Oleh: Rafa Adliansyah Arizky bin Adam Chairurrezki (Pelajar XI IPS 3, Jakarta Selatan)
Khotbah Pelajar Ma'had Al-Zaytun di Masjid Rahmatan lil Alamin
lognews.co.id - Perkembangan zaman yang begitu cepat telah membawa umat manusia memasuki era digital dan otomatisasi. Berbagai teknologi canggih hadir membantu kehidupan, termasuk kecerdasan buatan yang kini mampu meniru sebagian kemampuan berpikir manusia. Perubahan ini membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan moral dan spiritual. (27/2/26)
Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita perlu memahami bagaimana seharusnya menempatkan diri di tengah kemajuan tersebut agar tetap berada dalam tuntunan iman dan takwa.
Pada kesempatan Jumat kali ini, Khotib menyampaikan khutbah yang berjudul: Peran Manusia di Tengah Kemajuan Kecerdasan Buatan.
Kita hidup di zaman yang penuh dengan perubahan dan kemajuan teknologi. Satu di antara perkembangan terbesar pada abad ini adalah hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Teknologi ini mampu membantu manusia dalam berbagai bidang: pendidikan, kesehatan, ekonomi, bahkan dalam kehidupan sehari-hari
Namun sebagai umat Islam, kita harus menyadari bahwa secanggih apa pun teknologi, ia tetaplah ciptaan manusia. Dan manusia sendiri adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan akal, hati, serta tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki peran utama sebagai pemimpin dan pengelola kehidupan di bumi. Maka di tengah kemajuan kecerdasan buatan, manusia tidak boleh kehilangan perannya sebagai pengendali, pengarah, dan penjaga nilai-nilai moral.
Kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan manusia menjadi lebih cepat dan efisien. Namun AI tidak memiliki iman, tidak memiliki takwa, dan tidak memiliki tanggung jawab di hadapan Allah. Manusialah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana teknologi itu digunakan.
Jika digunakan untuk kebaikan, untuk pendidikan, untuk dakwah, untuk kemaslahatan umat, maka teknologi menjadi ladang amal. Tetapi jika digunakan untuk menyebarkan kebohongan, merusak moral, atau menimbulkan kezaliman, maka manusialah yang akan menanggung akibatnya.
Oleh karena itu, peran manusia di tengah kemajuan kecerdasan buatan adalah:
1. Menjadi pengendali teknologi, bukan dikendalikan teknologi.
2. Menguatkan iman dan akhlak agar tidak kehilangan arah di tengah kemajuan zaman.
3. Menggunakan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat dan bukan untuk kerusakan.
4. Menjadikan teknologi sebagai sarana ibadah dan dakwah, bukan sebagai tujuan hidup.

Islam tidak pernah menolak kemajuan. Islam justru mendorong umatnya untuk menuntut ilmu dan berinovasi. Namun kemajuan harus selalu dibingkai dengan nilai tauhid, akhlak, dan tanggung jawab.
Marilah menjadi generasi muda yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat secara spiritual. Karena masa depan bukan hanya tentang siapa yang paling pintar menggunakan mesin, tetapi siapa yang paling bijak dalam menggunakannya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita agar mampu menjalankan peran kita sebagai khalifah di tengah perkembangan zaman yang semakin maju. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



