Sunday, 10 May 2026

Indramayu Siapkan 14 Ribu Hektare Kawasan Industri

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu — Pemerintah Kabupaten Indramayu mulai mempercepat pengembangan sektor industri, energi, dan infrastruktur guna memperkuat daya saing daerah dalam Kawasan Rebana. Sebanyak 14.110 hektare lahan kawasan industri telah disiapkan sebagai bagian dari strategi menarik investasi baru di wilayah Pantura Jawa Barat. (10/5/26)

Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya persaingan antarwilayah di Kawasan Rebana, terutama dengan daerah yang lebih dahulu berkembang seperti Subang dan Majalengka.

Bupati Indramayu, Lucky Hakim, mengatakan daerahnya memiliki kekuatan strategis pada sektor energi dan pertanian yang dinilai mampu menjadi fondasi utama pertumbuhan industri jangka panjang.

Menurutnya, keberadaan Kilang Balongan serta luasnya kawasan pertanian menjadi modal penting dalam mendukung posisi Indramayu sebagai kawasan penyangga industri baru di Jawa Barat bagian utara.

“Indramayu tidak hanya berbicara industri manufaktur, tetapi juga energi dan ketahanan pangan. Ini yang sedang kami dorong agar bisa saling menopang,” ujar Lucky.

Kawasan Rebana sendiri merupakan proyek pengembangan ekonomi baru di Jawa Barat yang mencakup tujuh daerah. Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pertumbuhan industri baru di luar kawasan metropolitan Bandung dan Bekasi-Karawang.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemkab Indramayu menetapkan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) seluas 14.110 hektare melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2024–2044.

Dari total kawasan yang disiapkan, sekitar 3.340 hektare telah dimanfaatkan untuk aktivitas industri, sedangkan sisanya masih tersedia bagi pengembangan investasi baru.

Pemerintah daerah menilai ketersediaan lahan menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan investasi antarwilayah di Rebana. Namun demikian, Indramayu masih menghadapi tantangan pada sektor konektivitas dan akses logistik.

Karena itu, pembangunan Jalan Tol Indramayu–Kertajati atau Indrajati mulai didorong sebagai proyek prioritas daerah. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu mempercepat akses menuju Bandara Internasional Kertajati sekaligus menghubungkan kawasan industri Indramayu dengan jalur logistik nasional.

Selama ini keterbatasan akses menuju ruas Tol Cipali dinilai menjadi hambatan distribusi barang dan mobilitas tenaga kerja menuju kawasan industri lain di Rebana.

Selain fokus pada infrastruktur, Pemkab Indramayu juga menempatkan sektor energi sebagai daya tarik utama investasi. Keberadaan Kilang Balongan dinilai memiliki posisi strategis karena berpotensi berkembang menjadi pusat industri petrokimia dan hilirisasi energi nasional.

Beberapa wilayah industri juga mulai dipetakan sesuai karakter kawasan masing-masing. Losarang diarahkan untuk pengembangan industri umum, Balongan untuk sektor energi dan petrokimia, sedangkan Krangkeng diproyeksikan menjadi sentra industri alas kaki.

Meski mendorong industrialisasi, pemerintah daerah memastikan sektor pertanian tetap dipertahankan sebagai basis ekonomi masyarakat. Lahan sawah yang masuk kategori Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) disebut tidak akan dialihfungsikan secara sembarangan.

Lucky menegaskan keseimbangan antara pertumbuhan industri dan perlindungan lahan pangan menjadi tantangan utama pembangunan daerah ke depan.

“Pertumbuhan industri tetap harus berjalan beriringan dengan perlindungan pertanian,” katanya. (Amri-untuk Indonesia)