Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Di tengah dunia yang gaduh oleh perang dan perebutan kekuasaan, ada satu peperangan yang jauh lebih besar, yaitu perang melawan diri sendiri. Peperangan itu tidak memakai senjata, tidak menumpahkan darah, tetapi menentukan masa depan manusia.
Ramadhan datang setiap tahun untuk mengingatkan manusia akan perang itu: perang melawan hawa nafsu. Gedangan, Sukagumiwang, Indramayu Kamis, 5 Maret 2026.
Suasana sederhana di rumah Kyai Khumaedi terasa hangat. Anggota JKI berkumpul dalam sebuah agenda silaturrahim dan buka puasa bersama. Namun pertemuan ini bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi ruang perenungan tentang makna Ramadhan dan perjalanan manusia menaklukkan dirinya sendiri.

Acara dibuka oleh Kurnoto selaku pembawa acara. Selanjutnya sambutan tuan rumah, Kyai Khumaedi mengingatkan bahwa tujuan akhir kehidupan manusia adalah mencapai qalbun salim, yaitu hati yang selamat.
Menurutnya, jalan menuju hati yang selamat hanya bisa ditempuh dengan tiga modal utama: setia, jujur, dan takwa (sejuta).
“Orang kuat itu bukan yang kuat fisiknya,” ungkapnya,
“tetapi yang mampu menahan hawa nafsunya.”
Pesan itu sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Ramadhan, jelasnya, adalah momentum ketika manusia dilatih untuk memperbanyak kebaikan agar kelak kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang.
Puasa: Latihan Menjadi Manusia Kuat
Kultum Ramadhan disampaikan oleh Drs. H. Ibrahim. Ia menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi latihan untuk membentuk manusia yang istiqamah.
“Puasa adalah latihan untuk menjadi kuat,” ujarnya.
Kekuatan itu lahir dari kesabaran. Kesabaran dalam tiga hal:
1. Sabar menjalankan ketaatan kepada Allah
2. Sabar meninggalkan yang dilarang Allah
3. Sabar menghadapi musibah
Dalam ibadah puasa, ketiga kesabaran itu bertemu sekaligus. Rasa lapar dan haus menjadi latihan kesabaran yang menguatkan iman. Para ulama bahkan menegaskan bahwa puasa adalah sekolah kesabaran yang membentuk karakter manusia beriman.

Dunia yang Berperang, Manusia yang Berperang
Selanjutnya, pesan pesan dari pengurus Jamaah Kabatullah Indonesia (JKI) yang disampaikan, Ust. Ali Aminulloh (Sekretaris JKI),. Dalam pesannya mengajak peserta melihat realitas dunia. Saat ini dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik dan perang antarnegara terus terjadi. Perebutan energi dan sumber daya membuat manusia saling menghancurkan.
Namun ia mengingatkan bahwa akar dari semua konflik itu sebenarnya satu: keserakahan hawa nafsu manusia.
Ramadhan memberi pelajaran penting melalui sejarah Islam.
Pada bulan inilah terjadi tiga peristiwa besar: Perang Badar, Perang Tabuk, dan Fathu Makkah.
Tiga peristiwa besar yang berujung kemenangan. Bahkan penaklukan Mekah terjadi tanpa pertumpahan darah.
Namun Rasulullah memberi pesan yang lebih dalam. Setelah perang Badar, beliau menyebut bahwa perang terbesar bukanlah melawan musuh di medan perang, tetapi melawan hawa nafsu dalam diri manusia.
Empat Unsur Penggerak Manusia
Menurut Ust. Ali Aminulloh, dalam diri manusia ada empat unsur besar yang menggerakkan kehidupan:
1. Perut (kebutuhan makan dan minum)
2. Di bawah perut (naluri seksual)
3. Hati (penggerak keinginan)
4. Otak atau pikiran
Keempat unsur ini sesungguhnya membuat manusia berkembang. Dari kebutuhan makan lahir perdagangan dan produksi. Dari naluri keluarga lahir peradaban. Dari hati dan pikiran lahir ilmu dan kebudayaan.
Namun jika semua itu dikendalikan oleh hawa nafsu, kehancuran menjadi akibatnya.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan sungguh Kami jadikan untuk neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami.”
(QS. Al-A’raf: 179)
Karena itulah Ramadhan hadir sebagai bulan pengendalian diri.
Perut dan syahwat dikendalikan oleh puasa.
Hati dan pikiran diterangi oleh Al-Qur’an.
Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar, tetapi latihan mengendalikan seluruh diri manusia.
Apakah Al-Qur’an Sudah Turun dalam Diri Kita?
Pertanyaan penting yang diajukan dalam pertemuan itu adalah:
Apakah Al-Qur’an sudah benar-benar turun dalam diri kita?
Bukan sekadar dibaca, tetapi menjadi petunjuk hidup.
Ramadhan seharusnya mengubah manusia. Dari pribadi yang dikendalikan hawa nafsu menjadi pribadi yang dikendalikan wahyu.
Jika perubahan itu terjadi, maka di akhir Ramadhan manusia layak merayakan kemenangan.>
“Agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Metamorfosis Ramadhan
Ust. Ali menutup pesannya dengan sebuah perumpamaan sederhana.
Ramadhan seperti proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu.
Ulat yang berpuasa dalam kepompongnya akhirnya berubah menjadi makhluk baru yang indah.
Begitu pula manusia. Jika puasa benar-benar dijalankan dengan kesadaran, manusia akan lahir kembali sebagai pribadi yang lebih bersih, lebih sabar, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Ramadhan bukan hanya bulan ibadah.
Ia adalah bulan transformasi manusia.
Acara silaturrahim dan buka bersama itu pun ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Royani.
Di tengah dunia yang masih diliputi konflik dan perebutan kekuasaan, Ramadhan mengajarkan satu hal yang sangat sederhana tetapi sangat mendalam: kemenangan sejati bukanlah menaklukkan dunia, tetapi menaklukkan diri sendiri. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



