Friday, 28 August 2026

Mengenal Bendung Salamdarma, Infrastruktur Bersejarah Penopang Ketahanan Pangan Indramayu dan Subang

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Bendung Salamdarma yang berada di Desa Bugis Tua, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air terpenting di Jawa Barat. Dibangun pada tahun 1923 pada masa pemerintahan Hindia Belanda, bendung ini hingga kini masih menjadi tulang punggung sistem irigasi yang mengairi puluhan ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang.

Sejarah Bendung Salamdarma

Bendung Salamdarma dibangun sebagai bagian dari pengembangan sistem irigasi di wilayah Pantura Jawa Barat. Berbeda dengan bendungan yang berfungsi menampung air dalam jumlah besar, bendung memiliki fungsi utama menaikkan muka air sungai agar dapat dialirkan ke saluran irigasi. Karena itu, sejak awal pembangunannya Salamdarma dirancang untuk mendukung produktivitas pertanian di kawasan yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Hingga usianya yang telah melampaui satu abad, Bendung Salamdarma tetap beroperasi dan terus mendapatkan rehabilitasi agar mampu mengikuti kebutuhan pengelolaan air modern. Pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum terus melakukan peningkatan infrastruktur untuk menjaga keandalan bendung tersebut.

Peran Strategis bagi Pertanian

Keberadaan Bendung Salamdarma sangat menentukan keberhasilan sektor pertanian di wilayah utara Jawa Barat. Daerah layanan irigasinya mencapai sekitar 35.800 hektare lahan pertanian yang tersebar di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang. Air dari bendung ini dimanfaatkan petani untuk memenuhi kebutuhan tanam padi, terutama saat musim kemarau ketika debit sungai mulai menurun.

Dengan luas layanan tersebut, Bendung Salamdarma menjadi salah satu infrastruktur vital dalam mendukung program ketahanan pangan dan swasembada beras nasional. Ribuan petani menggantungkan keberlangsungan usaha taninya pada distribusi air dari bendung ini.

Modernisasi dan Rehabilitasi

Memasuki era modern, Bendung Salamdarma terus diperkuat melalui Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). Salah satu pekerjaan utama ialah pembangunan siphon dan sediment trap (kantong lumpur).

Siphon dibangun agar air irigasi dapat dialirkan secara lebih efisien melintasi Sungai Cipunagara menuju Saluran Induk Bugis. Sementara sediment trap berfungsi menahan endapan lumpur agar tidak menyumbat saluran irigasi. Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi distribusi air, mengurangi sedimentasi, serta memperpanjang umur layanan jaringan irigasi.

Selain itu, BBWS Citarum juga rutin melakukan pemantauan kondisi Bendung Salamdarma, khususnya menjelang musim kemarau, untuk memastikan distribusi air tetap optimal dan mengurangi risiko kekeringan di lahan pertanian.

Manfaat Bendung Salamdarma

Keberadaan Bendung Salamdarma memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat, di antaranya:

  • Menjamin pasokan air irigasi bagi sekitar 35.800 hektare sawah.
  • Mendukung peningkatan produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi.
  • Menjadi salah satu penyangga ketahanan pangan nasional.
  • Membantu pengaturan distribusi air selama musim kemarau.
  • Mengurangi potensi konflik perebutan air antarwilayah irigasi.
  • Menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sumber daya air di wilayah Sungai Citarum.

Apa yang Terjadi Jika Bendung Salamdarma Tidak Berfungsi?

Apabila Bendung Salamdarma mengalami kerusakan atau tidak berfungsi secara optimal, dampaknya akan sangat luas.

Pertama, distribusi air menuju puluhan ribu hektare sawah akan terganggu. Akibatnya, petani kesulitan memperoleh air, terutama saat musim kemarau. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan indeks pertanaman, gagal tanam, hingga gagal panen di sejumlah wilayah.

Kedua, produksi padi di Indramayu dan Subang berpotensi menurun. Mengingat kedua daerah merupakan sentra produksi beras nasional, penurunan hasil panen dapat berdampak terhadap pasokan beras dan stabilitas harga pangan.

Ketiga, sedimentasi yang tidak tertangani akan memperburuk kapasitas saluran irigasi sehingga distribusi air menjadi tidak merata. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya pemeliharaan jaringan irigasi.

Keempat, gangguan pada Bendung Salamdarma juga dapat memengaruhi ketersediaan air baku di beberapa wilayah pelayanan sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga masyarakat yang memanfaatkan sumber air tersebut.

Menjaga Warisan Infrastruktur untuk Masa Depan

Memasuki usia lebih dari 100 tahun, Bendung Salamdarma membuktikan bahwa infrastruktur yang dirancang dengan baik mampu bertahan lintas generasi. Namun, usia yang panjang juga menuntut perawatan berkelanjutan, modernisasi, serta pengelolaan yang profesional.

 

Melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan siphon, sediment trap, serta peningkatan sistem distribusi air, pemerintah berharap Bendung Salamdarma tetap menjadi penopang utama pertanian Indramayu dan Subang. Keberhasilan menjaga bendung ini bukan hanya menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga menjaga keberlangsungan produksi pangan, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan Indonesia. (Sahil untuk Indonesia)