Wednesday, 04 February 2026

Dzikir Jumat: Dari Mimbar Shalat ke Tanah yang Dihidupkan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 Oleh: Ali Aminulloh 

(Disarikan dari dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun oleh Ali Aminulloh)

lognews.co.id, Indonesia - Setiap Jumat, setelah Shalat Jumat ditunaikan dan jamaah masih duduk dalam keheningan saf, Al-Zaytun tidak segera bubar. Di ruang inilah Dzikir Jumat berlangsung, sebuah forum taushiyah tempat Syaykh Al-Zaytun menyampaikan pesan-pesan kehidupan kepada seluruh jamaah Jumat. Bukan sekadar nasihat ritual, melainkan renungan yang menghubungkan iman, akal, dan masa depan.

Pada Jumat, 30 Januari 2026, Dzikir Jumat kembali menjadi ruang pembacaan arah. Suasana khidmat itu mengawali pesan tentang waktu yang tengah bergerak cepat. Syaykh mengingatkan bahwa pada paruh kedua Februari, umat Islam akan segera memasuki bulan Ramadhan. Karena itu, seluruh program Ramadhan, mulai dari tadarrus Al-Qur’an hingga kegiatan ibadah lainnya, harus disiapkan sejak dini agar berjalan tertib, terukur, dan bermakna. 

Syaykh juga menyinggung soal kalender akademik. Jika mengikuti jadwal akademik Al Zaytun, maka tidak ada libur khusus Ramadhan. Namun bila akan ditetapkan libur, penggantinya harus diatur pada bulan lain dan diputuskan melalui musyawarah. Disiplin, tegas beliau, adalah bagian dari pendidikan karakter.

Namun Dzikir Jumat siang itu tidak berhenti pada pengelolaan ibadah dan waktu. Pesan Syaykh bergerak lebih jauh: turun ke bumi, ke tanah, dan ke daun-daun kering yang selama ini sering terabaikan.

Ma’had, kata Syaykh, akan memulai program pupuk organik. Bahan bakunya sederhana: serasah daun di lingkungan sekolah dan asrama. Daun-daun tersebut akan dikumpulkan ke dalam karung, lalu diangkut menggunakan truk untuk diolah.

Dari sesuatu yang dianggap sampah, lahirlah keberkahan

Lingkungan menjadi bersih. Dan serasah itu akan diproses di unit pengolahan menjadi pupuk organik cair (POC) dan pupuk organik padat (POP) yang mudah diserap tanaman.

Tanaman yang dikembangkan pun bukan tanaman hias, melainkan tanaman pangan yang hasilnya berasal dari sawah dan kebun sendiri. Tahun ini, targetnya tegas: masuk ke produk organik murni, atau setidaknya 90 persen organik, menuju 100 persen tanpa pupuk kimia.

Syaykh menegaskan, sumber bahan pupuk organik di kampus sejatinya sangat mencukupi. Bahkan dapur menjadi bagian penting: kulit telur, air cucian beras, hingga sisa makanan akan dikumpulkan dan diolah kembali

Pupuk organik tersebut akan digunakan untuk perkebunan dengan lebih dari 50.000 pohon serta lahan padi seluas 400 bahu. Dampaknya bukan hanya ekologis, tetapi juga ekonomis.

Syaykh mengajak jamaah berhitung sederhana. Jika menggunakan pupuk kimia, satu pohon usia satu tahun membutuhkan sekitar satu kilogram pupuk. Dikalikan 50.000 pohon, lalu dikalikan harga pupuk kimia, jumlahnya sangat besar. Dengan pupuk organik, efisiensi biaya tercapai, sekaligus kesuburan tanah tetap terjaga.

Bahan tambahan pun tersedia, seperti ikan dari pelelangan. Investasi utama hanya diperlukan di awal, yakni pembangunan pabrik pengolahan. Setelah itu, biaya operasional bisa ditekan hingga tinggal sekitar 25 persen, sementara sisanya dapat dialihkan untuk kesejahteraan.

Lebih dari sekadar pupuk, organik adalah cara menata tanah

“Hari ini,” pesan Syaykh, “tanah di Indonesia banyak yang menjadi tanah mati.” Maka pertanian organik adalah jalan ihya’ul mawat yaitu menghidupkan kembali tanah yang mati. Dari tanah yang hidup, akan tumbuh berbagai tanaman. Dari tanaman, lahir kemandirian. Dari kemandirian, tumbuh kesejahteraan.

Semua itu, tegas beliau, harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Inilah wujud nyata mempertahankan tanah air, bukan dengan slogan, tetapi dengan sistem yang membuat bangsa ini mandiri dalam pangan, lingkungan, dan kehidupan.

Setelah Dzikir Jumat usai, jamaah kembali menundukkan kepala. Shalat ghaib pun dilaksanakan, dipersembahkan bagi keluarga besar civitas Al-Zaytun yang telah wafat mendahului kita. Sebuah penutup yang sunyi namun bermakna: doa bagi yang telah pergi, dan pesan tanggung jawab bagi yang masih hidup.

Dari saf masjid hingga hamparan tanah, Dzikir Jumat itu menegaskan satu hal: ibadah sejati adalah yang menghidupkan iman, manusia, dan bumi yang diwariskan kepada generasi berikutnya. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah