaslah yang mampu mengubah dunia. Melalui pendidikan, nilai ditanamkan, ilmu dikembangkan, karakter dibentuk, dan masa depan dirancang.
Maka jika dunia ingin damai, bangunlah pendidikan. Jika bangsa ingin adil, bangunlah pendidikan. Jika umat ingin maju, bangunlah pendidikan. Jika manusia ingin mampu hidup bersama, bangunlah pendidikan.
Pada hari ini saya mengajak kepada seluruh pelaku didik Kampus Al‑Zaytun: mari kita yakini bahwa pendidikan adalah jalan menuju perdamaian abadi. Mari kita integrasikan diri pada gagasan besar ini. Mari kita jadikan Al‑Zaytun sebagai pusat Pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian yang akan melahirkan Masyarakat yang sehat, cerdas, dan manuasiawi, yang akan mampu membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dunia sedang mencari suara moral. Dunia sedang mencari pusat ketenangan. Dunia sedang mencari model pendidikan yang mampu menata peradaban. Dan Al‑Zaytun lah tempatnya. Al-Zaytun lah wujudnya. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



