Oleh: Ustazah Ridaningsih (Laporan Pengawasan Pembangunan Politeknik Al - Zaytun)
Politeknik Tanah Air Indonesia Raya Al Zaytun
lognews.co.id, Pada hari Selasa, 03 Februari 2026, telah dilaksanakan kegiatan pembobokan kepala Spun Pile sebagai bagian dari tahapan konstruksi bangunan Politeknik Tanah Air Indonesia Raya Al Zaytun. Kegiatan ini diawasi secara langsung dengan memperhatikan aspek teknis, keselamatan kerja, serta dimensi nilai yang menyertai proses pembangunan.
Sebanyak 16 personel terlibat secara aktif. Dengan menggunakan palu besi, mereka bekerja secara bergantian dan berkesinambungan. Benturan keras antara besi dan beton menghasilkan suara menghentak yang mengguncang pendengaran hingga telinga terasa pengeng, sementara tangan menahan getaran berulang yang menimbulkan kelelahan fisik. Namun demikian, tidak tampak keluh kesah. Yang tampak justru ketekunan, kegigihan, dan keikhlasan dalam bekerja.
Sebelum tahap pembobokan dilakukan, Spun Pile berukuran 18 meter telah ditanam kokoh hingga ke dasar tanah. Selanjutnya, dilakukan penyambungan dengan Spun Pile tambahan sepanjang 6 meter melalui proses pengelasan guna memastikan kekuatan struktur pondasi. Setelah proses tersebut, bagian kepala Spun Pile sengaja disisakan untuk kemudian dibobok sesuai kebutuhan konstruksi.
Hasil Pengamatan Teknis
Secara teknis, pembobokan dilaksanakan secara tepat dan terkontrol hingga menyisakan bagian-bagian besi kecil yang berfungsi sebagai penghubung antara tiang pondasi dan pilar struktur bangunan. Elemen inilah yang kelak menjadi titik temu antara fondasi yang tertanam di bumi dan bangunan yang menjulang ke atas.
Tidak ada bagian yang berlebihan. Tidak ada yang dipertahankan tanpa fungsi. Seluruh proses menunjukkan prinsip efisiensi, ketepatan, dan kesadaran terhadap tujuan akhir pembangunan.
Refleksi dan Perumusan Makna
Dalam pengamatan yang lebih mendalam, penulis menangkap bahwa proses pembobokan kepala Spun Pile ini menyerupai penyembelihan kepala (ego manusia).
Spun Pile yang telah menancap sedalam 18 meter menopang beban besar dari dalam tanah masih harus “kehilangan kepalanya”. Bagian yang tampak kokoh dan utuh justru harus dihancurkan. Yang tersisa bukan kemegahan bentuk, melainkan kesederhanaan fungsi: beberapa besi kecil yang berperan sebagai penghubung, bukan pusat perhatian.
Seolah proses ini menyampaikan pesan sunyi namun tegas:
Tugasmu bukan untuk berdiri paling tinggi,
bukan untuk memiliki kepala yang utuh dan dipuja.
Tugasmu adalah menopang (menjadi fondasi bagi sesuatu yang lebih besar,
menjadi kekuatan yang tidak terlihat, namun menentukan).
Dalam dentuman palu besi dan runtuhnya beton, ego diluruhkan. Dalam kelelahan tangan dan getaran pendengaran, lahir pelajaran tentang ketundukan, pengabdian, dan keikhlasan. Bahwa bangunan yang kokoh hanya dapat berdiri di atas fondasi yang rela merendah.

Kegiatan pembobokan kepala Spun Pile pada tanggal 03 Februari 2026 tidak hanya memenuhi standar teknis konstruksi, tetapi juga menghadirkan nilai reflektif yang mendalam. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati (baik bangunan fisik maupun bangunan manusia) selalu dimulai dari kerelaan untuk merendah, menancap kuat, dan meniadakan ego.
Laporan ini disusun sebagai catatan teknis sekaligus renungan kesadaran, agar setiap pembangunan di Al-Zaytun tidak hanya melahirkan struktur yang kokoh, tetapi juga kesadaran yang tegak dan jiwa yang hening. Alhamdulillah. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.


