Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Sabtu, 14 Februari 2026, ruang meeting Majelis Guru tidak sekadar menjadi tempat rapat. Ia berubah menjadi ruang dialektika lintas generasi, yaitu ruang di mana pengalaman, idealisme, dan energi muda bertemu untuk merumuskan satu hal yang sama: bagaimana Ramadan dijalani dengan tertib, bermakna, dan beradab.
Rapat yang dipimpin Ketua Majelis Guru itu menghadirkan empat generasi sekaligus: eksponen, guru senior, alumni yang kini menjadi guru, serta organisasi pelajar (OPMAZ). Komposisi ini bukan kebetulan. Ia mencerminkan kesadaran bahwa tata kelola pendidikan tidak bisa berdiri di atas satu lapis pengalaman saja. Ia membutuhkan kesinambungan, dari memori historis hingga dinamika generasi terkini.
Koordinasi Lintas Generasi dan Lintas Unit
Pembahasan utama mengerucut pada dua agenda besar: persiapan kegiatan Ramadan dan pelantikan OPMAZ. Namun diskusi tidak berhenti pada daftar kegiatan. Ia merambah pada sistem pengaturan, distribusi peran, hingga penguatan nilai.
Agenda Ramadan dirancang secara komprehensif:
- Pengaturan shalat tarawih dan shalat fardhu
- Tadarus dan tadabbur Al-Qur’an
- Penentuan khatib Jumat dan imam
- Kegiatan Sungkai dan makan sahur
- Bakti Ramadan
- Kegiatan olahraga dan seni selama Ramadan
Semua itu dibingkai dalam koordinasi lintas instansi. Kehadiran tim unit kitchen dan unit keamanan menjadi penanda bahwa manajemen kegiatan tidak berjalan sektoral, melainkan kolaboratif. Dapur memastikan keberlangsungan konsumsi sahur dan berbuka, sementara keamanan menjamin ketertiban ibadah dan kegiatan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi juga peristiwa organisasi.
Kurikulum Mukim dan Partisipasi Santri
Rapat juga membahas rancangan kegiatan santri mukim di Ma’had. Menariknya, penyusunan kurikulum tidak sepenuhnya top-down. Santri dan guru bersama-sama merumuskan program sesuai minat pelajar. Model ini memperlihatkan pendekatan pedagogis partisipatif, di mana pelajar tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi subjek dalam perencanaan.
Di sinilah pendidikan menemukan maknanya: membentuk kemandirian, bukan sekadar kepatuhan.

OpmAZ dan Tata Kelola Tanpa Kekerasan
Agenda pelantikan OpmAZ juga dibahas dengan serius. Penekanan utama bukan hanya pada struktur organisasi, tetapi pada tata kelola kegiatan. Ditegaskan bahwa tidak boleh ada tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun. Organisasi pelajar harus menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang sehat, bukan reproduksi pola relasi kuasa yang represif.
Prinsip ini sejalan dengan budaya yang selama ini ditekankan: toleransi dan damai. Nilai yang ada pada “Moto Al Zaytun” merupakan tatanan yang rapi, tertib, dan harmonis, tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ia harus terinternalisasi dalam perilaku santri, terutama dalam relasi antar-santri. Tatanan sosial di lingkungan pendidikan menjadi cermin keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri.
Ramadan sebagai Laboratorium Peradaban
Apa yang berlangsung di ruang meeting Majelis Guru itu sesungguhnya lebih dari rapat teknis. Ia adalah proses membangun ekosistem. Ramadan dipahami bukan hanya sebagai ibadah individual, melainkan laboratorium peradaban: tempat spiritualitas, manajemen, kepemimpinan, dan budaya damai diuji sekaligus dipraktikkan.
Empat generasi duduk bersama bukan untuk nostalgia atau sekadar seremonial. Mereka merawat kesinambungan nilai. Dari eksponen hingga pelajar, semua terlibat dalam satu arus besar: memastikan bahwa Ramadan tidak hanya dirayakan, tetapi ditata dengan kesadaran, tanggung jawab, dan kolaborasi.
Di situlah pendidikan menemukan wajahnya yang paling otentik: bukan hanya mengajar, tetapi menumbuhkan. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


