Thursday, 14 May 2026

Tradisi Mapag Sri di Indramayu Jadi Ruang Edukasi Budaya dan Pelestarian Nilai Agraris

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu – Tradisi Mapag Sri kembali digaungkan masyarakat Kabupaten Indramayu melalui kegiatan “Sarasehan Ngaji Budaya Mundakjaya Lestari 2026” yang digelar di Balai Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus upaya menjaga warisan tradisi agraris masyarakat Jawa di tengah modernisasi pertanian. (13/5/26)

Sarasehan budaya yang berlangsung pada Senin malam, 11 Mei 2026 itu menghadirkan sejumlah budayawan, tokoh adat, dalang, hingga pegiat seni budaya Indramayu.

Diskusi berlangsung membahas nilai spiritual, filosofi tani, hingga pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat agraris.

Demang Keraton Kacirebonan sekaligus ahli manuskrip kuna, Muhamad Mukhtar Zaedin, menjelaskan bahwa tradisi Mapag Sri merupakan bentuk rasa syukur masyarakat petani atas datangnya masa panen padi.

Ia menerangkan kata “Mapag” berarti menjemput, sedangkan “Sri” berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna kemuliaan, kehormatan, dan keberuntungan.

Menurut Mukhtar, penghormatan terhadap padi merupakan simbol penghargaan terhadap sumber kehidupan utama masyarakat tani.

Ia juga menyinggung fenomena modern ketika hasil panen langsung dijual di sawah tanpa melalui tradisi penyimpanan di lumbung.

“Kalau padi langsung dijual di sawah atau ditebas, itu bukan Mapag Sri tapi mapag duit,” ujarnya disambut tawa peserta sarasehan.

Mukhtar menilai masyarakat Jawa tempo dulu memuliakan hasil panen sebagai bagian dari adat dan spiritualitas, bukan sekadar komoditas ekonomi.

Narasumber lain, keturunan ke-18 Sunan Gunungjati, Elang Panji Jaya Prawira Kusuma, menjelaskan pentingnya pemahaman guna tani atau tata waktu bercocok tanam warisan leluhur Jawa.

Ia menyebut sistem pertanian tradisional memiliki tahapan yang sarat makna mulai dari penentuan hari baik, pengolahan sawah, pengaturan aliran air, penyemaian benih, hingga prosesi tandur dan wiwitan.

Menurutnya, Mapag Sri mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Sementara itu, Ki Dalang Nur Teja dari Keraton Kanoman memaparkan filosofi alat pertanian dalam ajaran Sunan Kalijaga.

Ia menjelaskan pacul atau cangkul tidak sekadar alat kerja, melainkan simbol moral dan spiritual kehidupan manusia.

“Alat bercocok tanam sarat pesan kehidupan, mulai dari bekerja keras, tidak menjauh dari Tuhan, pantang menyerah, hingga berani menjalani tanggung jawab hidup,” katanya.

Pegiat budaya Indramayu, Karno, juga menjelaskan filosofi prosesi awal memetik padi yang dilakukan dari empat penjuru mata angin menuju titik tengah.

Tradisi tersebut menggambarkan falsafah Jawa “kiblat papat lima pancer” yang melambangkan keseimbangan hubungan manusia dengan alam, sesama, leluhur, dan Tuhan.

Dalam kegiatan itu, Ketua Dewan Kesenian Indramayu Ray Mengku Sutentra menegaskan bahwa tradisi Mapag Sri merupakan bagian penting dari Objek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Ia menyebut Dewan Kesenian Indramayu telah melakukan audiensi dengan DPRD Kabupaten Indramayu terkait dorongan penerbitan Peraturan Daerah tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menurut Ray, DPRD Komisi II telah menyatakan kesiapan mendorong terbitnya perda tersebut pada tahun 2026 sebagai pijakan hukum pelestarian budaya daerah.

Kegiatan sarasehan juga dihadiri Kuwu Desa Mundakjaya Hj. Dariah, Camat Cikedung Dadang Supriatna, tokoh ulama, perangkat desa, hingga masyarakat setempat.

Acara turut dimeriahkan berbagai penampilan seni budaya pelajar dan pameran edukasi Tosan Aji dari Paguyuban Astadharma Kabupaten Indramayu.

Panitia berharap kegiatan budaya tersebut dapat memperkuat kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian sekaligus menjaga identitas budaya lokal Indramayu di tengah perubahan zaman.

(Amri-untuk Indonesia)